Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Jalan-jalan


"Pakai ini??"


Adam memakaikan topi pada Raisa. Hari ini dia akan mengajak Raisa berkeliling perkebunan meski masih menggunakan kursi roda.


Meski Raisa bilang jika dia sudah kuat tapi Adam tidak mau mengambil resiko jika terjadi apa-apa lagi dengan kandungan istrinya. Jadi Adam memaksa Raisa untuk duduk di kursi rodanya.


"Harusnya jalan lebih enak Mas"


"Enggak, nanti kamu capek" Adam mulai mendorong istrinya melewati jalan di tengah perkebunan yang sudah di lapisi dengan semen itu.


Raisa melihat ke kiri dan kanannya, memperhatikan berbagai macam sayuran yang di tanam di sana.


"Kalau yang di tanam di green house itu apa aja Mas??" Tunjuk Raisa pada bangunan yang di buat dari plastik bening agak jauh darinya itu.


"Kalau yang di dalam sana, itu pakai metode hidroponik. Ada melon, strawberry, tomat, semangka dan melon. Sayur juga ada selada dan juga pakcoy. Nanti kita lihat juga ya??"


Raisa mengangguk semangat, baru kali ini dia bisa melihat secara langsung tanaman buah yang begitu ia sukai yaitu melon dan strawberry.


"Tapi buahnya ada kan Mas?? Ica mau petik strawberry sendiri. Sampai umur Ica segini, Ica belum pernah loh petik buah sendiri" Raisa mendongak menatap Adam di belakangnya.


"Ada nggak ya?? Kayaknya sekarang belum saatnya panen deh yank, coba nanti kita lihat aja ya??"


Binar pada mata Raisa langsung surut karena sepertinya impiannya untuk makan buah langsung dari pohonnya sudah pupus.


"Jangan sedih gitu dong, kan Mas juga belum tau ada apa enggaknya. Siapa tau ada"


"Bisa juga enggak kan?? Ya udah deh, nggak udah berekspektasi terlalu tinggi. Biar nggak kecewa nantinya" Adam menggigit bibirnya untuk menahan tawanya karena melihat raut muka Raisa yang sudah tidak lagi berseri-seri seperti tadi.


"Pagi Mas Adam, pagi Non"


Sapa beberapa pegawai perkebunan yang sedang membersihkan rumput di antara tanaman wortel.


"Pagi Bu. Ini istri saya, namanya Raisa" Adam memperkenalkan istrinya itu dengan bangga pada para pegawainya yang kebanyakan wanita paruh baya itu.


"Pagi Bu, salam kenal. Dan saya minta jangan panggil Non ya" Sapa Raisa dengan ramah.


"Iya Mbak, selamat datang di perkebunan Mas Adam. Mbak Raisa cantik sekali"


Raisa tersipu mendengar pujian untuknya itu. Memang di mata ibu-ibu itu, Raisa begitu bening dengan kulit putih bersih, rambut panjang sepinggang, serta pahatan wajahnya yang indah.


"Ibu-ibu bisa saja, istri saya jadi malu kan. Saya jalan lagi ya Bu. Kalau lelah, istirahat saja, jangan dipaksakan"


"Iya Mas Adam" Jawab mereka kompak mengiringi Ada yang kembali mendorong kursi roda Raisa.


"Kenapa yang kerja di sini kebanyakan ibu-ibu paruh baya sih Mas??"


"Kalau yang muda-muda, mana mau mereka kerja di kebun kaya gini yank. Lagi pula, mereka itu bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka"


"Di saat di luar sana banyak yang memilih pekerja yang muda, yang fresh graduate, yang katanya kalau masih muda lebih serius dalam bekerja, Mas lebih memilih seperti mereka itu"


"Mereka datang dengan harapan bisa mendapatkan uang demi menyambung hidup, untuk membayar sekolah anaknya, atau juga membantu suaminya mencari uang. Mereka malah lebih sungguh-sungguh bekerja karena memiliki beban yang harus mereka tanggung. Bukan seperti anak muda yang baru lulus, mereka belum memikirkan anak atau suami. Jadi bisa saja mereka bekerja untuk kesenangan saja"


Raisa mengangguk paham dengan pikiran suaminya itu.


Cerita dari Adam tak terasa telah membawa Raisa ke depan green house yang tadi di lihatnya dari kejauhan.


"Ayo turun" Adam membantu Raisa yang harus turun karena kursi rodanya tidak bisa di bawanya masuk ke dalam green house.


Adam menggenggam tangan Raisa dengan erat namun terasa lembut. Menuntun istrinya masuk ke dalam kebun buah dengan sangat hati-hati.


"Waaahhhhhh...." Raisa menatap kagum apa yang ada di depan matanya.


Buah strawberry siap panen yang berukuran besar dan berwarna merah menggantung bergumul begitu banyak.


"Loh siapa yang bohong?? Kan Mas cuma bilang kalau sekarang bukan saatnya panen. Berarti bisa besok atau lusa"


"Ck, ngeles aja!!" Raisa melepaskan tangan ya dari Adam, lalu berjalan di sela pohon stroberi di kiri dan kananya.


"Boleh petik kan Mas??"


"Boleh dong, mau kamu petik semuanya juga boleh kok yank. Ini semua juga milik kamu"


"Nggak ah, ntar rugi banyak dong. Mending di jual" Raisa bisa membayangkan pundi-pundi yang akan dia dapat kalau menjual seluruh strawberry sebanyak itu.


"Ya maksud Mas juga itu. Kamu petik semua terus di jual, itung-itung meringankan pekerja di sini karena udah kamu bantuin"


"Maaassss!!!" Kesal Raisa.


Adam hanya bisa menertawakan istrinya itu dengan renyah. Rasanya puas sekali melihat wajah Raisa berubah masam seperti tadi.


Raisa telah memetik beberapa strawberry yang ukurannya besar menurutnya.


"Jangan yank!!" Cegah Adam saat Raisa ingin menggigit buah menyegarkan itu.


"Kenapa??"


"Di cuci dulu dong yank, mana Mas cucikan" Adam mengambil buah itu dari tangan Raisa.


"Loh kenapa?? Katanya buah dan sayur di sini nggak pakai pestisida sama sekali. Jadi aman dong Mas" Raisa sudah mendamba buah strawberry yang tinggal beberapa senti saja dari mulutnya malah sekarang di minta Adam.


"Iya emang benar, tapi tetap aja harus di cuci karena masih banyak kumannya. Apalagi kamu lagi hamil, hati-hati kalau makan makanan apapun"


Raisa mengangguk lalu membiarkan Adam menjauh mungkin mencari air.


Dan tak lama kemudian pria itu sudah kembali dengan strawberry yang sudah bersih dan di masukkan ke dalam keranjang kecil yang lucu.


"Ini, sekarang boleh kamu makan"


"Yeee, makasih Mas" Raisa kembali berbinar seperti tadi.


Kres....


Raisa mulai mengigit strawberry yang terlihat renyah karena mengandung banyak air itu membuat Adam ikut menelan ludahnya. Apalagi melihat bibir Raisa yang terus mengunyah itu, rasanya Adam ingin berada di dalam sana, ikut berbaur dengan strawberry itu untuk di kunyah oleh Raisa.


"Yank??"


"Hemm??" Raisa menoleh pada Adam dengan strawberry yang masih menempel di bibirnya karena dia baru saja menggigitnya.


Cup...


Adam justru melahap strawberry yang ada di bibir Raisa tanpa menjauhkan wajahnya lagi. Dalam jarak yang begitu dekat, bahkan dahi mereka pun saling menempel, Adam mengunyah strawberry yang rasanya berkali-kali lebih manis jika di makan dari bibir Raisa.


"Manis" Gumam Adam.


Tak adanya respon dari Raisa membuat Adam menjadi semakin gemas. Istrinya itu tampak mematung menatapnya dengan begitu dalam.


"Yank" Tegur Adam dengan suara yeng berbisik.


Cup...


Kini Adam yang di baut terkejut setengah mati, karena kini Raisa yang lebih dulu menciumnya.


Tapi keterkejutan Adam itu tak berselang lama, dia dengan mudah mengendalikan diri. Adam justru memejamkan mata, meraih tubuh Raisa mendekat dengan menarik pinggangnya agar lebih dekat.


Mereka berdua hanyut dalam pautan demi pautan yang memabukkan tanpa merasa malu karena di dalam sana hanya ada mereka berdua.