Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Pening


Mengabaikan semua pekerjaannya yang menumpuk, sejak tadi pagi Raisa justru terus memijat kepalanya yang terasa berat dan pening. Bahkan dia juga beberapa kali mengabaikan Adam yang beberapa kali memanggilnya untuk datang ke ruangannya.


Rasanya sudah malas melakukan apapun termasuk memikirkan pekerjaan yang seharusnya ia selesaikan hari ini juga.


"Bu Raisa kok pucat banget, sakit ya??" Gaby mendekati meja Raisa, melihat kondisi istri Bosnya itu.


"Cuma pusing aja" Raisa menyadarkan kepalanya, matanya yang tak kuat melihat sekitarnya terus berputar-putar akhirnya memutuskan untuk terpejam.


"Saya belikan obat ya?? Atau saya bilang Pak Adam dulu biar di antar ke rumah sakit??"


"Jagan!! Nanti juga hilang sendiri kok" Lagipula Raisa tidak mau mengganggu Adam, Raisa tau pria itu sedang sibuk di dalam sana.


"Tapi Bu..."


"Sudah, kamu kembali saja ke mejamu" Raisa sebenarnya risih dengan Gaby, wanita yang sering menunjukan ketertarikan pada suaminya itu.


Padahal jika Raisa tak mempunyai perasaan apapun pada Adam, seharusnya Raisa bersikap biasa saja pada Gaby.


"Raisa, ikut saya keluar sebentar!!"


Raisa langsung membuka matanya karena tiba-tiba Adam sudah ada di depan mejanya.


"Kemana Pak??"


"Ikut saja!!" Setelah itu Adam langsung berbalik pergi keluar. Sementara Raisa dengan menahan sakit pada kepalanya, berlari mengejar Adam setelah menyambar tas dan ponselnya begitu saja.


"Mau kemana sih sebenarnya?? Perasaan nggak ada jadwal keluar deh hari ini"


Bug...


"Aww!!"


Kening Raisa menabrak sesuatu yang keras di depannya. Kepalanya rasanya ingin pecah saat ini juga. Sudah pening di tambah lagi terbentur.


"Kalau jalan lihat ke depan makanya" Omel Adam karena ternyata yang di tabrak Raisa adalah dada bidang Adam.


"Maaf nggak lihat" Lirih Raisa masih memegang kepalanya.


"Kamu sakit??"


Raisa di buat membeku saat tangan Adam tiba-tiba menyentuh kening juga rahangnya. Mungkin maksud Adam itu baik karena ingin memastikan suhu badan Raisa, tapi sungguh itu tidak baik hati Raisa.


"E-nggak kok"


"Sejak kapan gue bisa segugup ini di tatap dia"


"Enggak gimana?? Kamu pucat kaya gini"


Raisa langsung memalingkan wajahnya ketika Adam ingin menyentuh bibirnya yang pucat. Raisa berusaha menyelamatkan jantungnya sendiri.


"Mungkin karena lapar aja" Jawab Raisa asal, tapi dia memang merasa lapar. Perutnya seperti di aduk-aduk dan mual.


"Ya udah, sekarang kita makan dulu"


"Tapi sebenarnya kita mau kemana??" Raisa masih belum tau tujuan Adam mengajaknya keluar.


"Ketemu klien baru, tapi kita makan dulu aja"


Adam dan Raisa sudah duduk di restoran sesuai dengan yang Raisa inginkan. Restoran yang menyediakan berbagai menu khas betawi. Entah mengapa Raisa tiba-tiba ingin makan soto betawi siang hari begini. Makanan berkuah yang terus membuat Raisa menelan ludahnya saat membayangkannya.


"Silahkan Pak, Bu"


"Makasih ya"


Soto betawi yang Raisa inginkan sudah ada di depannya. Bentuk makanan, kuah dan juga wanginya sesuai dengan harapan Raisa. Perutnya yang sudah terasa kosong itu seolah memerintahkan tangannya untuk segera menuangkan semangkuk soto betawi itu ke dalam perutnya.


Sruuppp...


Baru saja Raisa mencicipi kuahnya, tiba-tiba perutnya terasa bergejolak.


"Emmbbb" Raisa membungkam mulutnya lalu berlari ke toilet.


"Kamu kenapa Sa?? Sa!!" Adam mengejar Raisa yang tiba-tiba berlari ke toilet. Namun tampaknya usahanya itu akan sia-sia karena nyatanya dia tertahan di depan pintu toilet.


Adam tidak bisa mendengar apa yang terjadi di dalam sana pada Raisa. Namun di lihat dari raut wajahnya, Adam terlihat khawatir dengan keadaan istrinya itu.


"Hoekk.. Hoekk.."


Raisa terus mencoba mengeluarkan isi perutnya yang kosong itu. Meski hanya keluar cairan saja dari mulutnya, namun perut Raisa masih terasa di aduk-aduk di dalam sana.


Badannya menjadi lemas karena terus mencoba memuntahkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada di dalam sana.


Raisa memandang wajahnya yang pucat pada cermin di depannya.


"Sebenarnya gue kenapa sih??"


Jika keracunan makanan, rasa tidak mungkin karena Raisa tidak memakan yang aneh-aneh. Di rumah tadi juga Raisa hanya sarapan dengan sandwich serta segelas susu, sama dengan yang Adam makan. Namun pria itu terlihat biasa saja tak ada gejala appun.


Kalau maagnya kambuh juga tidak mungkin karena Raisa sudah sarapan tadi pagi.


"Mbak, Mbak tidak papa kan??" Seorang wanita tiba-tiba datang menanyakan keadaan Raisa, sedangkan Raisa tidak mengenalnya sama sekali.


"I-iya saya nggak papa" Bukan gugup tapi Raisa merasa canggung.


"Kalau gitu cepat keluar Mbak, suaminya udah nunggu di luar. Kelihatan khawatir banget tapi nggak bisa masuk makanya nyuruh saya untuk melihat keadaan Mbak"


"Iya Mbak, bentar lagi saya keluar. Makasih ya"


Perempuan itu hanga mengangguk lalu keluar dari toilet. Sementara Riasan tak menyangka jika Adam mengejarnya sampai ke toilet. Pipinya mendadak memanas dan jantungnya mulai berdebar-debar.


"Mas" Panggil Raisa karena Adam berdiri membelakangi pintu toilet.


"Sa, kamu nggak papa?? Kamu kenapa??" Adam memegang kedua bahu Raisa dan menatap wajah pucat Raisa dengan begitu lekat.


"Nggak papa, cuma pusing aja terus tiba-tiba mual" Jelas Raisa pada Adam karena memang itu yang ia rasakan saat ini.


Adam mengernyitkan keningnya, seperti memikirkan sesuatu.


"Kamu nggak hamil kan Sa??"


Deg....