Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Hanif KWnya Adam


Raisa turun dari mobil dengan di bantu oleh suami tercintanya. Suami yang benar-benar memberikan perhatian ekstra selama dia hanya bisa terbaring di atas ranjang.


Senyum cerah terlihat dari bibir keduanya. Seakan baru saja mendengar kabar yang membahagiakan bagi mereka.


"Pie Nduk?? Hasile apik to??" Mbah Welas dan yang lainnya menyambut kedatangan mereka dengan rasa penasaran yang tinggi tentang keadaan Raisa saat ini.


"Alhamdulillah Mbah, sekarang sudah boleh turun dari tempat tidur. Nggak kaya kemarin lagi, Raisa udah suntuk di kamar terus-terusan"


"Tapi Raisa harus tetap belum boleh beraktifitas berat Mbah" Sambung Adam dengan posesif. Pria itu sekarang menjadi over protektif pada istrinya itu.


"Kalau itu yo jelas, pokonya kamu harus jaga baik-baik calon ponakan Mbak ini ya Sa" Yuli mengusap perut buncit itu dengan lembut.


Sebenarnya terbesit juga di dalam hatinya, kalau dia ingin merasakan hamil seperti Raisa. Tapi sekarang Yuli lebih legowo, dia menyerahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa. Dia menganggap semua itu adalah takdir yang harus ia terima meski ada juga rasa ingin memiliki seorang anak.


"Iya Mbak"


"Ayo masuk dulu, Mbak sudah siapkan makan siang buat kita semua"


Yuli yang pintar memasak itu telah menyiapkan berbagai macam masakan di gazebo samping rumah. Mereka akan makan siang di sana sambil menikmati pemandangan perkebunan yang luas itu.


"Kalian sudah pulang??" Tanya Widodo yang baru tiba di sana dengan mengibaskan topinya untuk mengipasi wajahnya yang berkeringat itu.


"Baru saja Mas, ayo makan siang dulu. Kamu juga Nif, ayo ikut makan sekalian" Ajak Adam pada pria yang datang bersama Widodo.


"Nggak udah Mas, nanti saya makan siang bareng yang lain aja" Tolak Hanif dengan sopan.


"Nggak papa, ayo gabung aja" Paksa Adam membuat Hanif tak enak.


Dan tentunya, bergabungnya Hanif di sana membuat Stevi begitu bahagia.


Meski beberapa hari yang lalu, dia sempat di buat kecewa karena Hnaif yang memilih menerima minuman dari Fany, tapi Stevi sudah menganggapnya angin lalu saja. Dia hanya menganggap jika itu tantangan baginya untuk manekin giat meluluhkan hati Hanif.


"Stev!! Ayo ambil!!"


Stevi tersentak karena suara Raisa. Kini dia merasa malu karena piring yang neraka pegang telah terisi semua. Hanya tinggal dirinya yang belum mengambil makanan karena terlalu fokus pada pria tampan pencuri hatinya.


"Eh, i-iya" Kegugupan Stevi itu membuat kedua sahabatnya tertawa. Karena mereka tau kalau sejak tadi Stevi tak henti-hentinya memandangi Hanif.


Semuanya mulai menikmati makan siang mereka yang di selingi dengan obrolan ringan. Kadang juga mereka tertawa dengan lelucon yang di keluarkan Widodo.


"Mas Hanif mau tambah lagi??"


Hanif langsung melihat ke semua orang yang ada di sana. Merasa tak enak karena mendapat tawaran dari Stevi sementara semua orang belum menghabiskan makanan mereka.


"Tambah aja Hanif, Mbak masak banyak kok"


"Makasih Mbak, ini udah cukup kok"


Hanif sama sekali tak melirik pada Stevi. Dia sudah terlalu kesal dengan wanita itu. Menurutnya, Stevi telah berhasil membuatnya malu di hadapan semua orang.


"Mbah, Mas Adam dan semuanya, makasih untuk makan siangnya. Saya permisi dulu"


Hanif yang sudah kehilangan muka telah menghabiskan makanannya dengan cepat. Dia pun undur diri dari sana dan lagi-lagi tanpa melihat Stevi yang sejak tadi memperhatikannya.


"Kamu beneran suka sama Mas Hanif??" Tanya Raisa yang melihat Stevi yang masih melihat ke arah perginya Hanif.


Raisa sengaja bicara dengan halus pada Stevi karena berada di depan Mbah welas dan yang lainnya.


"Emm, salah nggak sih kalau suka sama dia??" Stevi sedikit malu mengakui perasaanya.


"Ya nggak salah dong, namanya hati kan nggak bisa memilih mau suka sama siapa. Yang penting harus serius, jangan main-main" Sahut Yuli.


"Stevi serius Mbak" Jawab Stevi dengan yakin.


"Beneran Sa, tadi dia udah bilang, rela tinggal di sini atau di manapun asal sama Mas Hanif" Kini Fany tak mau kalah mengatakan apa yang tadi dia dengar sendiri.


"Hehe ya gitu deh" Stevi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Nggak papa Nduk, Hanif itu orangnya baik, ndak neko-neko. Sudah tiga tahun dia kerja di sini, dan Mbah sudah lumayan mengenalnya"


Stevi semakin senang karena menurutnya Mbah Welas dan lainnya mendukung perasaannya kepada Hanif.


"Kalau gitu, boleh nggak aku minta nomor teleponnya Mas Hanif?? Kalau minta sama orangnya langsung pasti nggak boleh"


"Boleh, nanti Mas Dodo kasih" Sahut Widodo yang sejak tadi diam menyimak.


"Yes!! Makasih semuanya"


"Girang bener" Cibir Riasa.


"Biarin, kamu kan udah dapat Mas Adam. Jadi nggak salah dong kalau aku dapat KWnya??" Jawaban Stevi membuat Mbah Welas menatapnya penuh tanya.


"KW kui opo?? TKW maksudnya?? Bukan, Hanif bukan TKW" Stevi hanya meringis tak tau harus bagaimana menjelaskan pada Mbah Welas. Sementara lainnya justru tertawa lepas seusai makan siang itu.


Hari sudah berganti sore, Adam dan Raisa kini berada di kamarnya. Duduk di depan jendela besar yang membuat mereka bisa leluasa memandangi matahari yang mulai menyingsing di ufuk sana.


Adam duduk di samping istrinya dengan satu tangannya yang bertengger indah di pinggang Raisa. Memeluk Raisa dengan begitu posesif seakan tak rela berjauhan sedikitpun. Sementara Raisa menjadikan bahu Adam sebagai sandaran kepalanya.


"Yank??"


"Hemm??"


"Mas masih nggak nyangka kala kita bisa duduk berdua kaya gini"


"Sama, aku juga Mas"


"Kita emang nggak bakalan tau ya, gimana Allah merencanakan takdir kita"


"Iya, Allah kayaknya nggak mau kita bersatu dengan cara mudah. Allah menguji kekuatan cinta kita dulu. Alhamdulillahnya, kita bisa melewatinya sampai akhirnya kita berada di titik ini"


Cup...


Adam mengecup kening Raisa dengan mesra. Menghirup aroma shampo yang manis dan menyegarkan itu.


"Mas bersyukur bisa memiliki kamu, wanita yang Mas cintai dari dulu" Raisa mendongak menatap mata Adam yang begitu teduh ketika menatapnya.


"Gimana ceritanya Mas bisa jatuh cinta sama aku, padahal kan dulu aku masih bocil dan Mas udah dua puluh satu tahun"


Adam terkekeh sendiri, dia juga geli mengingat dirinya yang jatuh cinta pada anak lima belas tahun.


"Kaya pedofil nggak sih??" Lanjut Raisa membuat Adam terbelalak.


"Enak aja suami sendiri di bilang pedofil!!" Adam tak terima dengan tuduhan Raisa itu.


"Ya habisnya Mas suka sama bocil"


"Tapi waktu itu kamu nggak kaya bocil kan yank, umur kamu aja yang kecil tapi badan kamu itu tinggi dan bodynya bagus. Jadi nggak kelihatan kalau masih di bawah umur"


Raisa melepaskan diri Adam dan menatap tajam ke arah suaminya.


"Oh jadi yang buat Mas jatuh cinta sama aku itu, karena badan aku yang bagus aja, iya??"


Adam yang mencium aroma tak mengenakan dari mata dan juga ucapan Raisa membuatnya merutuk bibirnya sendiri.


"A-ampun sayang, b-bukan itu maksud Mas"