Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Tidak benar-benar cinta


Beberapa hari berlalu, hubungan Raisa dan Adam semakin membaik. Raisa yang tak lagi ketus juga lebih perhatian pada Adam membuat Adam tampak bahagia.


Tidak ada yang tau apa yang di rasakan Adam saat ini. Tapi wajahnya yang begitu cerah juga bibirnya yang lebih sering tersenyum harusnya sudah bisa menjadi penanda bahwa dia begitu bahagia.


Kehamilan Raisa juga sudah mulai menginjak trimester ke dua. Mual muntah sudah jarang Raisa rasakan. Namun perubahan pada bentuk tubuh Raisa mulai kentara. Seperti perutnya yang mulai membuncit, juga pipinya yang semakin berisi.


Tapi itu semua tidak menghentikan Raisa sebagai seorang istri yang sedang belajar berbakti kepada suaminya.


Meski Raisa sudah di larang masuk ke dapur, juga untuk mengerjakan pekerjaan berat. Namun Raisa tetap melayani Adam dengan baik. Semua kebutuhan Adam juga Raisa yang menyiapkan.


"Kita jalan yuk Sa"


Raisa langsung mengabaikan ponsel yang sejak tadi di tangannya untuk menatap Adam. Dia merasa aneh saja, karena baru kali ini Adam mengajaknya jalan berdua.


"Tumben"


Adam yang sebenarnya telah siap dengan celana jeans dan juga t-shirt slim fit andalannya hanya tersenyum lalu mendekat pada Raisa. Sepertinya ada magnet yang sangat kuat dari Raisa sampai membuat Adam ingin selalu mendekat pada Raisa.


"Kamu kan setiap hari bantuin Mas di kantor. Udah nggak kaya dulu lagi yang bisa jalan-jalan tiap hari"


Raisa tampak berpikir tapi namun kemudian mengangguk dengan seulas senyum cantiknya.


"Oke, tapi traktir makan sushi ya??"


Adam langsung menggeleng dengan keras, menolak permintaan istrinya itu dengan tegas.


"Nggak boleh, kamu lagi hamil Sa. Nggak boleh makan makanan yang masih mentah. Bahaya buat anak kita karena mengandung bakteri salmonella"


Raisa langsung mencelos, dia sebagai calon Ibu malah tidak tau apa-apa termasuk tentang hal itu. Dia terlihat bodoh skali saat ini.


"Maaf aku nggak tau, tapi aku pingin banget makan sushi Mas" Raisa merengek manja, bahkan buliran air mata mulai membasahi pipinya.


Raisa juga tidak mau menyakiti calon anak mereka tapi membayangkan makanan khas Jepang itu sudah membuatnya menelan ludahnya berkali-kali.


"Hey, kenapa nangis?? Ini anak kita yang minta ya??" Adam meraih wajah Raisa yang menunduk.


"Nggak tau, tapi aku pingin banget"


Adam kasihan tapi juga ingin tertawa melihat istrinya yang semakin sesenggukan itu.


"Ya udah ayo kita makan sushi, tapi nanti minta yang nggak mentah ya??"


Seperti baru saja tak terjadi apa-apa, wajah Raisa langsung berubah cerah dengan menunjukkan deretan giginya yang rapi. Air mata di pipinya saja masih basah tapi wanita itu sudah tersenyum senang.


Adam saja sampai heran melihat perubahan istrinya yang begitu drastis itu.


Adam pikir menunggu Raisa berdandan tak akan butuh waktu lama. Karena biasanya Raisa juga tidak pernah selama tadi saat bersiap ke kantor. Tapi nyatanya, Raisa merias wajah dan memilih bajunya saja membutuhkan waktu dua jam.


Tapi dengan sangat sabar dan tanpa merasa bosan sedikitpun, Adam menunggu Riasan yang tampak bingung dengan penampilannya sendiri.


Adam hanya bisa menahan senyumnya saat Raisa menggerutu dengan kesal karena menurutnya bajunya mulai sempit, wajahnya yang kusam, timbul, jerawat atau yang lainnya. Padahal menurut Adam tidak ada yang berubah pada kulit dan wajah Raisa. Justru dimatanya, Raisa semakin cantik sejak kehamilannya.


Namun Adam maklum karena menurutnya, emosi Raisa yang berubah-ubah itu akibat dari kehamilannya. Tak mungkin Adam akan memarahi Raisa di saat seperti ini. Adam malah gemas sendiri dengan istrinya itu.


"Mas, malu di liatin orang banyak. Lepas ya tangannya??" Sejak tadi Raisa merasa risih dengan tatapan orang-orang di sekitarnya. Sejak masuk ke dalam mall tadi, mata mereka semua terus tertuju pada tangan Raisa yang selalu di genggam Adam.


Apalagi mereka semua tentu saja mengenal pasangan yang terlihat mesra meski belum lama diterpa berita tak sedap itu.


Raisa tak habis pikir dengan sikap acuh tak acuh Adam itu.


"Dasar nggak tau malu" Gumam Raisa.


"Dosa kalau ngatain suaminya"


Raisa tersentak karena ternyata Adam mendengar suaranya.


"Ternyata selain bisa baca pikiran orang kaya dukun, telinga kamu awas juga ya??" Sarkas Raisa membuat Adam terkekeh.


"Ada ya orang di hina malah ketawa?? Aneh ni orang"


"Kamu belum tau aja keahlian Mas yang lain" Adam menyombongkan diri.


"Apa??"


"Bikin kami jatuh cinta sama aku" Bisik Adam langsung membuat Raisa melengos.


"Nggak lucu!!"


"Ya emang nggak lucu, kan Mas serius"


"Lagi nggak mau bercanda!!" Raisa mempercepat langkahnya memasuki restoran Jepang yang menjadi tujuannya.


"Mas serius Sa" Adam sedikit berteriak namun tidak di gubris sama sekali oleh Raisa.


"Lucu banget Ibu dari anakku ini" Mungin jika Raisa mendengar apa yang Adam katakan ini, dia akan langsung pingsan saat ini juga.


"Mau nambah lagi nggak??" Tanya Adam pada Raisa yang masih mengunyah suapan terakhirnya.


Raisa hanya mampu menggeleng karena memang perutnya sudah tak mampu lagi menampung makanan. Enam piring di depannya sudah kosong semua karena isinya telah berpindah ke perut Raisa.


"Ya udah, tapi habis ini kemana lagi?? Mau nonton apa ke salon??"


"Emang Mas mau temenin aku ke salon??" Raisa ingat jika dia terakhir ke salon adalah saat sebelum malam kelam itu.


"Kamu nggak mau Mas temenin??"


"Bukan gitu, tapi kan di salon lama. Dulu aja Rio sama mantan-mantan aku nggak akan mau kalau nemenin aku ke salon" Tanpa sengaja bibir Raisa mengeluarkan kata-kata yang tak seharusnya ia keluarkan di depan Adam.


Adam tersenyum miris pada Raisa, sebelum mengeluarkan satu kalimat yang membuat Raisa takut menyimpulkannya sendiri.


"Ya karena mereka nggak benar-benar cinta sama kamu, makanya mereka nggak mau"


"M-maksudnya??" Pikiran Raisa sudah menafsirkan sendiri.


"Nggak ada, Mas ke toilet dulu"


Adam meninggalkan Raisa dengan senyuman misteriusnya.


Sementara Riasan masih terus menatap Adam yang menjauh darinya.


"Maksudnya apa?? Kalau mantan gue nggak mau nungguin gue nyalon, itu karena mereka nggak benar-benar cinta sama gue. Jadi kalau dia mau nungguin gue berarti...?? Ah enggak-enggak, jangan ge er dulu Sa!!"