
Tiga orang yang saling bersekutu itu tampak begitu bahagia karena menurut mereka, rencana yang mereka susun berjalan dengan sempurna. Tahap demi tahap yang mereka lalukan untuk menghancurkan Satya melalui anak dan menantunya berjalan dengan lancar.
Pesan-pesan yang selama ini di terima oleh Raisa tentu bisa di tebak siapa pelakunya. Sandi dan Aryo adalah otak dari semua itu, sementara Rio bertugas untuk memantau keadaan. Tentu saja tidak berani lebih dekat dengan Raisa karena akan menimbulkan kecurigaan besar untuk Adam. Karena menurut Rio, Adam termasuk orang yang sangat jeli, jadi dia harus pandai-pandai mengatur strategi.
Tapi tanpa Adam dan Raisa ketahui, Rio telah memasukkan orang kepercayaannya ke dalam perusahaan Satya. Yang akan menjadi mata-matanya untuk mengawasi setiap gerak gerik Adam dan Raisa.
Sungguh licik memang, mereka telah menggunakan berbagai macam cara untuk melumpuhkan Satya. Juga Sandi yang berambisi untuk menguasai harta Kakaknya.
Orang-orang seperti mereka tidak akan pernah menyerah sebelum tujuan mereka tercapai. Tidak peduli jika perbuatan mereka akan menyakiti hati orang lain.
"Tinggal sedikit lagi, kita hanya perlu memanfaatkan Raisa untuk menyingkirkan budak itu. Dengan bukti-bukti yang kita kirimkan itu, aku yakin kalau Raisa mudah sekali di pengaruhi. Mereke boneka sekaligus tumbal untuk kita"
"Benar Om, mengingat betapa bencinya Raisa pada Adam. Dari dulu memang Raisa terus menuduh Adam ingin merebut semua hartanya" Rio menimpali ucapan Sandi.
"Itu bagus, karena tanpa dia sadari itu menguntungkan buat kita" Kini Aryo ikut bersuara sambil menghisap rokoknya yang terus saja mengepul dari tadi.
"Ya, memang itu keuntungan buat kita. Tanpa harus susah payah, anaknya sendiri yang akan menghancurkan Satya Wicaksana" Sandi menatap lurus ke depan dengan bengis. Harta dan kekuasaan tampaknya sudah menguasai hatinya hingga tak ada lagi tali kasih sayang antara dirinya dan Kakaknya sendiri.
"Tapi ingat, setelah semuanya bisa kau dapatkan. Kau jangan lupa mendukung ku dalam dunia politik. Aku butuh penyokong yang besar dari perusahaan besar agar namaku semakin naik setelah ini" Aryo tidak ingin usahanya sia-sia dan di khianati oleh Sandi. Dia tau jika dalam namanya bisnis tidak ada yang namanya saudara. Mereka tentu memikirkan dirinya sendiri. Namun Aryo telah banyak membantu Sandi, jadi Aryo tidak akan terima jika Sandi lepas tangan begitu saja.
"Tenang saja, aku tidak akan ingkar janji" Sandi meneguk meneguk minuman yang membuat lehernya terasa panas namun membuatnya ketagihan dari gelas yang sejak tadi di genggamnya.
"Tapi, ada yang aku sesali Om"
"Apa??" Sandi melirik Rio. Anak muda yang sebenarnya menurut Sandi adalah beban. Karena di usianya saat ini yang hampir 25 tahun, dia hanya bisa menghamburkan uang Ayahnya saja. Tidak ada inisiatif sama sekali untuk masuk ke dalam perusahaan Aryo untuk bekerja.
"Waktu itu, harusnya aku dulu yang mencicipi Raisa. Baru setelah itu membawanya ke kamar Adam. Sia-sia aku mendekatinya selama ini dan akhirnya nggak dapat apa-apa. Justru tukang pukul itu yang dapat virginnya Raisa" Rio tambak berdecak dengan kesal karena melewatkan satu hal itu.
"Dasar laki-laki b****sek!! Lebih baik urus dirimu sendiri supaya menjadi anak yang bisa di andalkan Papamu. Bukan terus menjadi beban dengan hal-hal kotor yang ada di pikiran mu!!" Sandi beranjak pergi tanpa peduli jika Aryo akan marah karena dia telah menghina putranya.
"Apa maksud mu Om!! Kau pikir aku seperti mu yang betah melajang tanpa sentuhan wanita!!" Teriak Rio tak terima dengan ucapan Sandi.
"Diam Rio!! Apa yang di katakan Sandi memang benar. Kau akan terus menjadi beban kalau seperti ini terus. Mulai besok berangkat ke kantor dan minta bantuan pada Candra untuk membantumu mulai bekerja" Candra adalah orang kepercayaan Aryo di kantornya.
"Tapi Pa..."
"Tidak ada tapi-tapian!!" Aryo juga beranjak dari ruangan tempat mereka sering berkumpul itu.
"Akkkhhhh sial!! Semua gara-gara Sandi s*alan itu!!" Rio mengacak rambutnya frustasi.
*
*
*
Sudah dua hari sejak Raisa menerima pesan itu, Raisa memilih menghindar sebentar dari Adam. Dia hanya takut jika tidak bisa mengontrol kemarahannya di depan Adam. Bukan karena takut menyakiti pria itu, tapi nyatanya Raisa sedang membangun kepercayaan Adam untuknya.
Tapi meski begitu, Raisa tetap pulang dan pergi ke kantor bersama. Tidur juga masih di kamar yang sama. Raisa hanya menghindari Adam saat makan siang, dia akan memilih makan di kantin bersama teman kantor yang ia kenal. Juga akan masuk ke dalam ruangan Adam seperlunya saja. Ketika sampai di rumah, Raisa juga langsung membersihkan dirinya, makan malam lalu meninggalkan Adam untuk tidur lebih dulu.
Hingga malam ini, malam ketiga di mana Raisa masih bersikap sama seperti dua malam sebelumnya. Riasan sudah bersiap tidur membelakangi Adam setelah makan malam mereka.
"Hufft..." Adam menghembuskan nafas beratnya karena melihat Raisa yang terlihat begitu dingin kepadanya.
Perlahan Adam naik ke ranjang di belakang Raisa. Adam pun sebenarnya yakin jika Raisa belum tidur sama sekali.
Adam menggeser tubuhnya semakin dekat dengan Raisa. Wajahnya pun sudah sampai tepat di samping telinga Raisa.
"Sa, sebenarnya kamu kenapa??" Adam adalah laki-laki yang perasa sebenarnya. Jadi melihat sikap Raisa yang berbeda dua hari ini, tentu saja membuatnya merasa heran.
"Mas ada salah ya sama kamu??"
Raisa yang hanya memejamkan matanya itu sempat terkejut dengan Adam.
"Atau kamu marah karena Mas menggoda kamu kemarin. Kalau gitu Mas minta maaf ya??"
"Bukan itu!!" Raisa hanya bisa menyahut dalam hati.
Dia pun masih tetap tak bergeming, tak mau menyahuti Adam sama sekali.
"Kamu sudah tidur Sa??" Melihat tidak ada reaksi apapun dari Raisa membuat Adam menyerah. Dia hanya bisa pasrah dan menunggu hari esok untuk membicarakannya lagi dengan Raisa.
"Selamat tidur sayang"
Cup...
Raisa mencoba mengontrol tubuhnya agar tidak menegang karena Adam yang mengecup pipinya di tambah lagi dengan panggilan sayang yang baru saja ia dengar.
Adam sudah kembali menggeser tubuhnya ke tempatnya. Berbaring menghadap ke langit-langit dan mulai memejamkan matanya, mengistirahatkan tubuhnya yang begitu terasa letih.
"Jantungku rasanya ingin keluar"
"Kenapa tiba-tiba Mas Adam panggil gue kaya gitu?? Gue nggak salah denger kan??"
"Jangan tergoda Sa!! Tapi.." Raisa membuka matanya yang tiba-tiba menjadi mendung hingga kristal-kristal bening mulai menetes dari sana.
Tak dapat di pungkiri, selama dua hari menghindari Adam. Raisa begitu merindukan Adam, entah karena kehamilannya itu atau karena perasannya yang masih abadi untuk Adam. Tapi Raisa benar-benar merindukan Adam.
Setelah mendengar dengkuran halus dari belakangnya, Raisa mulai berbalik menghadap suaminya. Menyingkirkan bantal guling yang selalu ia pasang sebagai pembatas. Raisa menggeser tubuhnya mendekati pria yang tampak tenang dalam tidurnya itu.
Dipandanginya wajah suaminya itu dengan begitu intens. Wajah yang tetap tampan walau di lihat dari samping seperti saat ini. Hidung yang tinggi dan terbentuk sempurna tidak besar dan tidak terlalu kecil namun sangat pas di wajah Adam, alis tebal dan juga rahang yang kokoh. Wajah yang menurut Raisa semakin tampan saja walau Adam semakin mendekati kepala tiga.
Berhenti mengagumi wajah suaminya, Raisa semakin meringsek maju mendekati Adam. Menempelkan kepalanya pada lengan Adam.
Raisa ingin sekali mencium wangi kulit Adam yang membuatnya tenang dan nyaman. Apalagi saat kehamilannya itu, feromon yang Adam miliki seakan menjadi candu untuknya.
"Dedek pingin dekat-dekat sama Papa ya??" Raisa mengusap perutnya dengan gerakan lembut.
( Dekek apa Mamanya?? Halah alasan aja Raisa ini, padahal dia sendiri yang mau nempel-nempel Mas Adam, tapi gengsi jadinya anaknya yang buat di fitnah 😝😝😝😝😝😝)
"Gini bentar aja nggak papa kali ya?? Toh dia juga udah tidur dan nggak akan tau" Raisa mulai melingkarkan tangannya pada pinggang Adam. Niatnya hanya sebentar saja karena tidak ingin Adam tau apa yang dia lakukan. Tapi nyatanya Raisa justru tertidur sampai pagi dalam posisi seperti itu.