Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Kalian yang paling ku sayang


Melamun tampaknya menjadi hobi Raisa akhir-akhir ini. Meski dia ingat pesan dokter untuk tidak berpikir yang berlebihan, tapi nyatanya tetap tidak bisa.


Ketidakjujuran Adam, juga pesan-pesan misterius yang selalu berdatangan itu membuat Raisa terbebani.


Sesungguhnya hubungan mereka tidak akan serumit ini jika keduanya saling jujur dengan perasaan masing-masing.


Tapi sifat keras kepala Raisa, tidak bisa membuat hubungan mereka semakin membaik. Tidak ada kepercayaan dari Raisa untuk Adam justru mempersulit dirinya sendiri.


Wanita hamil itu masih memandang kosong layar komputer di depannya. Hanya matanya yang terlihat memandangi jadwal Adam yang sedang ia susun, tapi nyatanya pikirannya sudah melayang pada malam tadi saat Raisa kembali di hubungi orang misterius dengan nomor yang berbeda lagi.


Ting...


Raisa membuka aplikasi pesannya yang menunjukkan notifikasi pesan masuk.


Lagi-lagi sebuah video yang di kirim orang misterius itu.


Raisa sempat melirik Adam yang telah terlelap di sampingnya. Kemudian dia memilih pergi ke kamar mandi karena tak ingin Adam melihatnya membuka pesan itu.


Raisa langsung membekap mulutnya saat memutar video yang dikirimkan kepadanya itu.


Kini Raisa tau apa alasan Adam tadi pulang dengan keadaan wajah yang penuh dengan lebam.


Di dalam video itu, ada banyak sekali orang-orang yang mengerumuni Adam. Kemudian dengan kepiawaian Adam dalam membela diri, semua orang yang lebih seperti tukang pukul itu mulai tumbang satu-satu.


"Halo??" Raisa yang belum selsai melihat video itu sampai habis justru mendapat telepon dari nomor yang berbeda lagi dari pengirim video.


"Apa kau sudah melihatnya??"


"Apa maksud semua ini??" Raisa bingung sebenarnya ada hubungan apa antara video itu dengan orang yang sering menghubunginya itu.


"Adam sudah tau siapa aku dan apa niat ku menghubungi mu"


"Apa???" Raisa terkejut karena Adam terlihat biasa saja kepadanya, tidak pernah bertanya tentang misterius itu.


Tapi itu justru membuat Raisa takut. Benar jika Adam itu lebih misterius dari sekedar misterius. Adam membuat Raisa ketakutan karena Adam selama ini hanya pura-pura tidak tau.


"Sekarang kau percaya kan kalau dia memang berniat buruk kepada mu dan juga Papamu?? Kalau tidak, kenapa dia tidak jujur kepadamu kalau ternyata dia sudah tau tentang ku?? Lalu kenapa dia harus datang ke sini dan menghajar semua anak buah ku??"


Raisa masih diam mencerna apa yang pria itu katakan.


"Alasannya hanya satu, dia tidak ingin aku membongkar tabiatnya selama ini karena aku telah mengantongi semua bukti kecurangannya. Dia mengancam akan menghancurkan aku jika aku sampai mengganggu mu lagi dan menunjukkan bukti itu"


"Tidak mungkin" Gumam Raisa antara percaya dan tidak percaya.


"Memangnya siapa kau?? Kenapa Mas Adam bisa tau siapa dirimu??"


"Kau tidak perlu tau siapa aku. Yang penting sekarang adalah waktunya untuk bertindak karena aku tidak bisa terus menghubungi mu lagi karena dia bisa saja membuktikan ancamannya itu"


"Maksud mu??"


"Ikuti apa yang ku katakan, dan aku akan memberikan semua bukti itu kepadamu"


Lamunan Raisa itu buyar ketika ada seseorang yang menggenggam tangannya.


"Mas?? Emm maksud saya Pak Adam. Ada yang bisa bantu??"


Pria yang berdiri di sampingnya itu hanya menggeleng dengan senyum begitu tipis.


"Kamu sakit?? Apa pusing lagi?? Mau pulang??" Adam tadi pagi sebenarnya sudah melarang Raisa untuk ke kantor bersamanya. Menurut Adam sudah cukup Raisa bekerja, dan lebih baik di rumah saja menjaga kandungannya. Tapi sifat keras kepala Raisa membuat Adam tidak bisa menghentikannya.


Dan kini, Adam yang menemukan Raisa sedang melamun di mejanya membuat Adam tak tenang.


Pria yang semakin terlihat tampan itu melihat jam yang melingkar pada tangannya.


"Ayo cari makan, ini sudah hampir jam makan siang"


"Tapi Pak,"


"Udah ayo, Mas nggak mau kamu sama anak kita kelaparan" Adam menggenggam tangan Raisa, membantunya berdiri bahkan Adam sempat membantu memasang sepatu Raisa yang sengaja wanita itu lepas karena tak nyaman saat bekerja.


"Gaby, saya sama istri saya mau keluar dulu. Nanti kalau ada apa-apa hubungi saya"


"Baik Pak" Gaby yang sejak tadi memperhatikan kemesraan Bosnya itu tampak tak suka. Dia bahkan sudah menghilangkan senyum lebarnya yang baru saja dia ia tunjukkan.


Entah apa alasannya, atau memang Gaby benar-benar menyukai Adam, namun Gaby terlihat sangat tidak duka melihat mereka berdua akur seperti itu.


"Kamu mau makan apa??" Mereka berdua baru saja keluar dari area pabrik.


Raisa yang sejak tadi diam, kini tampak berpikir. Ternyata terus melamun membuat perutnya terasa lapar. Dan sepertinya alasan yang di berikan pada Adam tadi ada benarnya juga jika dia memang lapar.


"Nasi kuning" Bibir Raisa langsung mencetus begitu saja ketika bayangan nasi kuning dengan aroma kunyit dan juga daun salam, di tambah irisan telur dadar dan juga abon. Membayangkannya saja perut Raisa sudah terasa semakin lapar.


"Ya udah kita cari nasi kuning"


"Emangnya ada ya?? Kayaknya bakalan susah deh, nggak gampang cari resto atau warung yang jual nasi kuning" Raisa tampak ragu dengan sendirinya.


"Ya nanti Mas cari sampai dapat, kamu pingin banget kan?? Kalau nggak di turutin ntar anak kita ileran gimana??"


"Itu cuma mitos" Raisa tak percaya akan hal-hal seperti itu.


"Mitos atau enggak, yang penting Mas melakukannya demi kamu, demi kalian yang paling Mas sayangi di dunia ini"


"Apa??" Raisa ingin memastikan pendengarannya tidak bermasalah.


"Kamu tadi bilang apa??" Tanya Raisa lagi tak sabaran.


"Yang mana??" Adam sesekali menoleh pada Raisa.


"Itu tadi"


"Oh, itu kamu nggak salah dengar kok Sa. Kalian memang yang paling Mas sayangi di dunia dunia ini. Mas sayang kamu" Tangan kiri Adam beralih dari tangan Raisa kemudian mengusap lembut pipi yang merona itu.


"Mas Adam beneran sayang??"


"Hemm, Mas nggak bercanda sama perasaan Mas"


Raisa menatap pujaan hatinya itu, ingin mencari kebohongan yang bisa membuat hatinya mengelak.


"Kalau Mas beneran sayang, berarti besok mau kan ikut aku ke suatu tempat??"


"Kemana??"


"Ada pokonya, yang penting mau kan??"


Adam mengangguk tak melupakan senyum terbaiknya untuk Raisa.


"Apa sih yang enggak buat kamu"


Raisa membalas senyuman Adam, namun tak ada yang tau apa yang dia pikirkan saat ini. Kemana Raisa akan mengajak Adam pun tak ada yang tau.


"Maafkan aku Mas Adam"