
Pagi harinya, Adam sudah tiba di kampung halamannya. Sebuah desa asri yang terletak di Kabupaten Semarang.
Kepulangan Adam yang pertama sejak tiga tahun yang lalu, tepatnya saat Ayahnya meninggal itu tentu saja di sambut gembira oleh Mbah Welas.
"Adam, cucuku" Wanita berambut putih dengan kain jarik itu menghambur memeluk Adam yang kini sudah tinggi menjulang di bandingkan dengan Adam yang saat itu berumur sepuluh tahun.
"Mbah apa kabar?? Mbah sehat kan??" Adam terharu melihat wanita yang dulu merawatnya penuh kasih sayang masih begitu sehat di usia senjanya itu.
"Mbah sehat Nang, kamu gimana kabarnya??" (Dalam bahasa jawa Nang adalah kependekan dari kenang / anak laki-laki. Sering digunakan orang tua untuk memanggil anaknya, cucu atau yang lebih muda darinya)
"Adam sehat Mbah, di mana Mbak Yuli??" Adam melepaskan pelukannya, menuntun Mbah Welas menuju teras rumahnya.
"Yuli baru ke pasar, sebentar lagi juga pulang" Mbah Welas terus menggenggam tangan Adam dan menatap pria gagah dan tampan itu dengan berkaca-kaca. Mbah Welas masih tak menyangka jika anak malang yang dia rawat penuh kasih sayang itu kini sudah begitu dewasa.
"Sudah tiga tahun sejak Bapakmu meninggal kok kamu baru pulang to Nang?? Simbah ini kangen"
"Maafkan Adam Mbah, Adam terlalu sibuk sampai tidak sempat datang menjenguk Simbah"
"Tapi rapopo Nang, Simbah sudah senang melihat kamu sehat seperti ini"
Adam semakin merasa bersalah karena dia terlalu mementingkan menjaga Raisa sampai melupakan Mbah Welas. Nenek yang sudah dia anggap sebagai Neneknya sendiri.
"Adam juga senang kalau Mbah terus sehat seperti ini"
"Tapi Simbah dengar dari Yuli, kalau kamu sudah menikah. Lha sekarang dimana istrimu Nang?? Kok nggak dikenalke Simbah??"
Deg...
Adam tidak menyangka jika kabar pernikahannya telah sampai di telinga Mbah Welas. Sekarang dia bingung harus merangkai kebohongan yang seperti apa kepada Simbahnya itu.
"Dia masih ada kerjaan Mbah, kalau sudah selesai pasti nyusul ke sini"
Dalam hati Adam merasa bersalah karena mengatakan kebohongan yang tak mungkin.
*
*
*
Pagi sudah berganti lagi dengan malam. Sejuknya pagi juga telah di ganti dengan dinginnya malam. Selama itu juga Raisa terus mengurung dirinya di dalam kamar.
Mungkin suara tangisan pilunya sudah tidak lagi terdengar, namun air matanya terus saja meleleh tanpa henti.
Tangannya masih juga menggenggam ponselnya yang mungkin sudah ratusan kali mencoba menghubungi Adam.
Raisa tak menyerah walau sambungan teleponnya mengatakan jika nomor Adam tidak aktif saat ini. Raisa terus mencoba tanpa henti dan berharap jika Adam akan segera mengaktifkan ponselnya.
Tok..tok..tok..
"Raisa udah bilang kalau Raisa nggak lapar Bi!!"
Raisa kesal dengan Papanya dan juga Bi Asih yang terus memaksanya keluar untuk mengisi perutnya.
Padahal Raisa sendiri saja sudah tidak merasakan lapar sama sekali sejak Papanya mengatakan jika Adam pergi meninggalkannya.
"A-apa maksud Papa??" Mata Raisa mulai berkaca-kaca.
"Tadi malam Adam minta ijin sama Papa untuk pulang ke kampungnya"
Jedeeerrr......
"A-apa Pa?? M-mas Adam pergi??"
Raisa limbung seketika, namun tangan Satya langsung meraih lengan Raisa.
"Hiks..hiks.. Papa"
"Kenapa Mas Adam nggak mau maafin Raisa Pa?? Kenapa Mas Adam nggak kasih kesempatan Raisa buat berubah??"
Dunia Raisa seakan runtuh saat ini. Pria yang selama ini mencintainya dan begitu sabar menghadapinya kini telah pergi darinya.
"Dia hanya pergi untuk sementara. Papa yakin dia pasti kembali untuk kamu dan anak kalian. Berikan dia waktu untuk sendiri Sa"
Raisa menggeleng di pelukan Papanya, seakan tak percaya dengan kata-kata yang di anggap Raisa hanya untuk menenangkannya saja.
"Ini kita Sa, buka pintunya ya??"
Raisa segera mengusap sisa air matanya, begitu mendengar suara sahabatnya di luar kamarnya.
Cklek..
Pintu kamar Raisa terbuka, namun tidak menampakkan pemiliknya.
"Sa??"
Fany dan Stevi yang melihat keadaan Raisa saat ini begitu prihatin. Mereka tau kalau Raisa benar-benar hancur saat ini.
Rambut berantakan, wajah sembab dan mata sayu dan memerah. Sungguh miris di mata kedua sahabatnya itu.
"Gue ditinggalin sama Mas Adam" Lirih Raisa kemudian kembali sesenggukan dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Fany dan Stevi langsung memeluk Raisa, memberikan kekuatan pada sahabatnya itu.
"Gue jahat Fan, gue udah nyakitin hati Mas Adam makanya dia pergi dari gue"
Stevi dan Fany juga sudah tidak bisa menahan air matanya. Selama ini melihat Raisa yang keras kepala dan bebal membuat mereka ikut sedih ketika Raisa bisa jadi seperti itu.
"Gue udah tau ceritanya dari Om Satya Sa. Lo yang sabar ya??" Stevi mengusap punggung Raisa dengan lembut.
"Gue sejahat itu kan Stev?? Kalau lo jadi Mas Adam pasti akan melakukan hal yang sama kan?? Lo akan benci sama gue kan??"
Stevi melepaskan pelukannya, meraih tangan Raisa yang terus digunakan menutup wajahnya itu.
"Sa, dengerin gue!!" Stevi mengusap air mata Raisa yang membanjiri wajahnya.
"Semua orang pasti punya hati dan perasaan. Mereka pasti akan bereaksi jika terus di sakiti. Entah itu marah, sedih, kecewa, atau bahkan benci"
"Tapi di dalam hati itu tidak akan mungkin hanya terdapat satu perasaan apalagi sebelumnya telah timbul perasaan yang lebih besar"
"Saat ini mungkin Mas Adam kecewa sama lo, dia marah sama lo tapi dia hanya bisa diam. Dia memilih pergi menenangkan dirinya daripada harus membentak dan berbuat kasar sama lo. Karena apa??"
"Karena Mas Adam sangat mencintai lo Sa. Dia cinta banget sama lo Sa. Jadi percaya sama dia kalau dia bakalan kembali lagi buat lo dan anak lo. Beri dia waktu Sa"
Raisa hanya diam namun dia tidak sepenuhnya percaya dengan ucapan Stevi.
"Benar kata Stevi Sa, dan sebaiknya lo gunakan kesempatan ini untuk benar-benar berubah. Jadi istri yang baik buat Mas Adam dan jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama"
"Kuncinya cuma satu Sa, komunikasi. Lo tau kan akar masalah ini hanya kesalahpahaman antara kalian berdua aja??" Raisa mengangguk.
"Jadi setelah ini, apapun itu masalahnya, coba kamu bicarakan sama Mas Adam" Imbuh Fany.
"Tapi apa dia benar-benar pulang lagi?? Gimana kalau enggak?? Gimana kalau Mas Adam nggak mau maafin gue??"
"Percaya sama dia Sa, dia laki-laki yang baik seperti yang gue bilang selama ini. Lo harus bersyukur karena udah di kirim Tuhan jodoh kaya Mas Adam" Fany memang salah satu wanita yang mengagumi Adam. Dia tau kalau Adam itu benar-benar pria yang baik meski sahabatnya itu terus menjelekan Adam selama ini. Tapi rasa kagum itu hanya sebatas itu saja, tidak sampai jatuh hati pada Adam.
"Sekarang kita makan duku yuk, gue laper. Gue udah lama nggak numpang makan di tempat lo Sa" Stevi mengusap perutnya yang rata meski banyak makan itu.
"Tapi gue nggak la..."
"Lo nggak laper tapi anak lo laper tau nggak!! Ayo cepetan!!" Raisa tak bisa mengelak lagi dari Fany yang menuntunnya keluar dari kamar.
Satya yang melihat kedua sahabat Raisa itu berhasil membawa Raisa keluar dari kamar itu hanya bisa mengulas senyumnya. Satya memang sengaja menghubungi kedua sahabat Raisa itu untuk membantu membujuk Raisa agar mau makan.