Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Mau di panggil apa??


Sekarang aku tanya sama kamu. Kenapa kamu bisa tau kalau aku nginap di hotel waktu itu??"


Wajah Ayu benar-benar memucat, tak mengira jika Adam akan mengungkit saat Ayu datang menemui Adam waktu itu.


"Ada orang yang kasih tau kamu kan kalau aku ada kerjaan di Semarang??" Selidik Adam membuat Raisa yang hampir di penuhi rasa cemburu perlahan menjadi paham.


"Waktu itu ada orang yang kirim foto Mas Adam dan Ayu kaya di loby hotel. Jangan-jangan kerjaan orang yang sama??"


"Jawab Yu!!"


Adam ingin tau siapa orang yang mencoba memasukkan Ayu ke dalam kehidupannya lagi. Orang itu seperti sengaja mendekatkan mereka berdua di saat Adam sudah menikah. Terkesan ingin menghancurkan pernikahan Adam.


"M-maksud Mas Adam apa?? Aku nggak ngerti!!"


"Jangan bohong kamu!! Desis Adam.


"Mas" Adam menunduk menatap Raisa. Dia sampai lupa kalau ada Raisa di sana juga.


"Waktu kamu di Semarang, ada juga nomor misterius yang kirim foto kamu sedang berduaan dengan Mbak Ayu kaya di loby hotel gitu. Apa itu sengaja mau buat aku salah paham sama kamu??"


Adam langsung menatap Ayu lagi. Adam semakin yakin jika ada informan untuk Ayu.


"Kamu mau jujur atau kamu mau ketemu sama orang-orang yang sekongkol sama kamu itu"


Mata Ayu melebar, menunjukkan keterkejutan sampai Adam bisa menyimpulkan jika Ayu mulai takut dengan acamannya.


"Asal kamu tau Yu, orang-orang yang kasih kau informasi itu sekarang sudah ada di dalam penjara. Mereka di tangkap atas tuduhan penganiayaan ke aku dan Raisa. Lambat laun mereka juga akan buka mulut kalau kamu juga ikut sekongkol dengan mereka meski kamu nggak berbuat apapun"


Tangan Ayu gemetar memegang tali sling bag miliknya. Adam juga tak tau kenapa firasatnya mengatakan jika orang itu ada hubungannya dengan Aryo dan Rio. Maka Adam sengaja menyeret mereka untuk mengancam Ayu.


"Maafkan aku Mas. Tapi aku nggak tau siapa orang itu. Aku cuma dapat pesan beberapa kali aja terus juga cuma dengar suara perempuan itu sekali aja"


"Perempuan??" Kejut Adam.


"Iya Mas, dia yang bilang kalau kamu akan ke Semarang satu minggu dan menginap di hotel itu"


"Perempuan?? Siapa??" Raisa merasa tak pernah memiliki maslah dengan wanita manapun.


"Mana nomor hpnya??"


Ayu yang sudah ketakutan akhirnya memberikan beberapa nomor yang berbeda-beda saat orang itu menghubunginya.


"Terus, ngapain kamu ke sini??" Tanya Adam setelah mengembalikan ponsel Ayu.


"Bapak di rawat di sini Mas. Kalau gitu aku ke ruangan bapak dulu Mas, mari Mbak Raisa" Ayu mengangguk kecil pada Raisa sebelum pergi menjauh dari Adam dan Raisa.


Raisa hanya menatap wanita terlihat begitu menyukai suaminya itu. Seharunya wanita cantik seperti Ayu tentunya bisa dengan mudah mencari pria selain Adam. Apalagi melihat penampilan Ayu yang bisa di bilang modis tidak seperti gadis desa yang sederhana.


Tapi meski seberapa besar cinta Ayu untuk Adam, Raisa tidak akan pernah merelakan Adam untuk dia. Karena cinta yang dia punya untuk Adam juga tak kalah besarnya meski dulu harus menjadi wmaita munafik lebih dulu.


"Ayo masuk aja ke kamar Ca" Adam buru-buru melepas kunci pada kursi roda Raisa.


"Loh kenapa Mas??"


"Orang tua Ayu ada di sini, Mas nggak mau sampai ketemu Bu Ning lagi kalau dia tiba-tiba ke sini"


Raisa tak bisa lagi membantah Adam meski sebenarnya dia masih ingin di luar. Raisa tau kalau Adam pasti enggan bertemu dengan Ibu tirinya itu kalau melihat bagaimana sifatnya kemarin pada Adam.


Tapi Raisa justru meringis melihat perlakuan Ning pada Adam. Dia seolah berkaca sendiri, dia ingat kalau dia juga memperlakukan Adam seperti itu dulunya.


Adam merogoh ponselnya, untuk mencari keberadaan Yuli.


"Mbak Yuli kemana Mas??"


"Pulang, katanya hari ini ada jadwal kirim barang dan catatannya Mbak Yuli yang simpan. Jadi terpaksa Mbak Yuli pulang duluan. Katanya nanti Stevi dan Fany yang akan turun ke sini di antar sama Hanif"


"Hanif siapa??"


"Hanif itu orang yang kerja di perkebunan Mas. Tadi malam dia juga ke sini antar baju buat Mas"


"Ohh" Hanya itu yang keluar dari bibir Raisa.


"Ca, jadi kamu pernah dapat kiriman foto Mas dan Ayu??" Adam menyinggung lagi setelah membantu Raisa naik ke atas ranjangnya.


"Hemm" Raisa mengangguk.


"Tapi Mas nggak ngapa-ngapain sama dia Ca. Mas juga kaget karena dia tiba-tiba ada di sana. Kamu percaya sama Mas kan??"


Raisa menatap Adam sejenak tanpa suara, seolah dia sedang berpikir mau percaya atau tidak dan itu membuat Adam ketar-ketir.


"Sekarang percaya kok Mas, meski awalnya enggak" Raisa memainkan kuku jarinya.


Adam tersenyum lega, kemudian matanya berubah menatap penuh selidik pada Raisa.


"Oohh, sekarang Mas tau kenapa waktu itu kamu nggak mau balas pesan Mas, berkali-kali Mas telepon juga nggak di angkat. Kamu cemburu kan??"


Raisa langsung memelototi Adam. Meskipun benar dia cemburu, mana mungkin dia mengakuinya di depan pria yang kadang dingin kadang rese itu.


"Percaya diri sekali anda Tuan Adam" Cibir Raisa lalu memiringkan tubuhnya dengan pelan untuk membelakangi Adam.


"Cemburu juga nggak papa kali Ca, nggak usah malu. Mas suka kok di cemburuin adek" Bisik Adam membuat Raisa geli.


Bukan hanya karena nafas Adam yang berhembus mengenai telinga Raisa, tapi juga karena panggilan adek yang membuat Raisa merasa geli sendiri.


"Jangan panggil Ica kaya gitu ya Mas!! Ica nggak suka!!" Raisa menutup telinga dengan tangannya.


"Loh kenapa??" Adam semakin gencar menggoda istrinya yang malu-malu meong.


"Geli, nggak enak di dengar. Pokoknya nggak suka!! Kalau Mas panggil gitu lagi, Ica nggak mau nengok!!" Ancam Raisa masih memunggungi Adam.


Hubungannya dengan adam memang baru membaik tadi malam. Tapi sekarang mereka sudah kembali dekat tanpa rasa canggung lagi. Sungguh perasaan yang ada di dalam hati mampu merubah apapun sesuka mereka.


"Jadi, maunya di panggil apa yank??"


Raisa membeku, matanya terpejam dengan erat. Rasanya masih seperti tadi saat Adam memanggilnya sayang di ruang pemeriksaan.


Bukan hanya hangat, tapi panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Bahagia, berbunga-bunga dan tersipu malu.


Melihat Raisa yang hanya diam mendengar panggilan yang sengaja Adam lakukan untuk menjahili Raisa membuat Adam menyunggingkan senyumnya.


"Ohh, jadi maunya di panggil sayang to?" Adam semakin gencar menggoda Raisa.


"Apaan sih Mas!! Rese deh!!" Raisa menarik selimutnya untuk menutupi wajahnya yang memerah hingga ke ujung kepalanya.


Sementara Adam terus tertawa karena tak tahan dengan kelakuan istrinya yang malu-malu tapi mau itu.