
"RAISA AWAS!!"
Sreetttt....
"Aakkhhhh...!!"
Tubuh Raisa terasa melayang, kepalanya terasa pusing karena berputar dengan cepat. Meski matanya terpejam tapi dia bisa merasakan tubuhnya yang di tarik dan di peluk oleh Adam.
"Mas Adam" Ketika Raisa membuka mataya, dia masih berada dalam pelukan Adam. Dia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi sampai Adam berteriak dan memutar tubuhnya seperti tadi.
Tapi tangan Raisa yang memeluk pinggang Adam mulai merasakan basah terkena sesuatu dari punggung Adam.
Tangan Raisa bergerak ke atas, meraba dengan pelan punggung kokoh favoritnya itu.
Raisa melepaskan diri dari pelukan pria yang kini mulai gak berdaya itu.
"Darah, ini darah?? Kamu terluka Mas?? Hiks...hiks..." Tangis Raisa kembali pecah apalagi melihat wajah Adam yang mulai memucat.
Pria yang biasanya kuat dan tak terkalahkan itu akhirnya tumbang juga. Lututnya yang sudah tak kuat menahan tubuhnya membuatnya jatuh tertunduk di tanah.
"Mas, bertahanlah Mas. Maafkan aku" Bisik Raisa pada Adam yang bersandar pada tubuhnya.
"Cepat buat dia menandatangani berkas itu Rio!!" Titah Aryo pada Rio yang sempat tercengang karena telah menggores punggung Adam dengan cukup dalam.
Rio pun mengikuti perintah Ayahnya itu, dia mengambil map yang masih tergeletak di lantai lalu mendekat ke arah Adam.
"Cepat tandatangani sebelum lo kehabisan darah dan m*ti di sini!!"
"Jaga ucapan mu Rio!!" Raisa tak terima dengan ucapan Rio.
"Jangan sok suci kamu Raisa, kamu nggak ingat siapa yang bawa dia kesini??" Sinis Rio membuat Raisa terdiam.
"Cepat!! Atau anak kalian yang akan menerima akibatnya!!" Rio menarik tangan Adam dengan kasar namun segera di tepis oleh Raisa.
Deg....
Raisa semakin ketakutan karena Rio juga mengetahui tentang kehamilannya. Seharusnya dengan dress yang ia pakai saat ini, tidak akan memperlihatkan perutnya yang membuncit.
"Jangan Mas" Cegah Raisa.
Namun tanpa di sangka, tangan Adam bergerak meraih pena di tangan Rio
"Kenapa??" Mata sayu Adam menata Raisa.
"Bukannya ini yang kamu mau?? Ini kan yang membuat kamu membawaku ke sini??"
"Tega kamu Sa. Aku kira kamu benar-benar membuka hatimu untukku. Tapi ternyata, selama ini aku mencintai wanita yang salah"
Nyess....
Hati Raisa sakit seperti tergores sembilu. Kenapa sekarang Raisa justru merasa kesakitan sendiri setelah apa yang dia perbuat.
Pernyataan cinta itu, bukan membuat Raisa bahagia. Tapi justru membuat Raisa kesakitan, sakit sampai Raisa tak bisa menahannya. Dia hanya bisa terus menangis dan menangis.
"Semua ini tak ada artinya buatku di bandingkan dengan kepercayaan kamu Sa. Jadi untuk apa lagi aku pertahankan" Sesekali Adam meringis menahan sakitnya.
Sakit luar biasa yang ia rasakan, namun lebih sakit lagi hatinya saat ini.
"Ica percaya sama Mas, Maafkan Ica Mas" Raisa masih bersimpuh menjadi sandaran untuk Adam.
Setelah sekian lama, akhirnya panggilan yang di berikan Adam untuknya itu terdengar kembali.
"Ya Allah, ambil nyawaku sekarang juga. Aku tidak kuat menahan sakitnya" Teriak Raisa dalam hatinya.
"Cih" Adegan mengharu biru itu di tanggapi sinis oleh Rio.
Dan juga Adam yang sudah tuli, baik telinga, hati dan pikirannya, tetap berniat menandatangani surat itu.
"Mas, Ica mohon jangan" Tangan Raisa berusaha menahan tangan Adam namun dengan keyakinannya Adam tetap menggerakkan tangannya ke atas surat perjanjian kepemilikan saham yang di alihkan dari Adam kepada Aryo.
Sakit, jelas Adam rasakan saat ini. Kecewa pun sangat besar hingga dia memilih menyerahkan semua yang ia miliki itu.
Untuk apalagi semua itu, jika orang yang sangat dia perjuangan justru menusuknya dari belakang. Semua yang Adam dapatkan dengan sudah payah itu sudah tidak ada artinya lagi. Jadi untuk apa lagi dia mempertahankannya.
Sret...
Satu tarikan pena mulai menggores kertas putih itu, namun sepertinya memang orang yang mendapatkan sesuatu dengan cara yang licik tidaka akan pernah mendapatkan apa yang bukan seharusnya menjadi miliknya.
"ANGKAT TANGAN KALIAN!!"
Dorrr....
Satu timah panas berhasil melumpuhkan kaki kanan Rio.
"Mas, Mas Adam. Ica mohon jangan kaya gini"
Raisa memeluk tubuh Adam yang sudah mulai melemah. Bahkan matanya pun mulai tertutup.
"Mas, bertahanlah Mas. Ica cinta sama Mas Adam. Jangan tinggalkan Ica"
Raisa sudah tak peduli lagi dengan polisi dan entah siapa lagi yang ada di sana untuk menangkap Rio dan Aryo. Raisa hanya peduli pada Adam. Suaminya, pria yang amat dia cintai.
"Cepat bawa dia ke rumah sakit!!"
Raisa mendongak setelah mendengar suara bergetar yang sangat ia kenal.
"Papa" Lirih Raisa.
"Tenang dulu, biar Adam di tangani dulu" Satya membantu putrinya untuk berdiri. Dia khawatir melihat kondisi Adam, namun dia juga sangat khawatir melihat putrinya yang sedang mengandung dengan keadaan seperti itu.
"Raisa mau temenin Mas Adam Pa"
Satya pun mengangguk, lalu membantu Raisa menuju ambulance yang akan membawa Adam.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, tangan Raisa pun tak lepas dari tangan Adam. Dia terus menggenggam tangan yang begitu dingin itu.
Air mata penyesalan juga terus menemani Raisa. Selain rasa ketakutan kehilangan Adam, memang hanya penyesalan yang Raisa rasakan saat ini.
Dokter dan perawat sudah siap siaga menunggu kedatangan Adam. Memang Satya sengaja meminta semua itu kepada pihak rumah sakit yang sebagian sahamnya milik Satya juga.
"Kamu tenang, Adam pasti kuat"
"Pa, Mas Adam Pa. Semua salah ku Pa. Raisa yang salah hu..hu..." Raisa tergugu di pelukan Papanya.
"Tenangkan dirimu Sa, kita pikirkan itu nanti. Ingat anak mu"
Satya sebenarnya juga sangat kecewa dengan apa yang di lakukan Raisa itu. Dia tak menyangka jika putrinya bisa bertindak senekat itu. Satya kira, Raisa sudah mulai menerima Adam semenjak hubungan mereka membaik waktu itu.
Tapi semua sudah terjadi, mau bagaimana lagi. Sekarang Satya akan fokus dulu kepada Adam. Kemudian dia baru akan menyelesaikan masalahnya dengan Aryo, Rio serta adiknya sendiri.
Ya, Satya tau jika Sandi terlibat dalam hal ini. Dan itu kecurigaannya pada adiknya yang tiba-tiba datang menemuinya itulah yang akhirnya membawanya menemukan Adam dan Raisa dalam kondisi mengenaskan seperti tadi.
FLASHBACK ON
Satya kembali menatap Adiknya penuh tanda tanya. Bujang lapuk itu kembali datang ke kantornya tanpa di undang dan tanpa tujuan yang jelas. Dia hanya mengatakan jika ingin mengajak Satya makan malam.
"Aku ke toilet dulu sebentar"
"Oke Mas, nggak masalah" Jawab Sandi terdengar sangat santai.
Sementara itu, Satya di kamar mandi justru merogoh ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Halo Rudolf, sepertinya ada yang mencurigakan dari Sandi. Tiba-tiba saja dia mengajakku makan malam. Aku khawatir dia sedang merencanakan sesuatu. Tolong utus anak buah mu untuk mengawasi Adam dan Raisa. Aku takut terjadi apa-apa dengan mereka"
"Baik Pak, saya tau apa yang harus saya lakukan"
"Bagus"
Satya memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jasnya. Lalu kembali keluar seolah tak terjadi apa-apa.
Dalam harapannya, semoga saja tidak ada hal buruk yang Sandi lakukan.
"Ayo berangkat sekarang"
"Ayo Mas, aku sudah pesan tempat yang nyaman, dan makanannya pun enak"
"Benarkah, apa kau sudah sering ke sana??"
Satya benar-benar mencoba bersikap biasa saja dan mengikuti apapun yang Sandi katakan.
FLASHBACK OFF
Satya berjanji, dia akan memberikan pelajaran kepada mereka semua, termasuk Sandi. Walaupun Sandi adik kandungnya, dia tidak akan membiarkan Sandi lolos begitu saja.
Brukkk....
"Raisa!!"