Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Mandi bareng


Hari berikutnya tiba, Raisa benar-benar di perbolehkan pulang oleh dokter. Tapi tetap harus bedrest total selema waktu yang di tentukan dokter kemarin.


Sudah sejak siang tadi Raisa tiba di rumah Adam yang sejuk di tengah-tengah perkebunan itu. Tapi Raisa hanya bisa menikmati angin yang berhembus sepoi-sepoi dari jendela kamarnya yang di buka lebar. Dia benar-benar tidak di izinkan turun dari ranjang.


Ke kamar mandi pun harus bersama dengan Adam sesuai permintaan pria itu yang akan menjaga Raisa selama 24 jam non stop.


Raisa tak keberatan, dia justru senang karena mendapatkan perhatian lebih dari suaminya itu. Tapi masalahnya, Raisa malu.


Tentu rasa itu ada, meski mereka suami istri, tapi mereka tidak pernah melakukan hal yang wajar layaknya yang suami istri lain lalukan. Raisa tidak bisa buang air dengan di tunggu oleh Adam atau pun mandi dengan di batu oleh Adam.


Meski Adam pernah menjamah seluruh tubuh Raisa, tapi mereka dalam kondisi tidak sadar waktu itu.


Alhasil saat ini Raisa terus berusaha menahan diri untuk ke kamar mandi meski kantung kemihnya sudah terasa penuh.


Dia masih memikirkan cara agar Adam tidak ikut ke dalam sana dan melakukan hal yang dia katakan tadi.


"Kalau mau pipis bilang aja sama Mas. Mas juga bisa kok cebokin kamu sekalian, nggak usah malu, kita udah halal"


Raisa tidak tau darimana datangnya pikiran Adam yang absurd itu. Ternyata di balik sikap dinginnya, otaknya agak geser juga. Mana mungkin dia kana meminta itu pada Adam. Dia hanya di anjurkan bedrest, bukan lumpuh pada tangannya yang nggak bisa membersihkan dirinya sendiri.


"Kamu kenapa yank, kok kaya nggak tenang gitu?? Mau ke kamar mandi??"


Pipi Raisa langsung memerah, Adam sekolah saja bisa menebak apa yang ingin dia lakukan.


"Duh, gimana nih?? Udah nggak tahan sebenarnya. Masa mau ngompol??"


"Eemm i-itu..." Raisa semakin gugup saat Adam yang dari tadi memangku laptopnya di sofa kini semakin mendekat.


"Mau apa hemm??" Adam sudah duduk di sisi ranjang Raisa.


"M-mau mandi, iya mau mandi. Tapi biar di bantu sama Stevi atau Fany aja ya Mas" Raisa nyengir berharap Adam akan menuruti permintaannya.


"Kenapa harus mereka?? Kamu malu ya kalau Mas yang bantu mandiin?? Mas juga mau sekalian mandi"


Raisa langsung membuang wajahnya ke samping. Menutupi wajahnya yang sudah terbakar.


"Kenapa sih nih laki gue, apa dia nggak ada malu-malunya?? Apa nggak tau malu??" Gerutu Raisa dalam hati.


"Kamu tenang aja, Mas nggak akan ngapa-ngapain kamu kok. Lagian teman kamu itu lagi pergi sama Hanif lihat peternakan sapi. Jauh dari sini. Jadi sama Mas aja ya??"


"T-tapi Mas...."


"Yank dengar Mas, meski Mas ini laki-laki normal dan Mas juga yakin kalau tubuh Mas ini akan bereaksi kalau kita basah-basahan bareng. Tapi Mas janji kalau Mas nggak akan apa-apain kamu"


Raisa sudah di buat lemas dengan kata basah-basahan yang di ucapkan Adam tadi. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah tidak tahan ingin buang air saat ini.


"Ayo Mas gendong" Adam membungkuk dan langsung di sambut kedua tangan Raisa yang melingkar di leher Adam.


Untuk saat ini, kursi roda yang Adam pesan memang belum datang. Jadi untuk sementara dia yang akan menggendong Raisa jika ingin ke kamar mandi atau keluar. Tapi sebenarnya Adam juga berharap kursi rodanya tak datang-datang biar dia bisa berlama-lama menggendong istrinya.


"Kamu duduk sini aja ya??" Adam mendudukkan Raisa pada closet.


"Iya, tapi buntu buka dulu closetnya Mas, Ica mau pipis dulu" Cicit Raisa dengan menahan malu.


Sekarang Adam tau kenapa istrinya gelisah sejak tadi, apalagi meminta mandi di temani temannya bukan dirinya.


Namun Adam hanya mengulum senyumnya saja. Tidak menyinggung tentang Raisa yang menahan buang air itu.


"Emm, Mas bisa hadap sana dulu nggak??"


Adam terperangah lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ohh, maaf Mas nggak tau kalau kamu malu" Adam langsung berbalik, memunggungi Raisa, dan telinganya langsung mendengar suara gemericik air dari sumbernya.


"Udah yank??"


Raisa selalu terkejut saat Adam memanggilnya seperti itu. Masih asing namun mendengarnya.


"Udah Mas"


Kini justru Adam yang tanpa malu melepas kaosnya di depan Raisa dengan posisi yang masih membelakangi Raisa. Hingga Raisa bisa melihat punggung polos Adam yang penuh luka termasuk juga luka yang belum sepenuhnya mengering itu.


Tubuh Raisa berdesir hebat saat Adam juga mulai melepas celana panjangnya hingga hanya menyisakan celana boxernya saja.


Raisa hanya berusaha menahan matanya agar tidak terus tertuju pada pemandangan indah itu.


"Mau Mas bantu??"


"Bantu apa??" Raisa yang masih di fase gugupnya tak paham dengan pertanyaan Adam.


"Lepas bajunya"


Blussshhh.....


Raisa tidak tau lagi harus menyembunyikan wajahnya itu di mana lagi. Sudah pasti Adam bisa melihat wajahnya yang memerah itu.


"Kalau gini aja gimana Mas, nggak usah di lepas. Di basuh dari luar aja" Raisa mencoba menawar.


"Ya nggak bersih dong yank, apalagi kamu dari rumah sakit. Masih bau rumah sakit"


Raisa meremas jari-jarinya, otaknya tidak lagi bisa mencari alasan untuk menolak Adam.


Dengan ragu Raisa mulai melepas dress Raisa yang mempunyai banyak kancing dari atas sampai bawah.


Tapi yang membuat Raisa ingin pingsan saat ini adalah, Adam justru berjongkok di depannya dan membantunya melepas kancing itu dari bagian bawah, sementara Raisa dari atas.


"Salah nggak sih kalau gue lapor polisi karena mau dilecehkan sama suami gue sendiri??"


"Ah enggak bukan itu, gue mau lapor karena suami gue melakukan percobaan p****nuhan. Jantung gue udah mau berhenti saat ini gara-gara dia!!"


"Aakkhhhh please Mas hentikan!!!!!!!" Teriak Raisa dalam hati.


Glek....


Adam menelan ludahnya dengan kasar saat dress Raisa berhasil ia buka sampai ke paha mulus itu. Belum lagi celana d*lam yang berwarna hitam itu mulai terlihat dengan jelas.


Kemudian mulai tampaklah perut yang sudah membuncit itu. Kulit tangan Adam yang tak sengaja bersentuhan dengan perut dan paha Raisa membuat Ajun di bawah sana langsung bereaksi.


Apalagi Raisa yang kini hanya pasrah saat Adam mulai menurunkan tali b*anya.


"Ahhh ****!!" Umpat Adam saat berhasil melepas dua benda sintal itu keluar dari sangkarnya.