
"Kenapa Stevi tega banget nggak bilang dulu sama gue Sa??"
Fany kecewa pada sahabatnya satu itu. Dia merasa di tinggal sendiri di sana. Harusnya kalau pulang Stevi bisa mengajak Fany sekalian. Sedangkan sekarang, tanpa menelepon atau sebuah pesan, Stevi sudah meninggalkannya di sana.
"Tadi Stevi buru-buru Fan, aku aja sampai bantuin dia packing. Katanya, tiket pesawatnya juga udah di pesan sama Papanya. Dari sini ke bandara kan jauh Fan" Raisa berusaha mencari alasan yang tepat untuk Stevi.
Sedangkan pria yang sebenarnya menjadi penyebab kepergian Stevi secara mendadak itu hanya diam dan entah apa yang ada di pikirannya sekarang.
"Ono opo to iki?? Kok kumpul di luar, udah gelap mbok yo masuk aja" Mbah Welas datang dari dalam.
"Ini lho mbah, Stevi kok pulangnya mendadak nggak bilang-bilang dulu" Jawab Yuli.
"Loh Stepi pulang to?? Kok Mbah ndak tau, kapan pulange??"
Raisa memejamkan matanya, dia sampai tak mengingatkan Stevi untuk pamit sama Mbah Welas. Mungkin tadi pikiran mereka sedang kacau jadi mereka melupakan hal itu.
"Tadi Stevi buru-buru Mbah, terus waktu mau pamit, Adam lihat kalau Mbah lagi istirahat. Jadi Adam suruh Stevi langsung pulang aja"
Raisa berterimakasih karena suaminya itu bisa di ajak bekerjasama, meski harus dengan kebohongan.
Tapi, sepertinya Fany justru semakin merasa ada hal yang sengaja Raisa sembunyikan darinya terkait kepergian Stevi itu.
"Sebenarnya ada apa?? Kenapa sampai pamit sama Mbah Welas aja nggak sempat??"
"Yowes ayo masuk, sudah malam"
Mereka berangsur masuk, meninggalkan Fany dan Hanif yang masih berdiri di sana. Tampaknya keduanya memiliki pemikiran yang sama.
"Mas??"
"Hemm??"
"Kamu nggak ngerasa aneh??"
"Maksudnya??"
"Kepergian Stevi, kayaknya ada yang sengaja Raisa sembunyikan"
Hanif langsung mengalihkan tatapannya ke lain tempat. Entah dia merasa bersalah, atau takut Fany tau jika pulangnya Stevi ke Jakarta ada hubungannya dengan dia.
"Aku nggak tau" Jawab Hanif acuh tak acuh.
Fany terkadang kesal dengan sikap Hanif itu. Dia heran heran kenapa sahabatnya begitu menyukai pria yang sebelas dua belas dengan Adam itu.
"Bener kamu nggak tau?? Apa jangan-jangan kalian ada masalah??"
Hanif menoleh pada Fany yang terlihat sedang menatap penuh selidik kepadanya.
"Masalah?? Kenapa ada masalah?? Memang hubungan ku sama dia sedekat apa sampai ada masalah??"
Fany hanya mendengus melihat betapa angkuhnya pria itu. Kadang dia juga suka tak paham kenapa dia suka tiba-tiba baik kadang juga dingin seperti itu.
"Kamu nggak pernah sadar kalau Stevi itu tergila-gila sama kamu??"
"Saya tau"
"Terus, kalau tau kenapa kaya nggak peduli gitu sama dia??"
"Ya karena saya ngga suka. Sudah saya mau pulang dulu" Hanif seperti tak ingin melanjutkan pembahasannya tentang Stevi. Entah apa yang ada di pikiran pria itu sekarang ini.
*
*
*
Hari pun telah berganti, dan siang ini Stevi telah tiba di rumahnya setelah tadi malam memutuskan untuk menginap di hotel dekat bandara dan mengambil penerbangan jam sepuluh pagi tadi.
Stevi menyeret kopernya dengan tak bertenaga setelah turun dari taksi yang mengantarnya dari bandara. Dia memang sengaja tidak menghubungi orang rumah kalau dia pulang hari ini.
Sejujurnya dia juga menonaktifkan ponselnya karena dia yakin saat ini pasti Fany sedang sibuk menghubunginya.
"Mama!! Papa!! Aku pulang!!" Teriak Stevi menggema.
Hari ini hari minggu, pasti Papanya juga ada di rumah. Makanya dia ikut serta memanggil Papanya.
"Masuk rumah itu lebih baik salam, dari pada teriak-teriak nggak sopan kaya gitu" Cibir Mama Stevi yang sedang menikmati makan siangnya bersama Papa stevi.
"Masih ingat pulang??" Bukannya di sambut dengan suka cita oleh kedua orang tuanya, tapi Stevi langsung dihujani sindiran seperti itu.
"Masih dong Pah, kan Stevi kangen sama Papa Stevi yang ganteng ini"
Cup...
Stevi mencium pipi Papanya lalu memeluk leher Papanya itu dengan manja dari belakang.
"Papa kamu doang??" Ada satu lagi yang tidak terima.
"Mama juga dong"
Cup...
Stevi beralih kepada wanita yang menjadi idolanya itu.
"Maaf ya Stevi baru pulang. Soalnya betah banget di sama Mah. Kampungnya enak, sejuk, terus di tenaga perkebunan sayur organik gitu loh. Mama pasti suka kalau di sana. Bisa petik sayur sepuasnya" Cerita Stevi pada kedua orang tuanya, menutupi luka di hatinya dengan senyumnya itu. Dia tidak ingin membuat kedua orang tuanya berpikiran macam-macam ketika Anak gadisnya itu pulang salam keadaan tidak baik-baik saja.
"Waahh beneran?? Kapan-kapan kita pergi ke sana ya Pa??
Papa Stevi langsung melengos mendengar pemintaan istrinya itu. Benar-benar tidak bisa di ajak kerja sama untuk mendiamkan Stevi saat anak itu pulang.
"Kamu yakin di sana betah karena suasananya?? Nggak karena ada sesuatunya?? Jarang-jarang kamu betah di tempat baru kalau nggak ada apa-apanya"
Stevi langsung terdiam, mengingat kembali alasan kenapa dia begitu betah di sana. Di samping memang dia suka dengan suasananya.
"M-maksud Papa apa??" Gugup Stevi.
"Papa kan cuma tanya" Papa Stevi mendongak menatap putrinya yang tiba-tiba menghilangkan senyum lebarnya itu.
"Stevi ke kamar dulu ya. Capek pingin istirahat"
Stevi kembali menyeret kopernya ke atas dengan buru-buru. Dia juga di buat kesal dengan sendirinya karena tiba-tiba air matanya kembali menetes. Padahal Papanya hanya mengungkit hal yang membuatnya betah dikampung Adam.
"Awww!! Santai dong gaes!!" Teriak remaja pria yang bahunya di tabrak oleh Stevi dengan keras.
"Makanya kalau jalan lihat-lihat!!" Sungut Stevi kembali berjalan menuju kamarnya.
"Dia yang nabrak, gue yang disalahin. Pulang-pulang makin ngeselin aja. Lagi PMS kalinya" Gumamnya.
Remaja pria yang rambutnya masih acak-acakan itu kemudian menyusul kedua orang tuanya di meja makan.
"Siang Ma??"
"Cuci muka dulu, baru makan!!" Protes Mamanya karena anak kelas tiga SMP itu langsung ikut makan walau baru terbangun di siang hari seperti ini.
"Punya anak dua nggak ada yang bener" Cibir Papa Stevi.
"Kevin keburu laper Ma, nggak sempet. Nanti aja sekalian mandi" Kevin, adik kandung Stevi tetap asik melahap makan siangnya.
"Ck" Decak Mamanya.
"Tapi, ngomong-ngomong, Kakak kenapa Ma??"
"Kenapa emangnya??"
"Tadi buru-buru masuk kamar sambil nangis. Mana nabrak-nabrak nggak mau minta maaf lagi"
Kedua orang tua yang ada di sana langsung saling menatap dengan curiga.
"Benar kan Ma, pasti ada apa-apa di sana. Papa sempat nggak yakin kalau dia bisa betah lebih dari seminggu kalau nggak ada apa-apanya"