Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Seandainya


Adam yang berteriak dari dalam kamarnya membuat Yuli, Widodo dan kedua sahabat Raisa berlari menghampiri kamar Adam.


"Ono opo Dam??" Yuli sudah terlihat cemas meski belum tau apa yang telah terjadi sehingga Adam berteriak panik seperti tadi.


"Mbak, Mas, tolong siapkan mobil kita bawa Raisa ke Rumah sakit sekarang!!" Wajah Adam yang sudah pias mencoba untuk tetap tenang meski hatinya ketakutan setengah mati.


Yuli langsung paham maksud Adam ketika melihat tangan Adam dan mukena Raisa penuh darah. Apalagi Raisa yang bersandar tak sadarkan diri di dekapan Adam.


"Iya Dam, kita siapkan dulu. Mbak minta tolong sama kalian berdua untuk menyiapkan baju ganti untuk Raisa seadanya saja kita harus cepat!!" Yuli meminta tolong pada Stevi dan Fany yang terduduk di samping Raisa. Sementara Widodo sudah berlari keluar menyiapkan mobil.


"Iya Mbak" Stevi dan Fany langsung menyambar koper Raisa. Mengeluarkan barang-barang yang menurutnya tidak perlu di bawa.


"Ayo Dam, bawa keluar. Mbak bantu" Adam menggendong Raisa keluar sementara Yuli mengikuti Adam sambil menyambar kain di atas sofa kamar itu untuk menyelimuti tubuh Raisa yang berlumuran darah.


Sudah hampir dua puluh menit perjalanan, namun mereka belum juga tiba di Rumah sakit. Kampung Adam yang bisa di bilang di daerah pegunungan membuat jarak ke Rumah sakit terdekat terasa sangat lama.


"Mbak, apa nggak ada Rumah sakit yang paling dekat aja Mbak?? Kasihan Raisa dan anakku Mbak" Adam tak malu menangis di depan Yuli dan Widodo saat ini.


Dalam hati Adam saat ini sedang mengutuk dirinya sendiri karena tidak becus menjaga istri dan calon anaknya.


Dia menyalahkan dirinya sendiri karena Raisa menjadi seperti itu pasti karena terlalu banyak beban pikiran yang disebabkan oleh Adam.


Raisa pasti terus memikirkan dirinya yang menjadi pecundang karena berusaha menghindar dari maslaah. Belum lagi dia kelelahan harus menempuh perjalanan jauh untuk menyusulnya ke desa. Meski dari jakarta ke Semarang naik pesawat, tapi dari bandara ke rumah Adam yang ada di pegunungan hampir tiga jam sendiri.


"Lima menit lagi kita sampai di Rumah sakit Dam. Tapi hanya Rumah sakit kecil yang penting bisa memberikan pertolongan pertama untuk istrimu dulu" Ujar Widodo yang terus mencoba melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Sabar Dam, kuatkan hatimu supaya Raisa juga kuat" Hanya ada Yuli dan Widodo yang menemani Adam saat ini. Karena Stevi dan Fany di minta Yuli untuk menenangkan Mbah Welas yang tadi ikut panik melihat Adam menggendong istrinya yang tak sadarkan diri.


"Bertahanlah Ca, kamu boleh hukum Mas semau kamu setelah ini, asalkan kamu bertahan. Mas minta maaf sayang" Adam semakin mendekap Raisa serta mencium wajah Raisa yang pucat pasi itu.


Tangan Raisa yang terus di genggamnya juga terasa dingin sekali.


Yuli yang ada di samping Adam tak kuasa menahan tangis melihat Adiknya menangis seperti itu.


"Apa darahnya masih keluar terus Mbak??" Tanya Adam pada Yuli yang memangku kaki Raisa.


"Sepetinya enggak Dam, semoga sudah berhenti ya"


Benar kata Widodo, lima menit tepat mobil mereka memasuki area Rumah sakit yang tak bisa di bilang besar.


"Suster tolong!! Ada pasien!!" Teriak Widodo yang langsung meloncat keluar dari mobil.


Ikut membantu menarik brankar yang digunakan untuk menjemput Raisa.


"Maaf Pak, Bapak bisa tunggu di sini saja" Seorang perawat mencegah Adam untuk ikut masuk ke dalam IGD.


"Tapi sus, saya sua..."


"Dam, tenanglah dulu. Biarkan dokter memeriksa Raisa dulu. Kamu duduk dulu, kita doakan istrimu" Yuli meraih lengan Adam dan membawanya duduk pada kursi besi yang ada di depan IGD itu.


Bruk...


Adam menjatuhkan bokongnya di kursi keras itu. Badannya sudah lemas sepertu tak bertulang lagi saat ini.


"Mbak, ini semua gara-gara aku Mbak" Adam menjambak rambutnya sendiri dengan tangan yang berlumuran darah kering itu.


"Istighfar Dam, kita berdoa dulu untuk istri dan anak kamu di dalam sana"


Adam hanya diam tak menyahuti Yuli. Baginya tetap dia yang salah. Raisa pasti begitu tertekan setelah kepergiannya membuat kandungannya terguncang.


Apalagi Adam melihat sendiri perubahan pada diri Raisa. Pipi tirus dan juga badannya yang sedikit kurus itu harusnya sudah bisa menjadi bukti.


Seorang perawat keluar mendekati Yuli, menanyakan apa yang terjadi pada Raisa sehingga terjadi pendarahan seperti itu.


Sementara Adam seakan tak peduli dan membiarkan Yuli yang menjelaskan semuanya seperti yang tadi Adam ceritakan di dalam mobil.


Pria itu hanya menangis dalam diam sambil terus menyalahkan dirinya sendiri. Sekarang kata "Seandainya" itu terus menggerayangi Adam.


Seandainya saja dia tidak menghindar dari Raisa...


Seandainya dia tidak kecewa berlebihan pada istrinya....


Seandainya dia memaafkan Raisa sejak kemarin-kemarin...


Seandainya dia tidak menjadi pengecut...


Pasti semua itu tidak akan terjadi. Sekarang dia ketakutan, ketakutan jika terjadi suatu hal yang tidak dia inginkan. Bagaimana dia akan menghadapi Raisa kelak.


Sanggupkah dia kembali menghadapi Raisa yang begitu membencinya seperti dulu??


Yuli kembali mendekati Adam dan Suaminya yang saling duduk terdiam.


"Mas, coba kamu keluar dulu carikan Adam baju ganti. Sarung dan bajunya sudah penuh darah seperti itu." Bisik Yuli pada Widodo. Yuli tidak tega melihat Adam kotor dan berantakan seperti itu.


"Kalian gimana kalau aku tinggal??"


Yuli berpikir lagi, bagaimana jika nanti butuh sesuatu. Tidak mungkin dia pergi meninggalkan Adam sendirian di sana.


"Kalau gitu telepon Hanif saja. Suruh dia nyusulin baju Adam ke sini" Hanif adalah salah satu karyawan di kebun milik Adam.


Widodo mengangguk setuju, lalu dia beranjak menjauh dari sana. Mau beli baju di luar untuk jam yang mulai malam seperti ini, di wilayah kota kabupaten mana ada toko yang masih buka.


Adam masih terus melafalkan doa di dalam hati. Dengan segenap penyesalannya dia memohon kepada Sang Maha Pencipta utuk memberinya kesempatan menebus semua kesalahannya kepada istri dan anaknya.


Setelah ini, Adam akan menerima apa saja sikap Raisa kepadanya. Mau di caci maki seperti dulu pun Adam akan menerimanya dengan ikhlas. Asalkan kedua belahan jiwanya itu kembali bersamanya.


"Keluarga Ibu Raisa??" Adam langsung berlari mengaliri seorang pria dengan jas putih itu.


"Saya suaminya dokter, gimana keadaan istri dan anak saya?? Istri saya nggak papakan dokter?? Anak saya gimana??" Tanya Adam tak sabaran.


"Sabar Dam" Yuli terus memegang lengan Adam karena tak ingin Adam lepas kendali.


Dokter laki-laki yang sudah keriput itu tampak sendu dan itu membuat jantung Adam semakin berdetak tak tenang.