
Raisa menuruni tangga sambil memakai kardigan untuk menutupi bahunya yang tidak tertutup baju tidurnya. Dengan wajah yang hanya di usap dengan air untuk menghilangkan kantuknya, Raisa turun untuk menemui Sandi.
Raisa juga penasaran dengan apa yang akan Sandi katakan hingga pagi-pagi seperti ini sudah berada di rumahnya. Bukankah pria itu biasanya terlalu sibuk untuk sekedar menemui Kakaknya sendiri, Papanya Raisa.
Pria yang memiliki kemiripan wajah hampir 80 ℅ dengan Satya itu sudah duduk manis di sofa ruang keluarga dengan bersilang kaki.
"Pagi Om" Sapa Raisa pada pria yang masih gagah di usianya saat ini.
"Pagi ponakan Om yang paling cantik. Baru bangun yaa??"
Raisa hanya tersenyum menanggapi Omnya itu.
"Nggak papa, pengantin baru emang suka gitu" Sandi terkekeh sendiri dengan candaannya itu.
"Kaya Om udah pernah aja" Sarkas Raisa, lalu dia duduk di depan Sandi. Om Raisa satu-satunya itu memang belum menikah.
"Kamu jangan ngeledek ya Sa"
"Hehe maaf Om"
Sandi tampak melihat ke sekelilingnya, menoleh juga ke belakang dari arah datangnya Raisa tadi.
"Dia di mana??"
"Dia siapa??" Raisa tak tau siapa yang di maksud Sandi.
"Si kacung itu"
"Mas Adam??"
"Siapa lagi"
Raisa mengepalkan tangannya, tak terima Adam di pandang serendah itu oleh Sandi. Raisa jadi teringat saat dia sendiri terus merendahkan Adam, tapi dia tak suka orang lain menghina suaminya itu.
"Dia bukan kacung Om. Dia suami ku"
Dandi mengeringkan matanya dengan jengah, sangat tidak suka dengan sanggahan dari Raisa.
"Sa, kamu sadar apa yang kamu katakan itu?? Kamu benar-benar menerimanya menjadi suami kamu??"
"Maksud Om??"
Raisa sebenarnya masih bingung karena sejak tadi Omnya itu tidak kunjung mengatakan maksud kedatangannya. Di tambah lagi, sekarang justru menyinggung hubungannya dengan Adam.
"Ayolah Sa, Om tau kalau kamu dari dulu tidak menyukainya"
"Sebenarnya tujuan Om datang ke sini apa??"
Sekali lagi Sandi melihat ke sekelilingnya, dia tak mah apa yang ingin ia katakan di dengar oleh siapapun di rumah itu.
"Om tau kamu nggak terima kan, kalau si kacung itu yang memegang kendali perusahaan Papa mu??"
Raisa tak beraksi apapun, dia ingin menyangkal tapi memang kenyataannya saat ini dia masih tidak terima dengan keputusan Papanya itu. Meski Raisa sudah mulai menerima pernikahan merekam tapi untuk yang satu itu, Raisa masih berat.
"Om juga sama dengan mu Sa. Jujur Om tidak ada maksud lain. Om cuma nggak mau kalau semua harta yang harus di miliki keponakan Om di ambil habis sama orang lain"
"Sejak kedatangan dia ke sini, Om sudah tidak menyukainya. Om tau kalau dia punya niat terselubung. Itu juga alasan yang membuat Om tidak hadir di pernikahan kamu. Om tidak rela keponakan Om yang cantik ini di manfaatkan demi keserakahan Adam"
Raisa semata Omnya semakin dalam. Mencari tau apa yang membuat Omnya itu repot-repot mencampuri urusan keluarganya. Meski Sandi itu adalah adik kandung Papanya, tapi seharusnya itu bukan ranahnya lagi. Entah apa yang Adam perbuat sampai Omnya itu sangat membenci Adam.
"Jadi??"
Sandi sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Raisa.
"Om hanya butuh kepercayaan kamu Sa. Om akan bantu kamu mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi milik kamu. Om akan tunjukkan kebusukan Adam di hadapan Papa kamu. Om yakin bisa menghancurkan kutu busuk itu"
Lagi-lagi Raisa hanya terdiam, dia tidak setuju juga tidak membantah. Jujur dia merasa berat di kedua sisi.
Dia memang ingin membongkar kebusukan Adam sesuai dengan rencana awalnya. Tapi seolah hatinya terus menolak. Ada rasa yang menahan Raisa agar tetap percaya pada Adam. Ada juga yang tidak menginginkan kemarahan Adam lagi. Dia sudah begitu susah payah membuat Adam percaya lagi. Berat rasanya menghancurkan kepercayaan Adam lagi.
"Hanya itu yang ingin Om katakan. Sekarang pikirkan baik-baik. Om tau kalai kamu bisa mengambil keputusan yang benar"
Raisa kembali ke kamarnya dengan kepala yang di penuhi banyak sekali pikiran, sampai dia tak sadar kalau Adam saat ini baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Adam memang sengaja bangun siang karena badannya merasa begitu lelah.
Kalian berpikir Raisa akan mendapatkan pemandangan indah dadi Adam yang baru saja mandi?? Perut kotak-kotak dada berotot dengan handuk yang sebatas pinggang?? Maka kalian salah besar. Raisa juga heran, kenapa Adam tidak pernah mempertontonkan otot perut itu kepadanya.
"Dari mana??" Adam mendekat pada Raisa yang masih diam di depan pintu.
"Ketemu Om Sandi" Raisa sengaja memalingkan wajahnya, entah dia merasa begitu malu menatap Adam hanya karena mimpi liarnya tadi. Padahal Adam juga tidak akan pernah tau, tapi tidak tau kenapa Raisa merasa begitu malu.
"Kenapa dia datang pagi-pagi kaya gini?? Biasanya juga nggak pernah"
"Kangen aku katanya. Lagian wajar dong, dia kan Om ku" Raisa melewati Adam, tak kuat harus berlama-lama di hadapan suaminya itu. Apalagi rambutnya yang harum karena shampo tercium sangat menyengat membuat Raisa kembali merasa merinding.
Seketika Raisa langsung merasa seperti wanita murahan yang begitu harus belaian.
"Dia memang Om kamu Sa. Tapi kamu harus hati-hati sama dia. Tidak semua orang bisa kamu percaya"
Raisa langsung menoleh kembali ke belakang, menatap Adam yang juga tampak serius menatapnya.
"Maksud kamu??"
"Tidak ada, aku hanya memperingatkan saja" Kemudian Adam berlalu menuju balkon degan handuk yang masih di bawanya untuk mengeringkan rambutnya.
"Apa kamu juga bisa di percaya?? Atau aku harus hati-hati juga sama kamu??" Raisa terus menatap punggung Adam dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di dalam benaknya.