Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Bukan siapa-siapa


"Hoek..hoek.. "


Raisa mengerjapkan karena mendengar suara Adam di salam kamar mandi. Setelah itu dia baru buru-buru menyusul Adam ke dalam sana.


Raisa melihat Adam yang masih membungkuk di wastafel sambil memegangi perutnya. Laki-laki itu terlihat semakin pucat karena berusaha mengeluarkan isi perutnya.


"Kamu kenapa Mas??"


Raisa tidak tau apa yang harus dia lakukan, dia hanya bisa mengusap lembut punggung Adam.


"Nggak papa, udah biasa kok" Jawan Adam sambil membersihkan bibirnya dengan air.


"Hah??" Bingung Raisa.


Adam meraih tangan Raisa dan membawanya kembali ke kamar.


"Seperti yang di katakan dokter Wira tadi, kalau aku juga merasakan apa yang kamu rasakan"


Adam kembali membaringkan tubuhnya, rasanya masih sangat lemas saat ini. Bahkan dia mengabaikan untuk mengganti baju lebih dulu, dan justru memejamkan matanya di sana.


"Sejak kapan kamu kaya gini??"


Adam membuka matanya kembali, menatap istrinya yang duduk si sisi ranjang menghadap ke arahnya.


"Sudah dua minggu ini, makanya saat dokter Wira bilang kamu nggak hamil, aku nggak percaya" Adam kembali menutup matanya, kali ini dia menutup mata dengan lengannya.


Raisa terdiam, dia tidak menyangka jika Adam bisa menyadari kehadiran anak mereka yang saat ini Raisa sendiri masih ragu.


Bahkan Raisa saja tidak pernah melihat Adam mual-mual seperti itu sebelumnya.


"Apa ini yang dinamakan ikatan batin antara Ayah dan anak??"


"Tapi darimana kmu tau tentang kaya ginian??"


"Dari kita menikah, aku sudah siap dalam segi apapun termasuk kalau kamu hamil karena malam itu kita benar-benar melakukannya"


Raisa membuang wajahnya karena Adam membahas malam panas mereka lagi.


"Jadi aku udah cari tau semuanya tentang kehamilan"


Tiba-tiba perasaan Raisa menjadi haru. Dia tersentuh dengan apa yang dilakukan Adam.


"Tapi kenapa kamu tetap pura-pura nggak tau kalau aku hamil??"


"Sengaja, biar orang yang kamu ajak berbohong yang membongkar kebohongan kamu sendiri"


Raisa memang tadi merasa malu di depan Adam dan dokter Wira. Tapi semua itu ada alasannya, Raisa tak mungkin berbohong untuk hal membahagiakan seperti itu jika tidak ada apa-apa.


Pada awalnya Raisa juga sudah mempunyai niat untuk memberitahu Adam. Berniat pula untuk membesarkan anak mereka bersama-sama tapi hadirnya wanita itu di saat yang sangat tidak tepat membuat Raisa mengurungkan niatnya. Bahkan sampai tidak ingin memberitahu Adam sama sekali sampai terbesit keinginan untuk berpisah.


"Sebenarnya aku udah mau kasih tau kamu setelah dari rumah sakit"


"Bohong" Bantah Adam.


"Ck" Raisa berdecak menatap kesal pada Adam.


"Aku nggak bohong!! Karena saat di rumah sakit aku ketemu dokter Wira. Dia bilang kalau kamu terlihat kecewa saat dokter Wira membohongi kamu waktu itu"


"Memang benar" Adam masih setia menutup matanya dengan lengan tangannya itu. Dan sebenarnya itu membuat Raisa kesal karen Adam seperti tidak serius bicara dengannya.


"Tapi nggak jadi karena aku lihat pacar kamu itu keluar dari ruangan kamu. Mana mungkin aku mau kasih tau kamu, tentang kehamilan aku. Sementara kamu sendiri ada wanita yang kamu cintai. Siapa tau kamu masih mau kembali sama dia" Raisa menundukkan kepalanya sendu.


Adam menyingkirkan lengannya kemudian menatap Raisa dengan wajah terkejutnya.


"Mukanya nggak usah terkejut kaya gitu, jelek tau" Cibir Raisa membuat Adam ingin ******* bibir yang suka semena-mena itu.


Adam kini memilih duduk mensejajarkan tubuhnya dengan Raisa.


"Sudah aku bilang kalau dia bukan pacarku Sa" Adam menatap Raisa begitu dalam, berharap istrinya itu bisa melihat kejujuran di matanya.


"Nggak mungkin!! Jelas-jelas dulu aku lihat dia peluk-peluk kamu sambil bilang cinta-cintaan kok" Raisa kembali menatap Adam setelah beberapa detik memalingkan wajahnya.


Raisa baru sadar kalau keceplosan tentang kejadian lima tahun yang lalu.


"Peluk-peluk?? Cinta?? Apa maksud kamu Sa?? Aku nggak per..." Tiba-tiba Adam sadar akan sesuatu. Dimana dulu Ayu pernah datang menemuinya.


Ayu memang menemui Adam dan mengatakan ingin menunggunya sampai kapan pun. Tapi Adam tidak pernah menjawabnya, karena memang Adam tidak pernah mencintai Ayu. Adam hanya menganggap Ayu sebagai sahabatnya saja karena mereka sudah berteman sejak kecil.


"Jadi kamu ada di sana waktu itu??"


"Iya, kenapa?? Nggak bisa ngelak lagi kan??" Raisa bersedekap seolah sombong dengan ucapannya.


"Kamu dengar dia ngomong apa??"


"Hemm" Sahut Raisa.


Adam mendadak diam, seperti memikirkan sesuatu sebelum meraih tangan Raisa kemudian menggenggamnya.


Mata Raisa sendiri masih mengikuti pergerakan tangan Adam yang kini mengudap tangannya dengan lembut.


"Aku nggak tau harus mulai dari mana, bahkan aku nggak tau bisa cerita semuanya sama kamu apa enggak"


"Semua yang kamu dengar waktu itu memang benar, tapi yang jelas pikiran kamu tentang aku dan Ayu salah besar. Aku tidak pernah menganggap dia sebagai wanita yang aku cintai. Semua yang dia katakan hanya perasannya saja, lain dengan aku"


"Kamu pasti nggak ada di sana sampai selesai kan?? Makanya kamu nggak dengar aku ngomong apa sama Ayu"


Adam tidak tau kalau ternyata Raisa selama ini telah salah paham dengan hubungannya dengan Ayu.


"Tapi dia bilang, dia mau nungguin kamu sampai kapan pun. Terus kalian juga sudah direstui sama orang tua kalian kan??"


Adam tersenyum menatap Raisa "Jadi kamu cemburu??"


"Dih, sorry ya" Raisa mengerlingkan matanya.


"Sekali lagi aku tegaskan Sa, aku tidak sedang menjalin hubungan dengan wanita manapun termasuk Ayu, terkecuali kamu. Meski pernikahan kita tanpa cinta sekali pun, tapi hanya kamu wanita yang ada di hidup ku saat ini"


"Dan maaf aku belum bisa menjelaskan siapa itu Ayu dan kenapa dia bisa bicara kaya gitu. Tapi aku janji, suatu saat akan ku jelaskan semuanya"


Raisa terdiam bukan hanya karena tersentuh dengan penjelasan dan janji Adam itu. Tapi Raisa juga terperangah karena Adam yang sejak tadi terus mengeluarkan banyak suara.


Tidak lagi menjadi Adam yang diam dan dingin di hadapannya. Kini Adam benar-benar berubah.


Krukk krukkk...


Raisa menundukkan wajahnya karena merasa malu dengan suara perutnya sendiri.


Adam menahan senyumnya kemudian mengusap perut Raisa dengan lembut.


"Anak kita lapar ya??"


Blusshhh...


Pipi Raisa memerah mendengar kata-kata Adam.