
Raisa hanya bisa meringis karena di tatap oleh keuda sahabatnya dengan tajam.
"Bener-bener lo ya Sa. Kayaknya udah nggak menganggap kita sahabat lo lagi" Fany masih bersedekap menatap tajam pada Raisa.
"Sorry" Cicit Raisa sambil menunjukkan dua jarinya pada Fany dan Stevi.
"Hal sebesar ini lo mau sembunyikan dari kita??" Stevi menambahi.
Raisa memang baru menceritakan perihal kehamilannya itu kepada kedua sahabatnya. Setelah apa yang ia coba sembunyikan itu di ketahui oleh Adam.
"Maaf, bukan maksud gue kaya gitu. Tapi saat itu gue kalut banget. Kalian ingat kan saat gue cerita tentang cewek yang dekat sama Mas Adam??" Kedua wanita di depan Raisa pun mengangguk.
"Di hari itu juga gue baru tau kalau gue benar-benar hamil. Terus niatnya gue mau kasih tau Mas Adam, tapi malah lihat cewek itu. Gue bingung saat itu, gue nggak tau harus gimana karena saat gue hamil tapi ada wanita lain di hidup Mas Adam, sampai akhirnya gue juga nggak jadi kasih tau Mas Adam"
Stevi mengusap lembut bahu Raisa. Dia ingat saat sahabatnya itu menangis karena suaminya menemui wanita lain.
"Jadi sekarang Mas Adam udah tau??" Raisa mengangguki pertanyaan Fany.
"Terus reaksi dia gimana??"
Raisa pun menceritakan tentang Adam yang sebenarnya sudah tau tentang kebohongannya itu.
"Gila, nggak kebayang sih kalau gue jadi Mas Adam. Pasti kecewa dan marah besar, tapi gue salut sama laki lo itu Sa. Walau sempat marah, tapi dia bisa tetap tenang kaya gitu" Timpal Stevi.
"Beber Step. Udah gue bilang dari dulu kan kalau Mas Adam itu tipe pria sempurna di mata gue. Walaupun dingin, tapi dia itu dewasa dan matang, wajahnya yang ganteng dan badannya yang bagus itu semakin membuat dia sempurna di mata gue"
Raisa melirik Fany tajam. Dia merasa tak suka saat Fany terang-terangan memuji suaminya itu.
"Bener Fan. Kalau gue dapetin Mas Adam, nggak akan gue biarin ada wanita lain yang mendekatinya, lalat sekalipun bakalan gue tebas!!"
Kedua sahabatnya itu benar-benar membuat telinga Riasan panas. Menurutnya, keduanya bisa menjadi bibit pelakor untuk rumah tangganya jika seperti itu. Pelakor yang terang-terangan menginginkan suaminya di depan wajahnya sendiri.
"Ingat ya!! Yang kalian puji-puji itu suami gue!!" Sinis Raisa untuk menghentikan mulut Fany dan Stevi yang terus menggosipkan suaminya.
"Ciee cieee Raisa, sweet banget sih lo. Sekarang udah mulai mengakui Mas Adam nih yeee" Ledek Fany.
"Iya iya si paling suami gue"
Wajah Raisa sudah seperti kepiting rebus kali ini. Mereka yang duduk di cafe rooftop di tambah cuaca siang hari di kota Jakarta membuat wajahnya semakin bersemu merah.
"Sa?" Suara bariton itu menghentikan Fany dan Stevi yang terus menggoda Raisa.
Adam tiba-tiba sudah berada di sana, mendekat ke arah mereka bertiga dengan pakaian kasualnya.
Penampilan Adam yang begitu berbeda itu tentu saja membuat Fany dan Stevi melongo karena terpesona. Pasalnya baru kali ini mereka berdua melihat Adam yang melepaskan pakaian formalnya.
Adam datang untuk menjemput Raisa dengan celana jeans berwarna navy yang membalut kaki panjangnya. Serta t-shirt hitam yang begitu pas di tubuh proporsionalnya. Kemudian sneakers putih serta topi putih yang di gunakan untuk menutupi rambutnya yang tidak di sisir dengan rapi kali ini. Satu kata untuk penampilan Adam kali ini, sempurna.
"Mas Adam??"
"Kamu sudah selesai??" Adam meletakan tangannya di sandaran kursi yang di duduki Raisa.
"Sudah" Raisa mendongak menatap suaminya yang tinggi menjulang itu.
"Kita pergi yuk"
Fany dan Stevi ingin berteriak saat melihat Adam mengulurkan tangannya untuk Raisa.
"Iya" Perlahan namun pasti, dengan semburat merah jambu di pipi Raisa, menahan malu di hadapan kedua temannya, Raisa meraih tangan Adam.
"Aaaaa sweet bangeeetttt" Ucap kedua wanita yang hanya bisa melihat kemesraan sepasang suami istri itu.
"Kita pergi dulu ya" Raisa bahkan bisa mengubah nada bicaranya pada Fany dan Stevi dengan lebih lembut di depan Adam.
Namun kedua wanita itu tak menyahut sekalipun. Mereka terus menikmati pemandangan indah maha karya Sang Maha Kuasa itu hingga masuk ke dalam lift.
"Ya Allah, sisakan satu aja laki-laki kaya Mas Adam"
"Enak aja cuma satu!! Gue juga mau dong!!" Sahut Stevi menimpali doa sahabatnya itu.
"Kita ke supermarket dulu ya Sa??" Adam sudah mulai menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran cafe.
"Mau beli apa??"
"Kamu kan belum ada susu untuk ibu hamil"
Raisa menatap Adam yang berada di sampingnya. Dia tak menyangka jika pria itu begitu detail memperhatikan tentang kehamilannya. Dia jadi semakin merasa bersalah karena sempat membohongi Adam. Tak menyangka jika Adam begitu menginginkan bayinya.
Tapi sebenarnya ada yang masih ada di dalam benak Raisa. Alasan lain kenapa Adam mau mempertahankan pernikahan mereka meski tanpa adanya cinta sama sekali.
Mengingat kembali kata-kata Adam beberapa hari yang lalu saat mengatakan Adam tidak ada hubungan apapun dengan Ayu. Raisa merasa sedikit lega, namun masih bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya wanita yang Adam cintai. Tidak mungkin pria itu sudah hidup selama 28 tahun tanpa ada satupun wanita yang dia cintai.
"Kenapa??" Adam menyadari jika Raisa terus saja menatapnya.
"Cuma heran aja, es balok kaya kamu bisa berubah kaya gini"
"Kaya gini gimana maksudnya??"
"Ya kaya gini, masa harus dijelasin" Raisa mendadak berubah kesal.
"Ya kan aku nggak tau Sa, berubah yang kaya gimana maksud kamu itu"
"Udah ah, lupain aja!!" Raisa menekuk wajahnya menghadap ke samping. Menurutnya selain Adam berubah menjadi hangat dan perhatian, pria itu juga berubah sangat menyebalkan.
"Memangnya nggak boleh?? Aku kan berubah hanya demi kamu"
Bukan cuma jawaban Adam yang membuat Raisa terkejut, tapi juga usapan lembut pada kepala Riasa.
"Apa maksudnya hanya demi gue??"