
Stevi menghapus air matanya dengan benar-benar kering sebelum dia memasuki rumah. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan Raisa dan yang lainnya.
Tok..tok..tok..
Stevi menarik nafas panjangnya sebelum berhadapan dengan penghuni kamar yang ia ketuk itu.
"Stev??" Raisa langsung terkejut melihat Stevi berdiri di depan kamarnya dengan wajah sembab.
"Lo kenapa??" Raisa terlihat begitu khawatir.
"Sa, tadi Papa telepon katanya ada masalah di kantor. Jadi gue harus pulang sekarang" Dusta Stevi. Mungkin itu alasan yang paling bisa di terima Raisa agar dia bisa pergi dari sana.
"Tapi kenapa mendadak banget Stev??"
"Gue juga nggak tau, tapi kata Papa gue harus pulang. Sekarang baru jam empat, dan pesawat gue nanti jam delapan. Jadi kalau berangkat sekarang masih bisa sampai bandara tepat waktu" Lagi-lagi Stevi berbohong, dia sama sekali belum memesan tiket. Dia hanya menghitung waktu perjalanan dari kampung Adam ke bandara saja.
"Mata lo sembab gitu, lo nangis??"
Stevi langsung gugup, dia tau kalau mengusap air matanya hingga kering saja tak cukup menyembunyikan keadaannya yang menyedihkan.
"Gue sedih aja harus pulang duluan" Jawab Stevi berusaha untuk tersenyum.
"Lo pulang sama Fany kan??"
"Gue sendiri Sa, Fany lagi pergi sama Mbak Yuli ke bawah. Nanti tolong kasih tau Fany ya?? Gue nggak sempet, harus beres-beres sekarang"
"Tapi Stev"
"Gue packing dulu" Potong Stevi dengan cepat. Sesungguhnya hatinya belum siap bicara dengan siapapun. Dia sudah mati-matian menahan air matanya di depan Raisa.
Kini Raisa hanya menatap Stevi yang sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Stevi kenapa??" Adam muncul di belakang Raisa.
"Dia mau pulang ke Jakarta sekarang Mas. Katanya ada masalah di kantor dan Papanya suruh dia pulang sekarang" Adam hanya manggut-manggut saja.
"Sama Fany kan??"
"Enggak, katanya Fany lagi keluar sama Mbak Yuli. Ini juga dadakan dan harus segera berangkat. Mas tolong carikan orang yang bisa antar Stevi ke bandara ya??"
"Iya, Mas siapin mobilnya dulu"
Sementara itu, Raisa menyusul Stevi ke kamarnya. Membantu sahabatnya itu untuk berkemas.
Stevi memasukkan semua bajunya dengan asal ke dalam koper dengan sesekali mengusap pipinya yang terus-terusan basah.
"Mungkin gue emang nggak berjodoh sama Mas Hanif"
"Gue juga nggak tau kenapa gue bisa kaya gini. Padahal gue baru kenal beberapa hari tapi rasanya sesakit ini"
"Gue nggak bakalan bisa tetap di sini karena bakalan terus ketemu dia. Hati gue nggak sanggup"
"Emang pulang adalah jalan yang paling tepat buat gue menjauh dari dia. Gue yakin kalau gue menjauh, gue bakalan bisa lupain dia dengan cepat" Seperti biasanya jika Stevi dekat dengan pria. Dia akan mudah lupa hanya dengan beberapa hari tidak bertemu.
"Masalah tiket, gue beli di sana aja. Mau adanya penerbangan besok juga nggak papa, yang penting gue pergi dulu dari sini"
Mendadak Stevi menghentikan tangannya yang sedang menutup kopernya itu.
"Tapi, apa Fany juga suka sama Mas Hanif??"
"Kalau iya, gue tetap akan dukung hubungan mereka meski hati gue sakit. Gue nggak mau jadi wanita yang jahat dan egois hanya demi cinta, gue mengorbankan kebahagiaan sahabat gue"
"Stev??" Stevi buru-buru menghapus air matanya, lalu ia berbalik mengemasi skincarenya untuk menghindari tatapan Raisa.
"Kenapa Sa??"
Mendengar suara Stevi yang sumbang itu, membuat Raisa tau kalau Stevi sedang menangis.
Raisa mendekat lalu meraih lengan Stevi untuk menatap wajah sahabatnya itu.
"Jujur sama gue lo kenapa??" Tanya Raisa dengan tegas dan tatapan matanya yang meminta penjelasan.
"Apaan sih lo Sa?? Gue kan udah bi..."
"Jujur atau gue nggak kasih ijin lo pulang sekarang!!" Tekan Raisa.
Untuk beberapa detik mata mereka saling beradu. Tapi mata Stevi langsung kembali mengabur tertutup air mata.
"Hiks..hiks.."
Raisa memeluk Stevi yang terlihat sedang tidak baik-baik saja. Raisa membiarkan tangis Stevie pecah di pundaknya.
"Sa, apa gue ini nggak tau diri?? Apa gue ini orang yang nggak tau malu?? Gue pengganggu ya Sa??" Raisa terus mengusap punggung Stevi yang terus bergetar.
Raisa melepaskan pelukannya, lalu mengajak Stevi untuk duduk di tepi ranjang. Raisa belum tau betul apa yabg sedang terjadi.
"Sekarang lo cerita sama gue, biar gue paham" Raisa mengusap air mata di pipi Stevi.
Dengan sesenggukan, akhirnya Raisa menceritakan semuanya pada Raisa.
"Gue nggak mau egois Sa, gue bakalan ikut senang kalau mereka berdua saling mencintai. Tapi gue perlu waktu buat sembuhin hati gue. Gue pingin sendiri"
Sementara Raisa justru di ambang dilema. Dia berada di antara dua sahabatnya. Dia tidak tau haris bagaimana.
"Gue tau lo bingung kan Sa?? Lo nggak mungkin dukung salah satu dari kita kan Sa??" Benar tebakan Stevi.
"Tapi lo bener Sa, lo nggak harus dukung perasaan gue. Justru gue mau kita berdua dukung perasaan Fany jika emang benar dia punya perasaan sama Mas Hanif"
"Tapi lo gimana Stev??" Raisa sendiri pernah merasakan bagaimana melihat Adam bersama Ayu yang ia kira sebagai kekasihnya.
"Lama-lama perasaan gue juga bakalan ilang Sa. Gue yakin"
Sekali lagi Raisa memeluk Stevi, sahabatnya yang sedang rapuh itu.
"Gue dukung apapun keputusan lo Stev"
Stevi lebih dulu mengurai pelukannya. Kembali mengusap air matanya yang tak kunjung habis itu.
"Gue minta sama lo, jangan kasih tau apapun sama Fany tentang ini. Gue nggak mau dia sampai mementingkan gue dari pada perasaannya sendiri. Lo tolong bilang sama dia persis kaya yang gue bilang sama lo tadi"
Meski berat, akhirnya Raisa hanya bisa menyetujui permintaan Stevi itu.
"Gue harus pergi sekarang. Lo jaga baik-baik suami dan calon anak lo. Jangan ada drama salah paham lagi kaya kemarin sampai lo kandungan lo kaya kemarin lagi"
"Iya bawel" Jawaban Raisa berhasil membuat Stevi tersenyum meski sangat tipis.
"Mas Adam udah sipin mobilnya. Sorry gue nggak bisa antar lo sampai bandara. Tapi kata Mas Adam, minggu depan kita bakalan balik ke Jakarta"
"Nggak papa kok, gue ngerti lo masih butuh banyak istirahat"
Stevi menarik kopernya keluar dari kamar yang terasa nyaman baginya itu.
Di luar juga sudah di tunggu Adam dan sopir yang akan mengantar Stevi ke bandara.
"Udah siap Mas??"
"Udah yank, ini Pak Mul yang akan mengantar Stevi"
Raisa dan Stevi tersenyum dengan ramah pada Pak Mul yang rambutnya sudah memutih sepenuhnya itu.
"Mari Mbak, saya bantu naikin kopernya"
"Makasih ya Pak Mul" Ucap Stevi.
"Mas Adam, aku pamit dulu ya. Makasih buat tempat tinggalnya yang nyaman ini. Maaf aku nggak bisa pulang bareng kalian"
"Nggak papa kok, saya ngerti. Kamu hati-hati, kalau ada apa-apa hubungi Raisa aja"
"Iya Mas, gue pulang ya Sa" Sekali lagi mereka berpelukan meski hanya sekilas.
"Hati-hati" Stevi hanya mengangguk lalu masuk ke dalam mobil yang sudah siap jalan itu.
"Selamat tinggal kampung yang indah, selamat tinggal juga cinta yang akan ku lupakan" Stevi terus menoleh ke belalang, dimana Raisa dan Adam masih berdiri di sana menatap kepergiannya dengan latar belakang rumah besar di tengah perkebunan yang begitu hangat dan nyaman.
Air mata Stevi kembali mengalir, menemaninya sepanjang perjalanan menuju bandara yang jaraknya memakan waktu berjam-jam.
Hari sudah semakin gelap, tapi Raisa dan Adam masih duduk di teras sambil menunggu Yuli dan Fany pulang. Ternyata Fany menemani Yuli ke tempat customer baru yang ingin di suplai sayur organik dari kebun Adam. Raisa juga sudah menceritakan semua yang terjadi pada Stevi pada suaminya itu.
Yang di tunggu akhirnya tiba, Raisa melihat mobil Adam yang di bawa Yuli datang mendekat.
"Baru pulang Mbak??" Raisa menyambut Yuli dan Fany.
"Iya Sa"
"Sore Mas" Sapa Hanif.
"Iya Nif, tapi kok kamu bisa sama mereka??" Ternyata yang mengendari mobil itu adalah Hanif. Padahal setau Adam, tadi saat mereka pergi, Fanylah yang mengendari mobil itu.
"Tadi ban mobilnya kempes. Untung Hanif sama Mas Dodo pas lewat. Terus Fany juga ndak berani nyetir sendiri karena udah gelap. Jadi Hanif yang bawa dan Mas Dodo masih di belakang" Jelas Yuli dengan rinci.
"Kok kalian cuma berdua, Mbah sama Stevi mana??" Tanya Yuli.
"Mbah istirahat di dalam, kalau Stevi tadi di antar Pak Mul ke bandara. Mungkin sekarang hampir sampai" Jawab Raisa sambil melirik Hanif yang langsung menampakkan ekspresi aneh menurut Raisa.
"Apa?? Ke bandara??" Kaget Fany.