
Setelah melalui perdebatan yang panjang dengan Satya, akhirnya Raisa di ijinkan untuk menyusul Adam ke kampung halamannya.
Satya sempat tidak mengijinkan tentu karena kondisi Raisa yang saat ini sedang mengandung juga tubuh Raisa yang terlihat sangat lemah dan pucat. Tapi karena putrinya itu terus memohon dan menangis, mengatakan jika putrinya itu sudah tidak sanggup menahan kerinduannya, dengan berat hati membuat Satya mengijinkan Raisa pergi. Dengan syarat Raisa harus mengisi perutnya dulu.
Satya pun tersenyum senang karena setelah mendapat persyaratan itu, Raisa makan begitu terlihat lahap dan mampu menghabiskan dua porsi makanan yang diambilkan Bi Asih.
Tentu Raisa pergi menyusul suaminya tidak sendiri, Satya telah meminta Fany dan Stevi untuk menemani Raisa ke Semarang. Satya yakin jika mereka berdua bisa menjaga Raisa dengan baik.
"Udah siap ketemu Mas suami Sa" Stevi duduk di bangku pesawat yang kini membawa mereka terbang ke Semarang.
"Sebenarnya sih nggak siap kalau harus melihat Mas Adam yang masih dingin dan acuh" Raisa kembali tertunduk sedih.
"Lo sih ngerusak suasana aja!!" Kesal Fany.
"Apaan sih kok nyalahin gue"
"Tapi Sa, sekeras-kerasnya batu pasti akan terkikis juga kalau terus terkena tetesan air. Begitupun Mas Adam, gue yakin dia bakalan luluh juga kalau lo terus berusaha meminta maaf sama dia apalagi dia cinta banget sama lo"
"Gue nggak tau Fan, tapi emang cuma itu yang bisa gue lakukan sekarang"
Raisa menatap hamparan awan putih yang terlihat begitu luas. Menerawang jauh untuk nasib kedepannya bagaimana, nasib pernikahannya.
*
*
*
Gazebo yang terletak si samping rumah, dan berhadapan langsung dengan perkebunan yang sejuk dan Asri menjadi tempat ke empat orang berbeda usia itu bercengkerama.
Sambil menikmati pisang goreng dan juga kopi panas, membuat sore mereka tambak begitu terasa hangat.
"Rencananya kamu mau beli tanah milik Pak Lurah itu Dam??" Tanya Widodo, suami dari Yuli.
"Iya Mas, katanya mau di jual. Kebetulan letaknya juga bersebelahan langsung sama kebun kita kan. Ya jadinya sekalian aja Mas, lagian permintaan wortel sama selada semakin meningkat dan kita butuh tambah lahan lagi"
"Benar Nang, beli aja nggak papa. Tanahnya luas dan datar, jadi ndak perlu di rombak lagi nantinya" Tambah Mbah Welas.
"Nggih Mbah"
Widodo begitu kagum dengan Adam, di usianya yang masih terbilang muda, dia mampu mengembangkan pertanian kecil menjadi semakin besar juga menciptakan lapangan pekerjaan bagi seluruh warga Desa di sana.
"Benar kamu Dam, semakin hari kita juga semakin keteteran memenuhi permintaan pengiriman"
"Rencananya kamu mau tambah karyawan nggak Dam??" Tanya Yuli yang juga ikut serta dalam mengelola pertanian milik Adam itu.
"Kalau itu terserah Mbak Yuli sama Mas Widodo aja. Kalau kalian cukup keteteran dan masih banyak pekerjaan yang belum dipegang, ya tambah aja nggak papa"
"Kayaknya memang harus tambah Dam, tapu kalau kamu jadi beli tanah Pak Lurah"
"Baik Mas, terserah Mas aja baiknya gimana"
"Wah, wah. Enak ya ngopi bareng di sini" Suara seorang perempuan yang terdengar nyaring menarik perhatian empat orang tadi.
"Sabar Budhe" Bisik wanita yang datang bersama wanita paruh baya itu.
"Saya sudah ke makam Ibu kemarin" Jawab Adam tak mau melihat ke arah wanita yang membuatnya tak ingin kembali ke kampungnya itu.
"Oh, jadi kamu nggak mau menganggap aku ini Ibu kamu??"
"Bulik Ning, ada baiknya kita duduk dulu. Yuli buatkan teh ya Bulik" Yuli Berusaha menenangkan wanita itu. Yuli tau bagaimana watak Ning selama ini. Yuli melakukan itu hanya agar Ning mau menghentikan ocehannya yang akan menyakiti hati Adam.
"Tidak usah ikut campur kamu Yuli!! Ini urusanku sama anak nggak tau diri ini!!"
Suasana semakin menegang karena Ning kembali mengeluarkan kata-kata kasarnya.
"Ngomong opo koe Ning?? Lambe mu di jogo nek ngomong!!" ( Ngomong apa kamu Ning?? Mulutmu di jaga kalau ngomong!!) Mbah Welas tak terima jika Adam di caci seperti itu.
"Mbah, lebih baik Mbah Welas diam aja. Aku cuma punya urusan sana anak ini. Dia sekarang sudah sombong mentang-mentang jadi orang kaya. Jadi menantu orang terpandang. Dia nggak ingat dulu siapa yang membesarkannya, dia nggak ingat siapa yang merawat Bapaknya yang lumpuh itu!!"
"Budhe" Wanita di sebelah Ning mencoba menghentikan Ning.
"Diam kamu Ayu!! Biar dia tau apa salahnya!! Selama ini Budhe hanya diam menunggu dia pulang dan menikahi kamu sesuai janji Budhe dan orang tua kamu. Tapi dia malah menikah sama anak orang kaya itu. Benar-benar nggak tau balas budi!!"
Amarah Ning sudah meluap-luap saat ini. Dia yang mendengar Adam kembali sudah seminggu yang lalu, tapi tak munculnya Adam di hadapannya membuatnya murka. Anak sambungnya itu di anggap tidak menghormatinya lagi setelah menjadi sukses seperti sekarang.
"Cukup!!!" Bentak Adam.
Semuanya langsung terdiam menatap pria yang kini berdiri menghadap pada Ning dan Ayu.
"Nggak tau balas budi Ibu Bilang??" Hati Adam yang teramat sakit akibat penghianatan yang di lakukan istrinya kini harus kembali tergores. Bukan luka baru namun luka lama yang dulu sempat Adam sembuhkan dengan menjauh dari Ning.
"Dari kecil, dari umurku sepuluh tahun aku sudah di paksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan Ibu dan Bapak. Sampai aku besar dan kuliah pun uangku masih terus di ambil Ibu dengan alasan membayar jasa Ibu yang telah merawat Bapak. Apa itu masih kurang?? Apa yang Ibu lakukan itu tidak pernah gratis, aku membayar semuanya. Rumah, mobil dan tanah yang sekarang minta juga sudah aku belikan, masih kurang apa lagi??"
"Masih ingin menghinaku?? Menginjak-injak harga diriku lagi silahkan Bu. Tapi harusnya Ibu lihat dulu bagaimana perlakuan Ibu dulu sampai sekarang justru menuntut aku untuk menghormati Ibu!!"
"Jika ada orang yang wajib aku hormati itu tentu saja Mbah Welas. Karena Mbah Welas yang dari dulu merawat ku di saat Ibu selalu menyiksa ku dan membiarkan aku kelaparan. Mbah Welas datang mengobati luka ku, memberiku makan, memberikan kasih sayang. Jadi apa Ibu nggak malu sampai berkata seperti itu di depan Mbah Welas??"
Ning tetaplah orang yang keras hati dan susah di nasehati. Apa yang di dengarnya tadi, semuanya tak masuk ke dalam otaknya.
Tapi jujur, Ning sempat terkejut karena melihat wajah kemarahan Adam juga kalimat panjang yang keluar dari anak yang dari dulu terlihat pendiam itu.
"Apapun itu, tetap aku yang merawat Bapakmu sampai dia meninggal!!"
"Lalu apa lagi yang Ibu mau??" Tantang Adam dengan jengah, dia sudah muak dengan wanita itu.
"Adam, jangan gegabah" Bisik Widodo. Dia tidak ingin Adam menyerahkan tanah miliknya kepada Ning seperti beberapa tahun yang lalu.
"Aku mau kamu dan Ayu tetap menikah!!" Wanita yang sejak tadi diam di samping Ning karena telah mendapat peringatan keras dari Adam itu tampak terkejut.
"NGGAK BOLEH!!!"
Semua orang menoleh ke sumber suara yang tak terdengar asing bagi Adam.