
Berkali-kali Adam menciumi wajah Raisa, dahi, pipi mata bahkan hidung Raisa pun menjadi sasaran. Entah sadar atau tidak, tapi Adam terlihat masih memejamkan matanya. Dia semakin menarik Raisa ke dalam pelukannya dengan ciuman bertubi-tubi tanpa henti itu. Bibir Adam pun mengulas senyumnya seperti orang yang benar-benar tak sadar dengan apa yang ia lakukan itu.
Berkat ulah Adam itu, tidur Raisa yang begitu nyenyak sejak semalam menjadi terusik. Dia merasakan geli pada wajahnya yang terus di hujan ciuman oleh Adam itu.
"Emmhhh" Raisa meleguh mulai tersadar dari tidurnya.
Rasa nyaman masih ia rasakan pada seluruh tubuhnya, karena sesuatu yang begitu hangat ia peluk semalaman.
Mata raisa mulai terbuka dengan perlahan, namun di saat itu juga Riasan mendapat ciuman tepat di matanya membuat nyawanya yang belum terkumpul itu langsung terisi penuh.
Dia mendongak menatap pelaku yang telah menyentuh wajahnya dengan bibir itu.
"Mas Adam?? Apa yang gue lakukan??" Raisa meringis memejamkan matanya, dia baru sadar jika dirinya berada di dalam pelukan Adam. Menjadikan lengan Adam sebagai bantalan kepalanya. Pinggangnya pun di belit begitu posesif dengan tangan kekar milik Adam.
"Nih orang ngigo apa gimana sih??" Raisa keheranan melihat Adam yang masih tersenyum sambil menutup matanya.
Dengan harapan besar, kalau Adam tidak akan tau jika Raisa berakhir dalam pelukannya pagi ini, Raisa bergerak dengan pelan untuk lepas dari Adam. Menyingkirkan tangan Adam dengan sangat hati-hati tapi nyatanya...
"Mau kemana??"
Mustahil....
Harusnya Raisa sadar jika dari tadi Adam sudah bangun karena pria yang mendekapnya itu terus tersenyum dan berkali-kali menciumnya.
"Mas lepas!!" Raisa menggeliat mencoba melepaskan diri dari Adam.
"Kenapa?? Kamu mual??"
"Mual??" Raisa bahkan sampai lupa dengan ritual yang biasa ia lakukan beberapa minggu ini.
"Entah kenapa pagi ini Mas nggak mual kaya biasanya. Tidur peluk kamu kaya gini rasanya nyaman dan nggak kerasa mual sama sekali" Adam berkata dengan mata yang masih tertutup.
Raisa juga merasakan hal yang sama, tapi dia enggan mengakuinya di depan Adam.
"Lepas Mas, aku mau turun mau siapin sarapan" Raisa mencoba mengelak juga ingin segera lepas karena rasa malunya.
"Kenapa buru-buru, Ini masih pagi loh Sa. Dari tadi malam juga kamu nggak mau lepas dari Mas"
Blusshh....
Raisa benar-benar malu kali ini. Gayanya saja tadi malam sok-sokan menghindari Adam tapi paginya justru tertangkap mencari kehangatan.
Wajahnya semakin memerah ketika dia sadar jika gaya bicara Adam sekarang lebih manis lagi pada Raisa. Berarti Raisa tadi malam tak salah dengar.
"Mas please, nggak usah mulai deh" Raisa mulai kesal karena Adam terus saja menahannya.
"Iya-iya, istri Mas kalau marah makin cantik deh" Ingin rasanya Raisa melempar bantal ke wajah Adam yang menyunggingkan senyum jahilnya itu.
"Dasar buaya, belum cuci muka aja udah gembel" Cibir Raisa segera melepaskan diri dari Adam.
"Buaya-buaya gini, tapi bisa bikin nyaman kan Sa??"
Demi langit dan bumi, Raisa tak menyangka jika Adam bisa berubah menyebalkan seperti itu.
"Terserah Pak Adam saja yang penting anda bahagia" Raisa melesat meninggalkan Adam.
Sementara di atas Ranjang, Adam tidak bisa menghilangkan senyumnya sejak tadi. Di mulai dari saat dia membuka matanya. Netranya menangkap adalah wajah cantik Raisa yang masih terlelap dengan tangan Raisa yang melingkar pada pinggangnya.
"Akhhhh, lama-lama aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri" Adam mengacak rambutnya dengan kasar.
Sementara itu di dapur, Raisa masih mencoba menetralkan detak jantungnya yang akhir-akhir menunjukkan gejala tidak normal. Apalagi setelah bersentuhan dengan Adam seperti tadi.
"Hufff..." Raisa mulai mengatur nafasnya yang berantakan.
Kemudian dia mulai membuka kulkas, mencari bahan-bahan yang bisa diolahnya menjadi sarapan untuknya dan Adam.
Raisa memang sudah terbiasa dengan membuat makanan sendiri, mencuci bajunya sendiri, bahkan melipat bajunya sendiri sesuai dengan keinginan Papanya yang ingin Raisa belajar mandiri mengurus dirinya sendiri juga suaminya.
Meski terkadang Raisa menemukan Adam yang telah membantunya memasukkan baju ke dalam lemari, atau Bi Asih yang membantunya mengangkat jemuran, tapi sebagian besar sudah Raisa kerjakan dengan tangannya sendiri.
Waktu itu Satya bahkan berpikir jika Raisa akan menolak mentah-mentah, namun nyatanya Raisa bisa membuktikan jika dia bisa melakukan itu semua.
"Loh Non Raisa mau apa??" Bi Asih tiba-tiba datang dan langsung meraih sayur yang sudah berada di tangan Raisa.
"Mau masak dong Bi, mau apa lagi??" Raisa ingin meraih sayur yang di bawa Bi Asih namun Bi Asih malam menjauhkannya dari Raisa.
"Non, mulai sekarang biar Bibi aja yang masak. Biar non nggak kecapean. Bibi juga yang akan mencuci baju dan membersihkan kamar Non Raisa kaya dulu lagi"
"Emangnya kenapa Bi??" Raisa masih tidak mengerti maksud Bi Asih.
"Non lagi hamil kan?? Jadi Non nggak boleh kecapean. Harus banyak istirahat, semuanya biar Bibi Aja yang urus"
Raisa tidak terkejut jiak Bi Asih tau tentang kehamilannya. Entah itu Papanya atau Adam yang memberitahunya, tapi cepat atau lambat mereka pasti akan tau juga.
"Bibi tau sendiri kan, siapa kemarin yang nyuruh aku masak, nyuci dan apa-apa sendiri?? Apa Bi Asih nggak takut di marahi sama Papa karena diam-diam bantuin aku??"
"Nggak ada yang bakal marahin Bi Asih, Mas udah bilang sama Papa kok" Suara yang terdengar sangat seksi itu menyahut dari belakang Raisa.
"Benar Non, Mas Adam sudah bilang sama Bapak kok"
Raisa terus saja menatap Adam yang sudah mengganti bajunya dengan baju olahraga itu semakin mendekat ke arahnya. Dia masih tak menyangka jika Adam begitu memperhatikannya, bukan hanya calon anak mereka saja.
"Tapi Mas.."
"Nggak udah tapi-tapian. Sekarang lebih baik kamu mandi dan siap-siap aja. Siapin baju Mas sekalian juga boleh"
"Iya" Jawab Raisa singkat namun tak keberatan dengan permintaan Adam itu.
"Ya udah, kalau gitu Mas mau lari dulu ya"
Cup....
Adam berlari keluar dengan cepat setelah mencuri sebuah ciuman dari pipi Raisa.
"MAS ADAAAMMM!! Aku sumpahin nanti di jalan di cium sama nenek-nenek!!"" Adam sama sekali tidak mempedulikan teriakan Raisa itu.
"Cieee, si Non sama Mas Adam makin mesra aja"
Betapa malunya Raisa saat ini, di depan Bi asih Adam berani menciumnya seperti itu.
Tanpa menanggapi Bi Asih, Raisa pergi dari dapur dengan memegangi kedua pipinya yang sudah seperti kepiting rebus.