Terjerat Cinta Bodyguard Tampan

Terjerat Cinta Bodyguard Tampan
Sidang


Ketika kumandang adzan subuh terdengar di pagi ini, mata Raisa langsung terbuka seperti biasa. Dia tidak perlu mengingat lagi apa yang terjadi kepadanya karena terbangun hanya berbalut selimut saja tanpa sehelai kain yang ada di tubuhnya. Tidak seperti dulu saat pertama kali paginya di sambut dengan Adam di sampingnya.


Kali ini tentu berbeda, Raisa menatap wajah Adam yang masih terlelap dengan binar bahagia. Meski matanya masih sedikit berat, tapi dia bisa melihat dengan jelas Adam yang tidur disampingnya sambil memeluk pinggangnya.


Suaminya itu juga terlihat polos pada bagian atasnya. Tidak tau bagian bawahnya bagaimana karena Raisa tidak berani membukanya. Raisa masih gugup melihat benda pusaka Adam yang ternyata sesuai dengan postur tubuh Adam yang tinggi dan gagah.


Mungkin Adam juga sama seperti dirinya yang sudah tidak kuat untuk sekedar membersihkan tubuhnya tadi malam, hingga langsung terlelap begitu saja.


Raisa menyentuh wajah Adam dengan perlahan. Bermaksud membangunkan suaminya untuk membersihkan diri dan segera melaksanakan sholat subuh.


"Mas, bangun yuk"


"Udah subuh Mas" Raisa terus mengusap pipi Adam dengan ibu jarinya.


"Hmm" Adam hanya bergumam saja.


"Ayo bangun, nanti kesiangan loh"


"Iya" Adam menjawab tanpa membuka matanya.


"Ica mandi duluan ya, tapi Mas Adam habis ini harus bangun loh!!" Raisa menebak jika dia masuk ke dalam kamar mandi sana, Adam pasti akan terlelap lagi.


"Hemm" Raisa menggelengkan kepalanya, karena dia tau kalau suaminya itu pasti juga kelelahan.


"Aww!!!" Suara Raisa membuat Adam yang masih memejamkan matanya langsung terjaga.


"Kenapa yank?? Mana yank sakit?? Anak kita nggak kenapa-napa kan??" Adam langsung panik dan menyibak selimut Raisa. Memeriksa peut Raisa, mengabaikan tubuh Raisa yang masih polos itu.


Sontak saja itu membuat Raisa terkejut dan berusaha menutup dada dan area sensitifnya dengan keuda tangannya.


"Anak kita nggak papa kok Mas, cuma kaki Ica aja yang kram" Jawab Raisa meringis sambil meringis bercampur malu.


Adam pun langsung memeriksa kaki Raisa. Memberikan pijatan lembut pada kaki istrinya itu.


"Maaf ya, pasti ini gara-gara kecapekan tadi malam" Raisa melihat raut bersalah pada wajah Adam.


"Bukan karena itu Mas, Ica emang udah beberapa kali kram kaya gini setiap pagi kok, nanti juga hilang"


"Ya udah, Mas gendong aja ke kamar mandi. Sekalian mandi bareng" Adam langsung bangkit dan berdiri di sisi Raisa.


"A-apa?? Mandi bareng??" Raisa masih ingat momen mandi bareng mereka saat pulang dari Rumah sakit waktu itu.


Tapi Raisa juga terpaku pada benda keramat milik Adam yang terlihat tegak berdiri saat ini. Apalagi Adam yang berdiri di sebelahnya yang masih terduduk di ranjang. Tentu saja itu hampir pas di muka Raisa.


Raisa baru ingat kalau benda itu akan tegak berdiri saat pemiliknya bangun tidur, apalagi pagi-pagi begini.


"Mas nggak akan minta yang semalam lagi. Ini udah hampir jam lima. Nanti nggak sempat sholat subuh. Mendingan nanti malam aja lagi. Ya yank??" Adam menunjukkan senyumnya dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Cih, mesum banget sekarang" Cibir Raisa.


"Nggak papa dong, kan cuma sama kamu sayang" Adam langsung membungkuk menggendong Raisa ke kamar mandi. Mereka benar-benar mandi pagi ini, tidak di bumbui dengan sentuhan-sentuhan menggetarkan. Meski Adam sebenarnya merasakan ngilu pada pusatnya yang amat sangat karena melihat tubuh mulus istrinya yang semakin menggoda saat terkena air.


*


*


*


Sesuai dengan rencananya kemarin jika hari ini Adam akan mempertemukan Ning dan pekerja kemarin di kantor Desa.


Adam, Widodo dan juga Hanif telah membawa pekerja yang terlihat masih muda itu menemui Pak Kades.


Beberapa warga juga sudah berkumpul di sana. Widodo sengaja memberitahu beberapa orang agar ikut melihat bagaimana Ning akan mengakui perbuatannya.


"Sebenarnya ono opo to Pak Kades??" Ning yang baru daja di jemput oleh orang suruhan Pak Kades tiba-tiba masuk tanpa menyadari jika sudah ada Adam di dalam ruangan itu.


"Silahkan duduk dulu Bu Ning??"


Ning tiba-tiba menegang saat melihat seorang pemuda duduk menundukkan kepalanya di kursi yang bersebelahan dengannya.


Barulah Ning mengedarkan pandangannya ke sekitarnya.


"Adam?? Ono opo iki??" Ning menatap Adam tak suka.


Tapi Adam hanya diam duduk berdampingan dengan Widodo dan Hanif.


"Baiklah Bu Ning, maaf kalau saya mengganggu Bu Ning pagi-pagi begini. Tapi di sini saya mendapat laporan dari Pak Adam tentang adanya masalah di perkebunannya Pak Adam"


Ning membelalakkan matanya tanda tak terima. Apalagi Ning mulai mendengar bisik-bisik di sekitarnya.


"Apa maksud Pak Kades?? Kalau di kebunnya Adam ada masalah, terus hubungannya sama saya apa??"


"Ini Dek Yudi saudara jauh Bu Ning kan??" Pak Kades menyebut pemuda yang sejak tadi diam menundukkan kepalanya.


"Saudara?? Maaf Pak Kades, saya nggak kenal sama dia!!"


"Apa maksud Budhe??" Pemuda bernama Yudi itu langsung menatap sengit pada Ning yang tak mengakuinya.


"Langsung ke intinya saja Bu Ning, apa.benar kalau Bu Ning yang menyuruh Nak Yudi ini untuk menyiramkan obat di perkebunan Mas Adam?? Tanya Pak Kades.


"Apa?? Siapa yang melapor seperti itu Pak?? Pasti kamu to Dam?? Kamu kok jahat menuduh Ibu kaya gitu Dam?? Ibu juga ndak kenal orang ini" Ning menatap Adam dengan air mata yang mulai berlinang.


Sementara Adam hanya diam tanpa sepatah katapun, serta tidak peduli dengan tangisan Ning.


"Bu Ning, Nak Yudi ini sudah mengakui perbuatannya. Pak Adam masih berbaik hati tidak membawa kasus ini ke kantor polisi, jadi lebih baik Bu Ning mengaku saja"


"Ngaku kamu Ning!!"


"Ngaku aja!!"


"Ayo ngaku!!"


Ning menatap tajam ke arah warga yang terus menyorakinya.


"Diam kalian semua!! Kalian tidak tau apa-apa!!" Teriak Ning.


"Bu Ning, kami juga sudah menemukan bukti cctv di toko pertanian saat Bu Ning membeli cairan herbisida" Mata Ning kembali ingin keluar saat melihat dirinya ada di dalam video itu.


"I-itu saya beli untuk kebun saya Pak Kades"


"Mengaku saja Budhe, biar kita di ampuni sama Mas Adam. Aku menyesal karena menuruti Budhe untuk berniat jahat seperti ini"


"Diam kamu!! Iki mesti gara-gara kamu. Kalau kamu ndak bodoh mesti ndak ketahuan!!" Ning ingin memukul Yudi namun segera di tahan oleh Widodo.


Suasana kembali riuh saat Ning tanpa sadar mengakui perbuatannya.


"Bu Ning, sebenarnya apa yang Ibu mau?? Kenapa Ibu sampai berbuat seperti itu??" Kini Adam berdiri mendekati wanita serakah itu.


"Hahahaha... Kamu tanya apa yang Ibu mau?? Ibu ndak suka lihat kamu sukses kaya gini. Ibu pingin kamu kaya dulu lagi, gembel kecil yang ndak punya apa-apa!! Ibu benci sama kamu karena kamu sudah mencampakkan Ibu setelah kamu kaya!!"


"Huuuuu!!!!" Teriak warga di sana.


"Ibu benar-benar sudah keterlaluan!!" Geram Adam mengepalkan kedua tangannya seakan ingin meninju Ning jika dia laki-laki.


"Aku tidak akan mempermasalahkan masalah yang Bu Ning buat di kebun saya kemarin!! Tapi mulai detik ini, di saksikan semua warga di sini, di antara kita sudah tidak ada hubungan keluarga lagi!!" Adam benar-benar sudah tak ingin berhubungan lagi dengan Ning.


"Ndak masalah, aku juga nggak sudi punya anak tiri nggak tau diri kaya kamu!!"


"Eling Bu Ning, siapa yang beliin sampean rumah!!" Teriak salah satu warga.


"Iya betul, jangan sombong!! Warung mu juga yang beliin Mas Adam kan??" Ning melirik tajam orang-orang yang meneriakinya.


"Jangan datang lagi ke hadapan ku kalau Bu Ning ada masalah. Jangan pernah lagi menampakkan wajah serakah itu di hadapan saya!!" Gertak Adam lagi.


"Cuih... Saya juga ndak sudi!!" Ning meludah di depan Adam.


"Kamu baru punya perkebunan saja sudah som..."


"BU NING!! BU NING!!!!!"


Teriak seseorang dari luar dengan keras sambil. berlari masuk ke ruangan itu.


"Ada apa Pak Yanto?? Kenapa teriak-teriak seperti itu??" Tegur Pak kades.


Yanto masih terlihat mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.


"I-itu Pak Kades. Warung sama rumah Bu Ning kebakaran"


"APA!!!!" Teriak Ning karena dia baru ingat saat dia di jemput tadi dia sedang memasak dan lupa mematikan kompornya.