
"Namun sayang dugaan anda salah karena saya tidak sedang memikirkan itu, Nona." Ucap Queen berbohong dan tetap tersenyum. Bukan niat hati untuk berbohong, namun Queen tidak ingin masuk dalam perangkap Melody yang hanya akan membuatnya kepikiran dan suasana hatinya memburuk.
"Benarkah begitu?" Melody melemparkan senyum meremehkan pada Queen.
"Tentu saja itu benar." Balas Queen dengan yakin.
Melody tersenyum sinis. "Walau bukan seperti itu yang sedang anda pikirkan, namun harus saya tegaskan jika sejak awal Kevin adalah milik saya dan saya akan merebut apa saja yang seharusnya menjadi milik saya." Ucap Melody dengan tegas.
Queen menarik nafas sesaat. Dapat ia lihat pancaran kemarahan di mata Melody saat ini. Dan Queen tidak ingin masuk dalam api kemarahan itu.
"Anda tidak perlu cemas dan khawatir, Nona. Sejak awal saya juga sadar siapa saya dan siapa Kevin. Saya sudah sangat menyadarkan hati dan pikiran saya jika Kevin hanyalah suami sementara saya dan saya akan mengembalikannya pada orang yang seharusnya memilikinya." Balas Queen dengan tenang.
"Dan orang yang kau maksud adalah saya." Ucap Melody dengan tegas.
Queen mengangguk. "Ya. Saya tahu itu. Anda tidak perlu takut, Nona. Jika Kevin memang adalah takdir anda, maka dia tidak akan menjadi takdir orang lain." Ucap Queen.
Kedua tangan Melody mulai terkepal. Entah mengapa hatinya merasa tidak suka melihat sikap tenang Queen saat ini. "Jangan pernah menjadikan anak kalian sebagai alasan agar kalian tidak jadi berpisah!" Tekan Melody.
"Saya bukanlah wanita sepicik itu, Nona. Anak kami adalah anugerah yang Tuhan berikan. Dan dia bukanlah alat untuk dipermainkan agar saya mendapatkan apa yang saya inginkan. Dan harus Nona ingat. Jika Kevin bukanlah prioritas saya. Saya bisa hidup dengan bahagia dan tenang bersama anak saya nantinya walau tanpa ada Kevin di antara kami. Dan anda tidak perlu repot menegaskan tentang status saya karena saya akan terus mengingatnya."
"Kau..." Melody menggeram menatap wajah tenang Queen yang tidak termakan oleh ucapannya.
"Apa masih ada yang ingin anda bicarakan, Nona?" Tanya Queen tanpa memperdulikan tatapan tak mengenakkan Melody.
Melody berusaha menghilangkan raut wajah kekesalannya pada Queen. "Sepertinya tidak. Saya harus segera pergi dari sini dan menemui calon suami saya yang saat ini sedang bekerja." Ucap Melody denga menekan setiap kata-katanya.
Queen hanya diam dan tetap tenang mendengar ucapan Melody. Entah mengapa ia melihat kepribadian Melody yang sedikit berbeda dari apa yang ia dengar dan ia lihat sebelumnya.
Melody pun segera bangkit dari duduknya. Niat hatinya yang ingin membuat Queen sadar akan posisinya dan terpancing akan ucapannya sirna sudah saat melihat raut tenang di wajah Queen saat ini.
"Ingatlah, Nona. Sekali lagi saya tegaskan jika apa yang sudah ditakdirkan menjadi milik anda tidak akan menjadi milik orang lain. Anda tidak perlu takut jika saya akan merebut Kevin dari anda. Jika anda yakin Kevin adalah takdir anda, maka dia akan berjalan dengan sendirinya menemui anda yang sudah ditakdirnya menjadi takdirnya." Ucap Queen sebelum Melody keluar dari dalam apartemennya.
***
Berikan vote dan komennya dulu yuk untuk lanjut ke bab berikutnyaš¤
Sambil menunggu TSP update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Bukan Sekedar Menikahiš¤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.