Takdir Setelah Perpisahan

Takdir Setelah Perpisahan
Memenuhi ngidam Naina


"Kevin?" Dio dan Marvel tersenyum kaku pada Kevin yang kini tengah menggendong Zeline.


"Apa kalian sudah selesai menggoda kedua sekretarisku?" Tanya Kevin dengan datar.


Marvel dan Dio sontak menggeleng bersamaan.


"Oom denit." Cetus Zeline dengan kening mengkerut.


Menyadari kesalahan respon mereka, Marvel dan Dio pun mengangguk.


"Kami sudah selesai." Ucap Marvel memasang wajah coolnya.


"Ya. Selesai untuk hari ini." Timpal Dio yang turut memasang wajah coolnya.


Kevin menggeleng lalu memberikan tatapan perintah pada Marvel dan Dio untuk mengikutinya masuk ke dalam ruangan kerjanya.


"Cantik... besok kita lanjutkan lagi ya." Ucap Marvel sambil mengedipkan sebelah matanya pada dua orang sekretaris Kevin sebelum masuk ke dalam ruangan kerja Kevinz


"Cantik..." Dio yang hendak turut berbicara menghentikan niatnya saat mendengarkan deheman keras dari Kevin. "Sungguh tidak asik sekali." Gerutu Dio lalu melangkah masuk ke dalam ruangan kerja Kevin.


Kevin menatap satu persatu sahabatnya yang kini memasang wajah tak bersalah. "Jadi ada angin apa yang membawa kalian datang ke perusahaanku? Tidak biasa sekali." Ucap Kevin sedikit ketus. Karena biasanya kedua sahabatnya itu lebih suka datang ke perusahaan Daniel dan mengganggu Daniel yang sedang bekerja.


Dio dan Marvel saling pandang lalu menghela nafas secara bersamaan.


"Tentu saja kami datang karena terbawa angin yang cukup kencang berhembus ke arah perusahaanmu." Seloroh Dio.


"Aku sedang tidak ingin bercanda." Ketus Kevin.


Dio melipat bibirnya. "Kau sungguh tidak asik sekali." Cibirnya.


"Jadi?" Ucap Kevin tak ingin basa-basi seperti biasanya.


"Kami datang karena kami membawa tugas untukmu." Ucap Marvel yang sejak tadi hanya diam.


"Tugas apa yang kau maksud?" Tanya Kevin dengan kening mengkerut.


"Si centil." Ucap Marvel dan Dio berbarengan sambil menatap pada Zeline yang kini tengah mengagumi wajah tampan Kevin sambil tersenyum malu-malu.


"Zeline?" Ucap Kevin sambil menurunkan pandangannya hingga kini ia dapat melihat wajah malu-malu Zeline yang sedang menatapnya.


"Napa Zel Om?" Tanya Zeline semakin malu-malu."


"Tidak ada." Balas Kevin lalu mengusap rambut Zeline.


"Oh astaga..." Dio dan Marvel tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Zeline.


"Sampai saat ini aku masih bingung Zeline ini titisan dari siapa?" Ucap Marvel disela tawanya.


"Kau benar. Sikap Naina sangat jauh denganny. Dan sikap Daniel tidak begitu mirip dengannya." Timpal Dio.


"Sudahlah. Sekarang katakan apa maksud ucapan kalian?" Ucap Kevin tak ingin ikut bercanda.


Tawa Dio dan Marvel pun perlahan menyurut.


"Kami datang atas perintah Daniel yang meminta kita menjaga Zeline untuk hari ini sampai dua hari ke depan." Ucap Marvel kemudian.


Kening Kevin semakin mengkerut. "Menjaga Zeline? Tapi untuk apa?" Tanyanya bingung.


"Untuk memenuhi ngidam Naina." Balas Marvel.


"Ngidam apa yang kau maksud?" Kevin semakin dibuat bingung.


"Entahlah... namun Daniel hanya berkata jika Naina sangat menginginkan kita untuk menjaga Zeline saat dia dan Daniel sedang bekerja." Timpal Dio.


"Kenapa aku merasa ada yang aneh di sini." Ucap Kevin.


"Nda ada yang aneh, Om." Ucap Zeline yang sejak tadi hanya diam. "Zel yang minta Mama itu suluh Papa bial Zel bisa main sama Om danteng. Nda enak Zel tuh rumah Nenek telus main nda ada teman. Nty mala sibuk juga itu pelgi sama Nty Gatha." Ucap Zeline dengan bibir mengerucut.


***


Lanjut?


Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗


Like


Vote


Komen


Hadiah


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.