Takdir Setelah Perpisahan

Takdir Setelah Perpisahan
Part 10


Merasa ada yang aneh dengan Nesia, membuat Afandi mendekati Nesia dan membuka selimut yang menutupinya.


Melihat keadaan Nesia, membuat Afandi panik. Saat ini Nesia menggigil dan badan nya juga panas.


Afandi segera meninggalkan Nesia, untuk mengambil obat dan juga air hangat untuk mengompresnya.


Sampai di kamar, Afandi segera mengompres Nesia, berharap panas nya akan turn. "Sa..." panggil Afandi di tengah kegiatan nya.


Namun tidak ada jawaban. Ingin menelepon mama nya, takut akan mengganggu istirahat mama nya. Melihat AC yang menyala, ntah mengapa Afandi segera mematikan nya.


Setelah beberapa saat, Afandi meletakkan tangan nya di kening Nesia. Ia pun bernapas lega, akhirnya panas nya turun.


Afandi pun duduk di samping Nesia, "Ma... Kara sakit, ma..." Nesia mengigau. Mendengar itu membuat Afandi bingung.


"Sa... " panggil Afandi seraya menepuk pelan pipi Nesia.


Afandi kaget, kala Nesia menggenggam tangan nya sangat erat. "Aku tau, kau pasti selalu ada bersamaku." ucap Nesia merasa tenang.


Melihat Nesia merasa tenang, membuat Afandi ikut tenang. Afandi pun terlelap di samping Nesia.


Pagi Hari nya....


Di kediaman Rico...


Setelah menyelesaikan rutinitas pagi nya, Dena menghampiri Rico yang berada di meja makan sedang menikmati sarapan nya.


"Pa... " panggil Dena seraya menarik Kursi di hadapan Rico.


"Kenapa ma?" tanya Rico.


Dena berpikir sejenak, "Pa, mama khawatir dengan Nesia. Mama semalam mimpi, kayak nya Nesia lagi sakit." ucap Dena serius.


"Itu kan cuma mimpi ma, papa rasa menantu papa baik-baik aja. Kalau pun Nesia sakit, Afandi pasti rawat dia." ucap Rico.


"Iya sih pa, tapi mama harus Kerala. Takut nya ada apa-apa." ucap Dena.


"Terserah mama deh, papa bisa apa." ucap Rico pasrah.


***


Kini Nesia terbangun dari tidur nya, ia pun terkejut dengan apa yang ia lihat. Tangan nya yang menggenggam tangan Afandi.


"Ha, apa aku Sudah gila?" gumam Nesia tak percaya.


Afandi memeng Sudah terbangun, saat Nesia sedikit menggerakkan tangan nya. "Ya, kau memang sudah gila." ucap Afandi membuka matanya.


"Tidak, aku tidak gila. " ucap Nesia malas.


"Kalau kau tidak gila, kenapa kau masih menggenggam tangan ku, sepertinya kau tidak ingin melepasnya. " ucap Afandi.


Dengan cepat, Nesia melepas tangan Afandi. Melihat itu membuat Afandi tak habis pikir dengan Nesia.


Mendengar itu membuat Nesia bingung, "Apa aku sakit?" ucap nya tak percaya.


Beberapa saat kemudian...


Nesia terkejut dengan dobrakan pintu yang ada di kamar. Yang ternyata adalah mertuanya, tengah berjalan cepat ke arah nya dengan ekspresi sepertinya sedang khawatir.


"Sayang, kamu sakit apa, sekarang gimana udah baikan belum, apa Afandi jagain kamu?" berbagai pertanyaan ia lontarkan.


"Mama kalau ngasih pertanyaan satu-satu dulu ma, tunggu di jawab baru di tanya lagi. " ucap Afandi menghampiri mereka dengan semangkuk bubur dan air hangat di tangan nya.


"Mama khawatir Fandi." ucap Dena.


"Nesia baik-baik aja ma, ini udah mendingan." ucap Nesia tersenyum.


"Syukurlah, mama senang, akhirnya kalian bisa menjaga satu sama lain." ucap Dena senang.


Melihat Afandi yang membawakan Nesia bubur, Dena segera mencari alasan, agar mereka bisa dekat satu sama lain.


"Ooh ya, mama lupa tadi kawan mama ngajak mama kept suatu tempat. Aduh, gimana ya... padahal menantu mama lagi sakit." ucap Dena berpura-pura bingung.


"Nggak papa kok ma, Nesia udah mendingan. Mama pergi aja, kasian kawan mama nungguin. " ucap Nesia.


"Mama pergi aja, biar Fandi aja yang jagain. " Sambung Afandi.


"Kamu nggak kerja?" tanya Dena.


"Nggak, biar sekalian cuti aja. " ucap Afandi.


Dena pun tersenyum, biasa nya Afandi tidak pernah meninggalkan pekerjaan nya. "Yaudah mama pergi dulu ya, kamu jagain dia. " ucap Dena langsung meninggalkan mereka.


"Hati-hati ma. " ucap Nesia.


.


.


.


.


____Bersambung__


jangan lupa like and vote ny kakak readers...


komen yg membangun buat novel ini juga boleh...


see you....