Takdir Setelah Perpisahan

Takdir Setelah Perpisahan
Aku menerimanya


"Masalah apa?" Senyuman di wajah Melody mulai surut saat menangkap ada sesuatu yang tidak beres di wajah Kevin.


"Maaf jika ini menyakitkan untukmu. Namun sebelum pernikahan kita dilangsungkan, ada baiknya aku berkata jujur kepadamu." Kevin menjeda ucapannya. Memberi ruang pada Melody untuk masuk ke dalam percakapannya.


"Jujur? Kau ingin berkata jujur tentang apa?" Berusaha menampilkan wajah tetap tenang.


"Aku sudah menodai seorang wanita dan kini wanita itu sedang mengandung anak kandungku." Ucap Kevin tanpa basa-basi. Tidak ada kata pembuka yang baik menurutnya untuk mengungkapkan kesalahannya.


"Apa?!" Melody tak dapat membendung keterkejutannya. "Kau sudah menghamili seorang wanita?" Ucapnya memperjelas.


Kevin menganggukkan kepalanya. "Maaf. Kesalahan itu terjadi di luar kendaliku." Lanjutnya.


"Tidak, tidak, tidak. Kau pasti bercanda kan?" Tanya Melody tak percaya.


"Apa kau pernah melihatku bercanda denganmu sebelumnya?" Tanya Kevin.


Deg


Melody terdiam. Kedua bola matanya mulai berkaca-kaca mendengar sebuah fakta yang tidak pernah ia duga sebelumnya. "Katakan jika kau hanya bercanda, Kev!" Air mata Melody mulai luruh.


"Sekali lagi aku katakan jika aku tidak bercanda." Balas Kevin.


"Bagaimana kau bisa melakukan itu semua sedangkan kau tahu jika kita akan menikah, Kev?" Tanya Melody tak percaya.


"Kejadian itu terjadi begitu saja. Itu adalah khilaf terdalamku." Balas Kevin.


Melody terdiam. Air matanya semakin mengalir dengan deras hingga membasahi kemeja putih yang dikenakannya.


"Siapa wanita itu?" Tanya Melody pada akhirnya.


"Kau akan tahu siapa dia dengan seiring berjalannya waktu." Balas Kevin dengan tenang.


"Lalu, apa tujuanmu berbicara seperti ini kepadaku? Apa kau berniat membatalkan pernikahan kita?" Tanya Melody.


"Lalu bagaimana jika aku tak ingin?" Pungkas Melody.


"Kita akan menikah setelah anakku lahir ke dunia." Balas Kevin.


Melody mengalihkan wajahnya ke samping. Ia Usap air mata yang semakin jatuh membasahi kedua pipinya. "Kau tega mengorbankan pernikahan kita demi wanita itu?" Tanya Melody merasa miris.


"Tidak ada pilihan lain yang lebih tepat dibandingkan menikahinya lebih dulu. Semua keputusan aku serahkan kepadamu." Balas Kevin masih tetap tenang.


Keheningan mulai menyelimuti pembicaraan mereka. Baik Kevin atau Melody larut dalam pemikirannya masing-masing. Setelah lima belas menit saling terdiam, Melody menghembuskan nafas kasar di udara.


"Aku akan menunggumu hingga anak kalian lahir." Ucap Melody tiba-tiba. Sontak saja jawaban Melody membuat Kevin menatap intens ke arahnya. "Aku menerimanya menjadi istrimu lebih dulu sebagai bentuk rasa tanggung jawabmu. Namun setelah anak kalian lahir, aku ingin kau segera menceraikannya dan melanjutkan pernikahan kita." Lanjutnya kemudian. Bukan tanpa alasan Melody berucap seperti itu. Ia sudah memikirkan keputusannya yang mau menerima Kevin bertanggung jawab lebih dulu. Lagi pula waktu menunggu sampai wanita itu melahirkan tidak sampai bertahun-tahun. Dan Melody sudah mempersiapkan hatinya untuk menunggu dengan sabar.


Kevin terdiam beberapa saat. Ia sungguh tidak menyangka jawaban Melody yang tidak sesuai pemikirannya. "Baiklah. Pernikahan kita ditunda sampai anak kami lahir ke dunia. Besok pagi aku akan datang menemui kedua orang tuamu untuk menjelaskan kesalahan ini. Sekali lagi aku minta maaf atas kesalahanku." Tutur Kevin.


Melody mengangguk mengiyakan.


Rasa cintaku sungguh besar hingga aku yakin hatiku tidak akan sanggup bila kau lepas dariku begitu saja. Batin Melody.


***


Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗


Like


Vote


Komen


Hadiah


Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.