
"Nona Queen..." suara Riri terdengar mendayu memanggil nama Queen.
Queen mengalihkan pandangannya ke sumber suara dimana Riri kini sudah berada tepat di sampingnya.
"Riri? Kapan kau di sini?" Tanyanya bingung. Karena tadi tidak ada siapa pun di luar ruangannya.
"Sejak Nona tersenyum menatap punggung Tuan Kevin." Suara Riri terdengar meledek.
Queen meneguk salivanya susah payah. "Sembarangan bicara. Mana mungkin saya menatap punggung Kevin dengan tersenyum." Kilahnya.
Riri melipat bibirnya. Ia paham saat ini Queen tengah malu ketahuan menatap senang pada suaminya. "Tuan Kevin sungguh perhatian ya, Nona." Goda Riri mengalihkan pembicaraan awal mereka.
"Perhatian bagaimana?" Tanya Queen pura-pura tak tahu.
"Tuan Kevin bisa menyempatkan waktunya untuk datang ke sini untuk sekedar mengantarkan makan siang untuk Nona. Sungguh pria yang baik hati dan sayang istri." Seloroh Riri di akhir ucapannya.
Queen menepuk pundak Riri. "Kau terlalu berlebihan. Itu hanya sebagai bentuk tanggung jawabnya pada kami." Ucap Queen tak ingin besar kepala.
Riri mengelus pundaknya yang terasa sakit karena pukulan Queen yang cukup kuat. "Saya yakin Nona dapat merasakan rasa perhatian Tuan Kevin." Balas Riri.
Hembusan nafas Queen terdengar melambat. "Sudahlah... kau tau akhir dari pernikahan kami bagaimana bukan? Sepertinya saya tidak perlu menjelaskannya lagi kepadamu."
Riri terdiam dan menatap perubahan raut wajah Queen. "Apa Nona tidak ingin berusaha mengubah perjanjian akhir pernikahan kalian?" Tanya Riri.
Queen menggeleng. "Tidak. Saya tahu batasan saya. Saya sadar siapa pemiliknya selanjutnya. Saya tidak ingin terlalu dalam menghancurkan rencana pernikahn mereka. Cukup dia bertanggung jawab pada bayi kami dan tidak dengan saya." Balas Queen berusaha tegar.
Riri mengelus lengan Queen. "Saya yakin takdir baik sedang menunggu Nona di akhir jalan." Ucap Riri entah maksud apa.
"Semoga saja." Balas Queen tak ingin banyak bicara.
"Kalau begitu saya masuk ke ruangan saya dulu, Nona. Jika Nona membutuhkan sesuatu jangan lupa kabari saya." Ucap Riri.
Queen mengangguk sebagai jawaban. "Pergilah." Ucapnya kemudian tersenyum. Hatinya cukup senang karena saat ini ada Riri yang selalu mendukungnya dan memberikan perhatin padanya di tengah dinginnya sikap keluarganya yang kini ia rasakan.
*
"Perutku terasa tidak enak." Ucap Queen sambil mengelus perutnya.
"Tidak enak bagaimana?" Kevin bangkit dari pembaringan. Menatap Queen lekat. Raut wajahnya berubah cemas.
"Terasa sedikit keram. Entah karena apa." Balasnya masih mengusap perutnya.
"Lalu bagaimana?" Kevin semakin cemas.
"Tidak perlu cemas. Tapi sepertinya dia menginginkan sesuatu." balas Queen ragu-ragu.
"Menginginkan sesuatu apa? Apa kau sedang ngidam? Katakan saja. Aku akan mencarikannya untukmu dan anak kita." Kevin kembali menunjukkan sisi perhatiannya.
"Tidak dalam bentuk makanan. Namun dalam hal lain." Queen semakin meragu.
Kening Kevin sedikit mengkerut. "Lantas?" Tanyanya.
Queen menghela nafasnya lalu menunduk. "Sepertinya dia ingin tidur sambil diusap." Ucapnya malu.
"Diusap?" Kevin mencoba mencerna ucapan Queen. Dan setelahnya ia pun kembali berbaring. "Mendekatlah." Ucapnya lembut.
Queen meragu namun tetap mengikuti ucapan Kevin. Sesaat kemudian tubuhnya dibuat menegang dan jantungnya berdekat begitu cepat seakan ingin keluar dari dalam wadahnya saat tangan Kevin sudah berada di atas perutnya dan mengusapnya.
"Jangan rewel... jangan membuat Mommymu kesulitan tidur." Ucapnya lembut.
***
Lanjut? Vote yang banyak dulu yukš¤
Sambil menunggu TSP update, silahkan mampir di novel shay yang lagi on going juga berjudul Bukan Sekedar Menikahiš¤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.