
Queen mengangkat wajahnya yang sudah basah oleh air mata.
"Jangan menangis..." ucap Mirza seraya mengusap air mata yang membasahi pipi Queen. Kemudian Mirza pun membawa tubuh Queen ke dalam dekapannya.
"Jangan seperti ini... Kakak sungguh tidak pantas untuk wanita seperti diriku." ucap Queen dengan lirih.
"Kenapa tidak pantas? Kau adalah wanita istimewa yang sejak dulu aku idamkan. Tidak perduli bagaimana buruknya dirimu, yang aku tahu kau adalah wanita spesial di dalam hidupku." Ucap Mirza dengan yakin.
Queen melerai pelukan Mirza dan menatap Mirza dengan intens. "Kakak salah jika menempatkan aku menjadi wanita spesial di dalam hidup Kakak. Aku tidaklah sebaik yang Kakak pikirkan dan tidak seistimewa yang Kakak harapkan." Balas Queen.
"Arti dirimu di dalam hidupku cukuplah aku yang tahu dan aku yang merasakannya. Sejak dulu bahkan sampai saat ini tidak ada satu wanita pun yang dapat menggantikan dirimu di dalam hidupku." Ucap Mirza.
Queen terdiam dengan perasaan semakin kalut setelah mendengarkan ucapan Mirza yang terdengar begitu tulus
di telinganya. Queen pun menghela nafas panjang lalu menghembuskannya dengan perlahan. "Izinkan aku untuk berpikir atas apa yang akan aku jalani ke depannya." Ucap Queen.
Mirza menarik tipis kedua sudut bibirnya dan mengangguk sebagai jawaban. "Aku akan menunggu jawaban darimu. Aku harap kau dapat mengambil keputusan yang bijak untuk dirimu dan anakmu nantinya. Yang terpenting kini percayalah pada hatiku, aku bersungguh-sungguh dan tidak main-main." Ucap Mirza.
Queen mengangguk dan turut tersenyum tipis. Pembicaraan mereka siang itu pun terhenti saat Mirza mendapatkan panggilan dari asistennya yang memintanya untuk kembali ke perusahaan. Dan setelah kepergian Mirza, Queen terlihat lebih banyak diam bahkan tidak fokus pada pekerjaannya.
"Nona Queen..." suara lembut Riri yang terdengar di telinganya menghentikan lamunan Queen. Riri menatap intens wajah Queen yang nampak terkejut lalu menatap layar laptop Queen yang masih menyala namun tidak menampilkan apa-apa di sana. Nona Queen tidak mengetikkan apa-apa sejak tadi? *Tanya Riri dalam hati.
"Agh, Riri, sedang apa kau di dalam ruangan kerja saya?" Tanya Queen masih dengan wajah terkejut.
"Saya ingin menyerahkan berkas dari Tuan Adam yang harus anda selesaikan hari ini, Nona." Ucap Riri seraya menunjukkan map yang ada di tangannya.
Riri mengangguk sebagai jawaban. "Karena tidak mendapatkan jawaban dari Nona, saya pun memutuskan untuk masuk." Jelas Riri.
Queen terdiam lalu menghembuskan nafas di udara. "Kemarikan berkasnya." Ucap Queen seraya mengulurkan tangannya pada Riri. Riri mengangguk lalu menyerahkan map di tangannya pada Queen.
"Terimakasih." Ucap Queen lalu membuka map yang diberikan oleh Riri.
Riri mengangguk dan mengiyakan ucapan Queen. Setelahnya Riri pun berpamitan keluar dari dalam ruangan Queen.
"Sebenarnya ada apa dengan Nona Queen. Dia terlihat semakin aneh akhir-akhir ini." Gumam Riri bertanya-tanya.
Sementara Kevin yang sedang fokus memeriksa banyaknya berkas di atas mejanya nampak menghentikan kegiatannya saat bayangan Queen tiba-tiba melintas di pemikirannya.
"Sedang apa dia saat ini? Apa dia sudah memakan makan siang yang aku berikan?" Tanya Kevin. Pandangan Kevin pun beralih pada pigura yang ada di atas mejanya. Pigura yang memperlihatkan foto pernikahannya dan Queen yang baru saja ia cetak beberapa waktu lalu. "Aku hanya melakukan keinginannya bukan berarti aku menyetuji setiap kata dan keinginan yang kau ucapkan." Gumam Kevin dengan tatapan penuh arti.
***
Vote dulu yuk baru lanjut🤗
Sambil menunggu TSP update, silahkan mampir di novel shay yang berjudul Bukan Sekedar Menikahi🖤
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.