Takdir Setelah Perpisahan

Takdir Setelah Perpisahan
3. Part 3


" Terkadang harta membuat seseorang buta, hingga orang lain yang merasakan sakit nya." _Leo_


Masih di taman...


"Kakek, tolong... ucap Nesia takut melihat segerombolan wartawan mulai mendekati nya.


"Ikut aku!" ucap Afandi segera menarik tangan Nesia berlari.


Para wartawan itu, tetap mengejar Nesia sambil meneriaki namanya untuk mendapat informasi.


Saat Afandi dan Nesia tengah berlari, langkah mereka terhenti melihat ada wartawan juga di depan mereka.


"Sepertinya ini sudah direncanakan." ucap Afandi pasrah.


"Bagaimana ini?" ucap Nesia takut.


Saat ini, para wartawan itu sudah ada di sekeliling mereka. Para wartawan itu pun berebut ingin mendekati Nesia sambil menanyakan pertanyaan mereka.


"Kemari!" ucap Afandi menarik Nesia ke pelukannya, berusaha melindungi Nesia dari wartawan yang berebut mendekati Nesia.


Terdiam, tentu saja. Namun ia segera menyadarkan dirinya, agar berpikir cara melepaskan diri dari mereka.


"Aku harus menelepon kakek." ucap Nesia menemukan cara, sambil memeriksa ponselnya dan ternyata tertinggal di mobil.


"Ha, sial." ucap Nesia frustasi.


Nesia saat ini hanya bisa memandangi bawah nya, namun ia beralih menatap saku celana Afandi yang sepertinya ada sebuah ponsel, ia pun segera mengambilnya.


"Apa yang kau lakukan!" ucap Afandi kaget.


"Tenanglah, apa kata sandinya?" tanya Nesia setelah mendapat ponsel Afandi.


Afandi pun mengucapkan kata sandi ponselnya, dan akhirnya ponselnya terbuka. Nesia pun segera menelepon kakeknya, namun sempat berpikir satu hal.


Setelah tersambung, "Kek, tolong Nesia, cepat." ucap Nesia cepat.


***


30 menit kemudian...


Saat ini, Nesia dan Afandi sudah dalam perjalanan menuju kediaman Farhan. bersama suruhan nya. setelah beberapa saat melepaskan diri dari banyaknya wartawan yang mengelilingi mereka. untung saja, bodyguard suruhan Farhan cepat datang ke lokasi.


" Mengapa, kontak kakek ku ada padamu? " tanya Nesia penasaran.


" Siapa yang kau maksud? tanya Afandi dingin tanpa menatap Nesia.


Memang saat ini, Nesia dan Afandi duduk bersampingan, namun memakai jarak yang sangat jauh.


"Tadi aku melihat nama kontak kakek ku ada disini, dan nomornya juga tidak berbeda." ucap Nesia menunjukkan ponsel Afandi.


Segera Afandi mengambil ponselnya, dan menatap lurus ke depan tanpa mengubris perkataan Nesia.


"Sepertinya jalan ini menuju rumah kakek, apa ini tidak salah?" tanya Afandi bingung.


"Memang aku mau ke rumah kakek ku, setelah itu baru ke rumah mu." ucap Nesia malas.


***


Sesampainya di kediaman Farhan, segera Nesia turun menghampiri Farhan yang berdiri di depan pintu masuk.


Yang membuat Nesia bingung, ada dua orang berada di samping Farhan, yang sepertinya sepasang suami-istri.


"Kakek, siapa mereka?" tanya Nesia menatap kedua orang di samping Farhan.


"Mereka ayah dan ibuku." ucap Afandi yang berada di belakang Nesia.


"Sayang, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Dena menghampiri putra kesayangan nya itu.


Mendengar itu membuat Nesia kesal, "Dasar pria menyebalkan ini." ucap Nesia.


Keesokan harinya...


Saat ini semua media, tengah menyiarkan sebuah topik yang saat ini tengah menjadi perbincangan hangat. Bagaimana tidak?


Berita saat ini berasal dari pengusaha sukses dan terkenal, siapa lagi kalau bukan Farhan Wijaya dan Afandi Gyara.


Banyak media memberitakan, sejak kapan Farhan mengangkat Nesia sebagai cucunya. Ditambah lagi perihal pertemuan Nesia dan Afandi, yang dianggap sebagai sepasang kekasih.


***


Kediaman Bara Sanjaya...


"Apa ini?" tanya Bara emosi menunjuk layar televisi yang ada didepan nya.


Melihat sikap ayahnya, membuat Leo juga ikut emosi. "Ada apa lagi pa, itu rencana yang papa suruh kan, aku sudah melakukannya. Apa papa belum puas?" tanya Leo emosi.


"Kenapa jadi seperti ini?" tanya Bara.


Leo yang tidak ingin berdebat lagi, segera berdiri. "Sudahlah pa, Leo capek." ucap Leo melangkahkan kakinya.


Merasa ada yang aneh dengan pertanyaan papa nya, seketika Leo menghentikan langkahnya.


"Tunggu! Apa papa berencana ingin menyuruh ku mendekati wanita itu?" tanya Leo berbalik.


"Ya, papa memang merencanakan itu. Karena papa yakin rencana yang kau ku perintahkan pasti tidak berhasil." ucap Bara santai.


Leo pun tidak habis pikir dengan papanya itu. "Sudahlah pa, aku tidak akan melakukannya." ucap Leo malas.


"Kenapa?" tanya Bara penasaran.


"Papa mau tau?" tanya Leo santai sedangkan Bara hanya menundukkan kepalanya tanda mengiyakan.


"Karena aku tidak ingin menjadi pembunuh seperti ayah." ucap Leo menatap Bara emosi.


"Apa katamu!" ucap Bara emosi.


"Sudahlah pa, Leo sudah tau semuanya. Setelah papa menguasai harta mama, lalu papa merencanakan kematian mama.Papa kira aku tidak tau?" ucap Leo sinis.


"Ternyata kau sudah mengetahuinya." ucap Bara santai.


"Aku tidak habis pikir denganmu, bagaimana bisa seorang ayah tega membunuh istrinya dan membiarkan putranya tumbuh tanpa hadirnya seorang ibu." ucap Leo sinis lalu meninggalkan Bara.


"Lakukan saja yang ku perintahkan. Kalau tidak, lihat apa yang akan terjadi pada gadis ini." ucap Bara santai menunjukkan foto Leo bersama seorang wanita di ponselnya.


Leo pun seketika berbalik, dan mendapati papanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Kenapa papa tidak membunuh ku saja, aku pasti sangat bahagia." ucap Leo sinis segera meninggalkan Bara.


.


.


.


.


_______Bersambung_______


Jangan lupa like and vote tambah fav ya....


i love you...


see you.......