
Kediaman Farhan Wijaya...
Saat Nesia terbangun dari tidurnya, ia dikejutkan dengan adanya Farhan duduk disamping tempat tidurnya sambil menatap dirinya.
"Ee, kakek. Ada apa?" tanya Nesia bangun sambil mengusap matanya.
"Tunggu, jangan bilang kakek kesini hanya untuk membangunkan ku." ucap Nesia malas.
Sedangkan Farhan hanya menampakkan senyum di wajahnya.
"Ada hal penting yang ingin kakek sampaikan.Namun, kakek mohon kau harus menerima nya demi kebaikanmu." ucap Farhan.
Melihat ekspresi Farhan, membuat Nesia bingung. "Emang ada apa kek?" tanya Nesia bingung.
"Kakek sudah menjodohkan mu, tanpa persetujuan mu. Maafkan kakek... " ucap Farhan menundukkan kepalanya.
Mendapati pernyataan tak terduga itu, membuat Nesia langsung terdiam.
"Kenapa kek, kenapa kakek melakukannya?" tanya Nesia pelan.
Farhan pun segera menatap Nesia, "Jika kakek telah tiada, kakek ingin ada yang menjagamu." jawab Farhan.
"Tapi kan ada kak Nathan. Lagian kakek kan tau, Nesia nggak mau jauh dari kakek. Kenapa kakek malah menjodohkan ku?" ucap Nesia ingin menangis.
"Nathan tidak selamanya bisa menjagamu, dia juga akan menikah. Jadi, tolong terima, ini demi kebaikan mu... " ucap Farhan tulus.
"Baiklah kek, jika itu memang mau nya kakek. Nesia akan pikirkan kembali. Tapi sekarang tolong keluar, Nesia ingin sendiri." ucap Nesia tanpa menatap Farhan.
"Mereka bentar lagi akan datang, bersiaplah." ucap Farhan sebelum melangkahkan kakinya.
***
Setelah Farhan keluar, Nesia segera mengunci pintu kamarnya, dan berlari ke tempat tidurnya. Seketika air mata Nesia pun mengalir ia pun mulai terisak.
"Ini akhirnya terjadi, bukan?" ucap Nesia disela-sela tangisnya.
Hiks, hiks, hiks...
"Kakek memang benar, ini semua demi kebaikan ku. Tapi, ini tentang pasangan hidup. Bagaimana bisa aku hidup dengan pria yang tidak kucintai dan kurasa dia tidak mencintaiku. Apalagi aku hanya ingin menikah satu kali seumur hidup.Bagaimana bisa... hiks, hiks.
Setelah merasa tenang, Nesia segera mengambil headphone lalu memutar musik dan memakaikan nya ditelinga nya.
Ya, jalan yang sering dipakai untuk menghibur dirinya adalah mendengarkan musik, sambil menutup dirinya dengan selimut.
***
1 jam kemudian...
Saat ini Farhan hanya duduk termenung di ruang keluarga. Memikirkan Nesia, sambil menunggu kedatangan pihak keluarga yang akan dijodohkan dengan Nesia.
Terdengar lah langkah kaki mendekati Farhan, yang tak lain adalah Rico.
"Ada apa pa?" tanya Rico mendekati Farhan dan duduk menghadap Farhan.
Farhan pun seketika menoleh, "Dia sepertinya sulit untuk menerima nya." ucap Farhan.
"Memang perjodohan itu dipaksakan, tapi lihatlah kedepannya mereka akan terbiasa dan mungkin saling mencintai." ucap Rico menenangkan.
"Semoga saja. Ngomong-ngomong dimana Dena dan Fandi?" tanya Farhan hanya mendapati Rico.
"Dena dan Fandi ada diluar, sebentar lagi pasti datang. Biasalah pa... " ucap Rico tersenyum.
Beberapa saat kemudian...
Mereka semua pun sudah berkumpul bersama Farhan diruang keluarga.
"Kakek ini sudah setengah jam, apa dia lama lagi?" tanya Afandi malas.
"Kakek juga tidak tau, mungkin sebentar lagi." ucap Farhan.
"Fandi, kakek mohon tolong jaga Nesia dan belajar mencintai nya. Kakek takut ia suatu saat menderita karena perjodohan ini." ucap Farhan dalam.
Mendengar itu membuat Afandi bingung ingin mengatakan apa, ditambah lagi ini adalah perjodohan.
"Kakek tenang saja, Fandi akan menjaga nya dan belajar untuk menerima nya. Walaupun itu sulit, tapi Fandi akan coba." ucap Afandi tulus.
"Oh ya, kek. Dimana kamar wanita itu?" tanya Afandi.
Mendengar itu membuat Dena bingung. "Kamu mau ngapain?" tanya Dena bingung.
"Tenang ma, aku hanya memanggilnya agar dia lebih cepat." ucap Afandi.
"Dilantai atas." sahut Farhan.
***
Sesampainya diatas, membuat Afandi bingung dimana kamar Nesia. Namun, dia melihat pelayan yang disuruh Farhan tadi, yang sepertinya memanggil-manggil Nesia. Afandi pun segera menghampiri pelayan itu.
"Sini, bi. Biar Fandi saja." ucap Afandi.
"Hey, keluarlah. Kami sudah menunggu sangat lama." ucap Afandi sambil menggedor gedor pintu.
Tak ada jawaban, membuat Afandi kesal.
"Apa kunci cadangan nya, ada?" tanya Afandi pada pelayan di samping dirinya.
"Maaf tuan, jika ada yang masuk ke kamar non Nesia tanpa izin, dia akan marah. Kecuali tuan Farhan." ucap pelayan itu menundukkan kepalanya.
"Tidak masalah, aku yang akan bertanggungjawab,sekarang tolong ambilkan." ucap Afandi.
"Baik tuan." ucap pelayan itu menundukkan kepalanya, lalu pergi untuk mengambil kuncinya.
Beberapa saat...
"Ini tuan." ucap pelayan itu memberikan kuncinya sambil menundukkan kepalanya.
Afandi pun segera meraih kuncinya, dan langsung membuka pintu didepannya.
.
.
.
.
.
.
____Bersambung_____
Jangan lupa like and vote nya ya kakak kakak readers....
love, love... 🥰
See you.......