
"Farhan... Fahri..." Daniel memberikan tatapan peringatan pada Farhan dan Fahri agar tidak menggoda putrinya. Namun bukannya takut, Farhan dan Fahri justru menampilkan ekspresi tertawa.
"Mah... ndong... nda mahu jalan Zel tuh." Ucap Zeline sambil mengulurkan kedua tangan mungilnya pada Naina.
"Baiklah, ayo." Naina hendak mengangkat tubuh Zeline namun tangan Daniel dengan cepat menahannya.
"Biarkan aku saja yang menggendong Zel." Ucap Daniel lalu mengambil alih tubuh Zeline dan menggendongnya. "Jangan menggendong Zel. Apa kau tidak ingat jika saat ini tengah hamil, hem?" Mengusap rambut Naina dengan tangannya.
Naina terdiam lalu mengangguk. Saat ini ia memang acap kali melupakan keadaannya yang sedang berbadan dua.
"Farhan, Fahri, ayo masuk." Titah Daniel lalu berjalan lebih dulu ke dalam rumah diikuti Naina.
"Wlek..." Zeline mengulurkan lidahnya pada Farhan dan Fahri tanda kemenangan.
Wajah Farhan dan Fahri seketika berubah jengkel karena target mereka dibawa begitu saja oleh Daniel sebelum mereka sentuh.
"Naina... Zeline..." Mama Hasna berjalan tergopoh-gopoh dari dapur ke ruang tamu saat melihat kedatangan Naina dan Daniel.
"Mamah..." Naina turut mendekat pada Mamam Hasna lalu berpelukan barang sejenak.
"Naina... Mama sangat senang saat mengetahui kau sedang hamil saat ini." Senyuman di wajah Mama Hasna terkembang saat mengingat informasi yang disampaikan Daniel di grup chat keluarga mereka kemarin.
Naina tersenyum. "Terimakasih, Mah. Nai juga sangat senang, Mah." Balas Naina.
"Dengan kehamilanmu saat ini, Mama harap kau tidak perlu sungkan mengatakan jika menginginkan sesuatu. Mama, Dara dan Daniel akan siap melayanimu sebisa kami." Ucap Mama Hasna dengan tulus. Menurutnya kehamilan Naina kali ini adalah jalan bagi Daniel dan dirinya mengganti momen melayani Naina saat hamil Zeline dulu.
"Baiklah. Terimakasih Mama." Balas Naina tanpa sungkan.
Mama Hasna tersenyum. Pandangannya pun beralih pada Zeline yang terlihat berwajah masam. "Ada apa dengan wajah cucu Nenek, hem?" Tanya Mama Hasna.
"Zel sedang tidak mood, Mah." Balas Daniel lalu menghela nafas berat.
Kening Mama Hasna mengekerut. "Tidak mood kenapa?"
"Karena mereka." Ucap Daniel sambil mengarahkan pandangan pada Farhan dan Fahri yang baru saja kembali dari arah dapur sambil membawa mangkuk kecil di tangan mereka masing-masing.
"Zeline..." panggil Farhan tanpa takut pada Daniel yang kini duduk di samping Daniel.
"Lihatlah apa yang kami bawa." Farhan mengulurkan mangkok di tangannya ke arah Zeline.
"Apa ini, Tak?" Tanya Zeline sambil melirik mangkuk yang masih tertutup di tangan Farhan.
"Bukalah dan kau akan tahu apa isinya." Timpal Fahri.
Zeline nampak diam dan berpikir. Setelahnya ia pun turun dari atas sofa dan memegang mangkok yang kini ada di atas meja sofa. Tanpa ada curiga sedikit pun, Zeline pun membuka penutup mangkok.
"Tara... kami membawakan kembaranmu!" Seru Farhan dan Fahri bersamaan.
Zeline, Naina dan Daniel pun sontak menatap pada isi mangkok.
"NutriZel..." pekik mereka bersamaan lalu berlari menjauh dari sofa.
"Mamah... hua..." Zeline pun menangis dengan kencang karena merasa dipermainkan.
"Farhan... Fahri..." Mama Hasna pun memanggil kedua cucu nakalnya sedikit keras karena telah mempermainkan cucu bungsunya.
"Hua... Zel itu mah?" Ucap Zeline dengan menangis lalu menjatuhkan wajahnya di paha Naina.
"Oh astaga... anak-anak itu..." Daniel memijit kepalanya yang terasa sakit.
***
Berikan dukungannya dulu yuk untuk mendukung semangat shy dalam menulis🤗
Like
Vote
Komen
Hadiah
Dan jangan lupa follow IG shy @shy1210_ untuk mengetahui informasi update.