Takdir Setelah Perpisahan

Takdir Setelah Perpisahan
7. Part 7


Sesampainya di depan pintu, Nesia segera membukanya dan masuk ke dalam.


Nesia mendapati Afandi tengah memeriksa dokumen, ia pun melangkahkan kakinya mendekati sofa yang ada didepan meja kerja Afandi.


Afandi melirik Nesia sekilas, "Kenapa kau kembali." ucap Afandi dingin menatap dokumen di depan nya.


Mendengar itu membuat Nesia gugup. "Aa-ku... ingin menemani mu sampai selesai bekerja.


"Eeem, soalnya tadi mama nyuruh aku, makanya balik lagi." ucap Nesia cepat sekaligus lega.


Melihat ekspresi Nesia saat ini, membuat Afandi ingin tertawa. Namun, ia dengan cepat menepis nya dengan wajah datarnya.


" Wanita ini memang cantik dan menyenangkan, tapi dia juga sangat aneh dan memalukan. Aku ingin melihat ekspresi lain yang ia punya, rasanya sangat menyenangkan." batin Afandi tersenyum.


"Sila!" ucap Afandi memanggil sekretaris nya itu.


Pintu pun terbuka, tampaklah wanita cantik melangkahkan kakinya mendekati Afandi. Yang tak lain adalah wanita yang Nesia lihat tadi.


"Iya Pak, ada apa?" tanya Sila lembut.


Melihat itu membuat Nesia muak, "Dasar wanita licik ini, tadi saja suaranya seperti ular yang sangat berbisa, giliran sekarang bak bidadari." gumam Nesia malas.


"Tolong buatkan saya kopi. " ucap Afandi dingin.


Itu membuat Sila heran, karena biasanya kopi Afandi hanya OB yang membersihkan ruangan nya yang selalu membuatkannya kopi. Namun, ia senang akhirnya bisa menjalankan rencananya.


"Baik Pak. " jawab Sila menundukkan kepalanya lalu berbalik.


Belum sempat ia melangkahkan kakinya, Nesia sudah lebih dulu berbicara.


"Biar aku saja." ucap Nesia cepat.


"Bagaimana ini, pak?" tanya Sila bingung.


" Wanita ini... " batin Sila kesal.


"Biar dia saja, kamu periksa saja dokumen ini. Periksa nya disini aja, karena ini dokumen penting. Saya ingin langsung mengawasi pekerjaan mu. " ucap Afandi menatap Nesia.


Mendengar itu membuat Nesia bingung, meninggalkan mereka berdua atau jika tidak takutnya Sila akan memasukkan obat perangsang kedalam kopi Afandi. Itulah saat ini terpikirkan Nesia, mengingat film yang ia tonton belakangan ini, merebut seorang kekasih dengan cara menjijikkan baginya.


Nesia segera bergegas ke luar ruangan, untuk membuat secangkir kopi.


Selang beberapa menit, Nesia pun kembali membawa secangkir kopi ditangannya. Ia pun mendekati Afandi yang berada di meja kerja nya.


"Ini kopi mu." ucap Nesia sembari meletakkan kopinya di atas meja Afandi.


"Ini masih ada dokumen yang harus diperiksa." ucap Afandi berdiri menghampiri Sila yang berada di depan meja kerjanya.


Afandi pun duduk di samping Sila, sambil melihat Sila memeriksa dokumen itu. Melihat Afandi yang berada dari biasanya, membuat Sila berpura-pura tidak mengerti untuk mengambil kesempatan.


Nesia yang mengikuti arah langkah Afandi, saat ini melihat mereka yang sepertinya sangat asik.


" Aku sudah mencoba tidak berperilaku dari biasanya, untuk menjaga perjodohan ini didepan wanita itu, agar seolah olah ada cinta didalam nya. Tapi kau malah bersikap perjodohan ini memang tanpa cinta." batin Nesia pilu.


"Sepertinya kalian sangat sibuk, aku akan pergi saja. Lagian, di kantor ku ada pekerjaan juga. Aku permisi dulu... " ucap Nesia mencoba tersenyum, lalu melangkahkan kakinya tak lupa mengambil tas nya di depan Afandi dan Sila.


"Hey, dia calon istrimu bukan?" tanya seorang pria yang menyapa Nesia tadi.


Dia adalah Bryan Barta, orang yang Afandi temui saat menimba ilmu di London. Mempunyai kewarganegaraan yang sama, membuat mereka dekat, dan menjadi sahabat sampai sekarang. Dia berprofesi sebagai seorang dokter psikolog.


"Mengapa kau ada disini?" tanya Afandi memperhatikan Nesia yang semakin menjauh.


Afandi memang mengikuti Nesia, memastikan apa benar ia pergi, dan nyata nya iya membuat Afandi merasa bersalah.


"Sepertinya kalian ada masalah dan..." ucap Bryan terpotong.


Suara seorang wanita dibelakang Afandi membuat percakapan mereka terhenti. "Pak, dokumen nya sudah saya periksa. Kalau begitu saya permisi. " ucap Sila menundukkan kepalanya keluar melewati Afandi dan Bryan.


Setelah Sila menjauh Bryan melanjutkan perkataan nya, "Apa kau mencoba mengerjai nya dengan menghadirkan wanita itu?" tanya Bryan.


"Kau tau apa?" ucap Afandi kembali ke ruangan nya. Sedangkan Bryan mengikuti nya dari belakang.


"Tentu aku tau, aku sudah sangat hapal sifat mu." ucap Bryan berjalan di belakang Afandi.


Saat sampai di meja kerja nya, mata Afandi tertuju pada secangkir kopi yang dibuatkan Nesia tadi. Ia pun meraih kopi itu dan menyesapnya.


" Ini sangat enak." batin Afandi terus menikmati kopi ditangannya sampai habis.


"Mengapa kau bersikap seperti itu padanya?" tanya Bryan penasaran dengan jawaban Afandi.


"Aku tidak melakukan apapun." jawab Afandi cepat.


"Ha, kau memang sangat keras kepala dan selalu mengelak. Aku tau kalian dijodohkan, tetapi belajar lah untuk mencintai wanita cantik tadi. Seperti yang ku lihat, dia ingin belajar mencintaimu walaupun itu sulit." ucap Bryan.


Mendengar itu membuat Afandi menatap Bryan, "Dari mana kau tau, dia ingin mencintaiku?" tanya Afandi penasaran.


"Apa kau lupa, aku seorang psikolog. Dan ingat, walaupun wanita sangat sabar, mereka juga mempunyai batas kesabaran. Jika kesabaran itu habis, jangan harap ada kata maaf dan tentunya kau akan sangat menyesal." ucap Bryan menatap Afandi.


"Sepertinya kau tadi bukan mengerjai nya melainkan tidak menghargai nya. Sudahlah, aku pergi dulu... " ucap Bryan segera meninggalkan Afandi.


Memang tadi Bryan sempat melihat Nesia membuat kopi. Merasa tak asing dengan Nesia, dia pun mengikutinya. Dan sampailah diruang kerja Afandi, ia tidak masuk. Melainkan, melihat situasi dari balik pintu.


.


.


.


.


______Bersambung_______


Jangan lupa like and vote nya ya kak😊


Semoga pada suka, biar aku semangat lgi up ny....


See you.....