
Anisa terus mengelus perutnya yang semakin membesar. kini dia sedang berada di rumah sakit, bukan untuk memeriksa kandungan nya. dia sengaja kesini hanya untuk menemui Alpin.
mereka semakin dekat bahkan Anisa sudah tak memanggilnya dokter lagi. Anisa merasa nyaman ketika berbicara dengan Alpin. tanpa sepengetahuan erick, Anisa selalu keluar bersama alpin.
"seharusnya kau memakai jaket, Nisa?" seru Alpin ketika memegang tangan Anisa yang begitu dingin. karena diluar hujan.
"um.. tak apa. oh iya.. aku ingin pergi ke suatu tempat sebelum melahirkan nanti. apa kau mau menemaniku Alpin?"
"menemani? lalu suami mu?" Alpin masih berpura-pura tak mengenal Erick.
sebenarnya dia sangat mengenal Erick juga Anisa. mereka satu sekolah dulu. Alpin mengatakan nya hanya saja di lihat dari gelagat anisa yang seperti tak mengingat nya Alpin mengurung kan niatnya.
Alpin pun merasa aneh, kenapa Anisa bisa menikah dengan Erick. bukankah Erick begitu membenci dia.
"suamiku selalu sibuk. dia jarang di rumah." Anisa pun sama berbohong. dia tak mau Alpin mengetahui yang di lakukan Erick pada nya.
"mm..oke. aku bisa pergi dengan mu. tapi dengan satu syarat..."
"syarat..? apa itu?"
"mungkin ini akan sangat berlebihan." Alpin bangkit dari duduknya. menyandarkan tubuhnya di pinggir meja dengan tangan yang menyilang.
"aku ingin makan malam di rumah mu"
"makan malam?"
Alpin tersenyum.
"mm..aku hanya ingin mengenal suami mu juga." ujar Alpin membuat kesan baik di mata Anisa. padahal lelaki ini mempunyai rencana di dalam kepalanya.
"aku tak yakin.." desah Anisa. Erick tak pernah lagi makan malam di rumah. dia selalu bersama pacarnya setiap malam lalu pulang saat tengah malam.
"tapi aku akan menyampaikan ini pada suamiku." lanjut Anisa. Alpin tersenyum senang mendengarnya.
"permainan akan di mulai" batinnya.
alpin melihat jam tangannya. jam makan siangnya sudah selesai.
"kapan kau pulang? aku akan mengantarmu jika tak keberatan?"
"um.. aku pulang sekarang saja. seperti nya kau sudah harus bekerja lagi." anisa memperhatikan Alpin yang sedang memakai seragam dokternya.
"iya, tapi bisa menunggu sebentar kan? aku antar pulang."
"tidak usah."
"tapi di luar masih hujan."
"tidak apa-apa. aku bisa memanggil nanti. aku pulang..dan.. terimakasih aku selalu mendengar semua yang keluhan ku."
"tidak masalah. ayo..ku antar sampai depan."
mereka pun keluar beringinan.
"kemana gadis tolol itu pergi."
Anisa yang baru turun dari taksi buru-buru masuk kerumah saat melihat mobil Erick sudah terparkir di depan.
"Erick, kau sudah pulang.."
Erick melempar kan jasnya saat melihat Anisa berjalan menghampiri nya. Anisa hanya diam saja sambil memungut jas Erick yang tergeletak di lantai.
"kemana saja kau?" bentaknya.
"aku.. memeriksa kandungan ku." jawabnya pelan. Erick melihatnya dengan tatapan datar.
"kenapa kau pulang?"
"ini rumahku, apa aku tidak boleh pulang."
"Bu..bukan begitu. maksud ku.. kau selalu pulang larut biasanya."
"apa kau tak suka melihat ku?" Erick selalu saja salah paham dengan apa yang di katakan Anisa. Anisa hanya mampu diam tak mau bicara lebih banyak lagi.
"siapkan air hangat. aku mau mandi." titah Erick.
Anisa memperhatikan Erick yang terus saja memijat pelipisnya. dengan tanpa sadar Anisa berjalan mendekati nya lalu menyentuh keningnya.
"mau apa kau?'" Erick menepis tangan Anisa dengan kasar.
"kau panas." gumam Anisa. "masuklah kekamar mu.. aku akan buat kan bubur."
"siapa kau, berani menyuruh ku."
"aku tahu kau tak pernah menganggap ku sebagai istri mu. tapi, aku selalu saja berpikir kenapa kau menikahi ku jika memang kau membenciku." Anisa menarik napas sebelum melanjutkannya.
"kebencianmu atas dasar apa? aku sendiri masih tidak tahu. aku tidak mengingat semua orang yang dekat denganku dulu. apa itu kau.. atau seseorang yang ada di album foto yang memiliki wajah sama denganku. mungkin dulu aku menyakiti mu dengan kejam sampai kau memperlakukan ku seperti ini sekarang."
Erick terdiam mendengar semuanya. hatinya merasa sakit saat Anisa mengatakan itu.
"Sekarang aku akan menerima apapun yang kau lakukan untuk menebus salahku yang akupun tak tahu kesalahan apa. kau bunuhpun aku akan menerima nya." ujar Anisa lalu pergi. ekspresi wajah nya membuat Erick bingung harus berkata apa.
Anisa menghentikan langkahnya.lalu berujar pelan.
"kau suamiku sekarang. aku akan mendengar apapun yang kau katakan."
Erick semakin tertohok saat Anisa mengatakan kalau dia suaminya sekarang.
gadis itu masih menganggap dirinya sebagai suami.
Erick tahu anisa bukanlah gadis yang dulu memperlakukan nya dengan keji. tapi wajah itu sama bahkan setiap melihat mata itu, Erick merasa kalau Anisa tengah menatapnya dengan pandangan jijik.
hatinya berkecamuk. dia bingung dengan perasaannya sekarang. setelah tahu anisa bukanlah gadis itu, ia selalu merasa bersalah saat melihat wajah yang terlihat lelah itu.
tapi selalu dengan cepat di tepisnya.