
Erick terbaring di kasurnya dengan kesal. sudah hampir sebulan dia terus saja duduk di kursi roda dan berbaring di kasur, benar-benar membuat pinggang nya terasa mau patah karena menahan pegal. Anisa pun kini sibuk mengurus perusahaan nya mengganti Erick untuk sementara. dan Elson kini sudah tak memanggilnya om atau sebutan lain, selain papah.
bahagia kah Erick? tentu saja dia bahagia, karena kini Anisa sudah mau menerima nya kembali dan hak nya sebagai ayah sudah dia dapat kan sekarang. hanya saja Erick merasa sedikit kesal, karena kenapa harus dengan cara seperti ini semuanya kembali. Erick tak bisa bebas mendekati Anisa karena mau minum saja harus di layani.
"bi, tolong ambilkan aku minum." ya, benarkan. dia tak bisa turun dari kasur tanpa bantuan seseorang.
Riska yang memang sedang di kamar Erick, membersihkan lantai langsung segera ke dapur. Elson yang sedari tadi duduk di atas perut Erick terus saja bergerak membuat Erick sedikit merasa sakit karena perutnya tertekan.
"Elson, turun sebentar ya?" pinta Riska setelah kembali dari dapur.
"da mau." Elson memonyongkan bibirnya.
"sudah bi, aku bisa sendiri." Elson mengambil gelas dari tangan Riska. dengan susah payah meminum airnya karena posisinya yang terbaring dan di duduki Elson.
"Elson, papah lagi sakit sayang..." Anisa yang baru pulang dari kantor langsung mengangkat tubuh elson. "perut tak sakit kan?" Anisa menyerahkan Elson pada Riska.
"bi.. bawa Elson ke kamarnya ya, ini sudah malam."
Erick diam, melihat wajah Anisa yang khawatir membuat otak jahilnya berputar. dia mengelus perutnya dan pura-pura meringis menahan sakit.
"Uh..." Erick memicing kan matanya sebelah untuk melihat reaksi Anisa. padahal perutnya sama sekali tak terasa sakit.
"apa itu sakit? kenapa kau diam saja Elson duduk di perut mu seperti itu?" Anisa mengelus perut Erick dari balik bajunya. senyum jahil Erick semakin lebar tanpa Anisa sadari.
"mm... tekan sedikit." ujarnya. Anisa menekan perut Erick perlahan, tangannya terasa kaku saat merasakan otot perut Erick yang begitu kekar.
"apa lebih baik sekarang?" Anisa memalingkan wajahnya ke arah lain, wajah nya memanas.
"seperti ini?" Erick menarik tangan Anisa lalu memasukan tangan Anisa ke dalam kaos yang dipakai nya. Anisa terperanjat kaget. suhu tubuh Erick begitu hangat mengenai telapak tangannya.
bruk..
Anisa tersungkur tepat di atas badan Erick, karena tarikan yang di lakukan Erick pada tangan nya. wajah mereka berpapasan, Anisa menelan ludah nya gugup. saat Erick tersenyum Anisa tersadar dan langsung mencoba bangun.
"perut mu..." ucap anisa panik. bukannya menjawab Erick malah melingkar kan tangannya di pinggang Anisa. membuat tubuh mereka begitu rapat.
"jika kau yang di atas perut ku, itu tak sakit." bisik Erick membuat Anisa sedikit meremang karena hembusan napas Erick terasa di telinganya hingga ke leher.
deg..
jantung anisa berhenti berdetak untuk sesaat, seperti ada banyak bunga di hatinya. Anisa menelusup kan wajah nya di ceruk leher Erick.
"kau menggodaku" Erick memejamkan matanya saat hidung dan mulut Anisa menyentuh kulitnya tanpa sengaja. Anisa langsung mengangkat wajah saat sadar.
"i..itu..aku.. anu..aku.." anisa gelagapan. Erick melepas pelukannya, lalu terkekeh pelan saat melihat Anisa lari keluar kamar. dia suka itu, Erick baru sadar ternyata wajah merona Anisa sangat lah manis.
di lain tempat, Alpin dan dilan tengah makan bersama di sebuah restoran. mereka tak sengaja bertemu dan memutuskan untuk makan bareng.
"kau sudah melupakan Anisa sekarang?" dilan meminum airnya lalu menatap alpin. "hei.. jangan memasang wajah menyedihkan. kau lihat aku, meskipun jomblo tetap happy. move on dan lihat di sekitar mu banyak gadis cantik."
alpin menatap dilan tajam. "semakin hari mulutmu itu minta di sumpal rupanya."
"hehei... bukan disumpal. tapi di cium.." dilan memasang mode seksi membuat alpin bergidik.
"gila. kau tak waras." rutuk Alpin.
"haahaaaa...."
tanpa mereka sadari dua pasang gadis tersenyum melihat tingkah mereka.
"bukankah itu dokter yang merawat anakmu yah?
"iya. dia tampan juga ramah."
"mm..aku harus mendapatkan nya." gadis berambut ikal dengan baju yang sedikit terbuka itu menatap alpin dengan pandangan yang begitu sensual.
"ada apa?" tanya dilan saat melihat alpin menggosok tengkuknya.
"rasanya sedikit merinding."
"oh.. mungkin butuh belaian." jawab dilan asal., yang hasilnya sebuah jitakan mendarat di jidat nya.
"sialan kau."