Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 54


anisa terus memegang tangan Erick, seolah tak mau terpisah kan. Erick sudah di tangani dokter dan sebentar lagi akan segera di pindah kan keruangan rawat.


"Anisa, apa yang terjadi dengan Erick?" dilan terlihat khawatir. "dia sakit?"


"mm.. tubuhnya demam. seperti nya karena luka yang waktu itu." jelas Anisa. dilan mengangguk mengerti.


"dilan, obati lukamu dulu." Alpin menarik dilan dengan cepat. "perawat tolong obati." Alpin memanggil salah satu perawat untung mengobati luka dilan.


"hei.. ini hanya luka kecil.."


"jangan membantah. sus.. tolong."


dilan pun pasrah ketika seorang perawat menyuruh nya untuk berbaring. sebenarnya dia memang merasakan sakit dari tadi, hanya saja karena kekhawatiran nya pada Reza membuat dia lupa dengan lukanya sendiri.


"Alpin.." Anisa melihat alpin yang kini berdiri tepat di samping ranjang Erick. dengan cepat anisa menarik tangannya saat menyadari ke arah mana pandangan Alpin.


"kenapa? aku tahu tadi kau memang bersamanya kan?" ucap Alpin.


"ah.. itu.." Anisa merasa bersalah karena telah membohongi nya. "maaf.."


Alpin tersenyum tipis. "maaf atas apa? dia suamimu."


Anisa terdiam. Alpin merasa tak nyaman dengan apa yang di rasakan nya.


"eummm.. aku harus kembali. pekerjaan ku belum selesai." ujar nya.


"mmm.."


Alpin pun memilih untuk pergi. mencoba berlapang dada dengan kenyataan. dia melirik dilan yang kini tengah di obati. rasanya lebih enak jika hidup seperti nya. tak ada beban berat.


sehari sudah Erick di rawat di rumah sakit. Anisa selalu menemani nya. ke adaannya sudah lebih baik sekarang.


Erick bangun begitu melihat dilan masuk.


"kau menemukan Sasa?"


"ya, dia di penjara sekarang." jawab dilan. "dan Reza masih koma. lalu istri nya pun dalam ke adaan kritis." jelas dilan.


Erick mendengar kan semua cerita dilan dengan seksama. dia tak menduga jika masalahnya ini akan menyeret sahabat nya dalam bahaya. jika dia tahu ini akan terjadi, mungkin dia tak akan melibatkan Reza dan dilan.


"maaf." Erick terlihat bersalah. dilan tertawa kecil.


"jangan sungkan. kau adalah sahabat kami. lebih baik sekarang urus biaya Reza dan istri nya." dilan menepuk pundak Erick. "kau tahu, kau pun belum membayar ku. meskipun sahabat bisnis tetap lah bisnis."


"haha.. kau memang lelaki matre."


Erick pun mengurus semuanya, dia bertanggung jawab atas Reza dan Aina. lalu bayinya yang kini sudah membaikpun dengan segera dia bawa pulang. dia akan menjaga sampai kedua orangtuanya pulih.


Anisa merasa sedikit mulai memahami karakter Erick. sifat Erick yang sekarang adalah Erick yang asli tanpa ada kepalsuan di dalamnya.


"Alpin, aku harus ikut Erick pulang. aku akan mengurus bayi reza." ucap anisa. Alpin tersenyum kecut. kesempatan nya untuk mendapatkan Anisa semakin jauh. harapan itu kini sudah tak terlihat lagi.


"apa kau masih mencintainya, Anisa?" sekali lagi saja di menanyakan ini pada anisa. jika jawaban nya masih sama maka alpin akan mundur secara perlahan.


"itu.. aku belum tahu pasti." jawab anisa. jawaban yang tak berarti apa-apa. alpin terkekeh.


"jika suatu saat kau mulai menyadari isi hatimu, katakan padaku dengan jelas." Alpin menarik pinggang Anisa. memeluknya, melampiaskan rasa sakitnya. Anisa terdiam.


"pergilah." Alpin melepaskan pelukannya lalu memutar tubuh Anisa dan mendorongnya pelan. saat di lihatnya Erick berjalan kearah mereka.


Anisa melihat Erick menggendong bayi reza lalu segera menghampiri nya, mengambil alih bayi itu. Alpin menatap sendu, lalu memutar tubuhnya dan pergi dengan hati yang kecewa.