
"apa Erick terluka parah?" Reza menatap dilan meminta jawaban. kini dilan sudah berada di kamar rawat Reza, karena Erick kembali di bawa ke ruang ICU. kondisi nya kembali memburuk entah kenapa. padahal satu jam sebelum nya Erick sudah tertolong dan segera di pindahkan ke ruangan.
"iya, dan aku tak yakin dia bisa melewati semuanya atau tidak." ucap dilan membuat Reza dan Aina terbelalak tak percaya.
"bawa aku kesana? aku ingin melihat nya?" pinta Reza. Aina menatap dilan meminta mengabulkan permintaan Reza. dengan cepat dilan mendudukan Reza ke kursi roda karena kaki nya masih belum bisa berjalan dengan normal.
dilan mendorong kursi roda itu menuju ruang ICU di ikuti Aina dari samping reza.
"dia masih di dalam." lirih Alpin seraya mendudukan dirinya di kursi tunggu, begitu pun dilan dan Aina.
Alpin sedari tadi menunggu di luar ruangan karena meskipun dia seorang dokter tapi ini bukan tugasnya. dia hanya dokter spesialis anak biasa, tak bisa ikut campur dengan penanganan Erick.
Anisa berlari dengan cepat begitu mendengar kabar lagi dari Alpin, kalau Erick sekarang kembali kritis dan tengah di tangani oleh dokter.
"Erick..."
bruk..
tubuh Anisa terjatuh kelantai begitu sampai di depan ruangan ICU. Alpin yang melihat itu segera membantunya untuk bangun dan mendudukkan nya di kursi.
"apa yang terjadi? kenapa dia begini?" Isak Anisa.
"dia kecelakaan. "jawab dilan.
"kecelakaan?" Anisa ingat sesuatu, berita yang dia tonton tadi malam mungkin kah tentang kecelakaan Erick. kenapa dia tak bisa mengenali mobil yang hancur itu.
Anisa kembali terisak. dia tak bisa menahan sesak di dadanya. Alpin membuka seragam dokternya lalu memakaikannya pada Anisa, karena baju tidur yang Anisa pakai sedikit terbuka.
bahkan kau sampai lupa mengganti bajumu. batin Alpin.
Aina yang melihat Anisa begitu terpuruk langsung memeluknya mencoba untuk menenangkan.
"aku yakin, dia akan baik-baik saja." bisiknya.
seraya mengeratkan pelukannya.
ketiga lelaki itu hanya bisa diam melihat Anisa yang kini terlihat begitu buruk. tangisnya sangat memilukan.
"keluarga pasien?" seorang perawat keluar.
Anisa langsung berdiri.."a..ku istrinya" ujarnya seraya menepuk dada.
perawat itu mengeryit, tidak mungkin kan wanita memiliki nama lelaki.
"pasien terus saja menyebut nama Elson, dokter pikir kehadirannya akan sangat membantu buat kesadaran nya."
"Elson, dia putra kami."
"apa dia ada?" tanya perawat itu lagi.
Alpin segera maju ke depan. "sus, Elson masiih balita,kami tak mungkin membawanya sekarang. biarkan istrinya masuk." pinta Alpin cepat.
"Erick.." Anisa merasa dunianya hancur saat melihat kondisi Erick yang begitu terlihat mengenaskan. kedua kakinya di pan dan sebagian wajahnya di balut perban, hanya memperlihatkan sebelah mata saja. belum lagi kabel yang terhubung di sekujut tubuhnya.
Anisa tak kuasa menahan tangisnya, dia kembali menangis.
"detak jantung nya sangat lemah." dokter yang sedari memeriksa Erick menjelaskan kondisi Erick sekarang. "tapi, detak jantungnya selalu kembali normal saat dia menyebut nama Elson."
Anisa semakin merasa kehilangan setengah nyawa saat dokter bilang kalau hanya 30 persen saja ke mungkinkan untuk Erick bertahan hidup.
"tapi, saya pikir jika Elson hadir itu bisa membuat nya ingin kembali melanjutkan hidup. karena saya rasa ini bukan karena luka yang dia dapat, tapi karena hatinya yang menolak untuk kembali bangun."
Anisa menggigit bibirnya, dia mengerti. Erick mungkin merasa kalau selama ini tak pernah di anggap ayah oleh putranya sendiri. ini salah nya, kenapa tak pernah menjelaskan pada Elson kalau Erick adalah ayahnya. Erick selalu berkata kalau hidupnya merasa hampa meskipun dia dan dirinya kembali hidup bersama, karena Elson maupun Anisa tak pernah menganggap nya ada.
sebenarnya Anisa masih sangat mencintainya, hanya saja dia tak mau mengakui karena takut terluka untuk kedua kalinya.
"ya..tuhan, dokter detak jantung nya semakin melemah."
lamunan Anisa langsung buyar begitu ruangan kembali ribut. dia melihat dokter dan perawat itu terus menekan dada Erick dengan alat bantu.
tubuh Erick terangkat saat alat itu di lepaskan, dokter terus melakukan nya berulang. Anisa semakin merasa kehilangan ke seimbangan tubuh, tubuhnya goyah.
bruk..
anisa terduduk di lantai. tangannya membekap mulutnya sendiri untuk menahan isakan yang keluar. airmatanya tak berhenti mengalir.
"Erick.. kumohon.. jangan menyerah."
"sus, sebaiknya bawa istri pasien keluar." perintah dokter tersebut.
"tidak, biar kan aku tetap disini." Anisa meronta saat kedua perawat menyeretnya keluar.
"mohon, ibu jangan seperti ini. kami akan berusaha semaksimal mungkin." pinta salah satu perawat itu dengan penuh.
"apa yang terjadi?" dilan dan Alpin berbarengan menghampiri anisa.
"Erick.. Erick..." Anisa terasa tercekat, dia tak mampu mengatakan apapun lagi.
"sus tunggu, apa yang terjadi?" tanya dilan saat perawat itu akan kembali masuk. perawat itu hanya menggelengkan kepalanya tak bisa menjelaskan lalu kembali ke dalam.
Anisa terus meronta dalam dekapan Alpin, dia ingin melihat Erick lagi dia tak ingin meninggalkan Erick di dalam sana sendirian.
"sudahlah, jangan seperti ini." pinta Alpin.
"Alpin, apa.. Erick akan baik-baik saja?"
Alpin tak berani menjawab, dia tak yakin pasti.
Aina ikut menangis melihat Anisa, diapun pernah merasakan hal sama saat Reza dalam ke adaan kritis dulu.