Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 46


Erick kini sudah kembali ke rumahnya, tubuhnya masih belum pulih sepenuhnya. dia berbaring seharian di atas kasur. semua keperluan nya riska yang urus.


"den, ini obat dan juga makan siangnya." Riska meletakkannya di atas di meja. Elson berjalan mengikuti nya di belakang.


"apa om Ujah Cempuh?" tanyanya seraya naik dengan susah payah ke atas kasur karena tubuh nya yang pendek.


Erick tersenyum melihat wajah menggemaskan Elson. dia senang karena. Elson tak lagi menjaga jarak dengan nya, meski masih memanggil nya dengan sebuah om.


"iya, om harus segera sembuh supaya nanti bisa membawa elson ketemu ibu."


"penalkah om?" mata Elson berbinar senang.


riska yang melihat kedekatan erick dan Elson membuatnya sedikit ragu untuk membawa elson dari sini. jika di perhatikan selama ini Erick begitu perhatian dan menyayangi Elson. dia tak tega jika harus memisahkan ikatan ayah dan anaknya.


riska beranjak keluar setelah Erick menyuruh nya, sementara Elson masih terdengar berceloteh menceritakan semua tentang Anisa juga Alpin.


Erick menatap Elson dengan tatapan terluka. anaknya begitu membanggakan Alpin, menganggap nya lelaki terhebat dalam hidupnya.


nak, ini papah. kenapa kau malah memuji orang yang bukan ayah mu. batin Erick perih.


"mm..jadi.. ibu dan ayah sekarang tinggal bersama?"


Elson menggeleng kan kepalanya, membuat rambut nya bergerak.


"papah Popo di umah cakit."


Erick dapat menyimpulkan kalau alpin dan Anisa masih belum menikah. mungkin mereka hanya menjalin hubungan sebagai kekasih. dengan begitu Erick masih punya kesempatan untuk merebut anisa kembali.


riska mengeryit saat melihat ponselnya yang di simpan di atas meja berdering.


"oh.. selamat siang pak Alpin.?"


"apa Elson baik? kau bisa membawa elson sekarang."


perintah alpin membuat Riska bingung, dia tak mungkin meninggalkan Erick sekarang karena kondisi tubuhnya yang masih belum pulih sepenuhnya. selama 6 bulan tinggal bersama Erick membuat Riska menyadari sesuatu, kalau Erick bukanlah orang yang kejam.


"em.. pak, elson sedikit demam hari ini. bagaimana kalau nanti setelah Elson agak baikan." riska akhirnya berbohong.


"baiklah. jaga Elson."


Alpin pun memutuskan sambungan. untungnya dia percaya dengan apa yang di katakan riska.


Erick terdiam saat mendengar Riska berbohong pada alpin. Erick dapat mengetahui semua percakapan riska di telpon karena Erick menyadapnya. tapi dia tak tahu pasti kenapa Riska sekarang seperti mengundur waktu untuk membawa elson pergi.


Erick melirik Elson yang sekarang tertidur di samping nya. matanya nanar menatap Elson, dia tak rela jika harus kehilangan lagi.


Alpin menggeleng kan kepalanya pada Anisa. Anisa mengerti arti dari gelengan kepala Alpin. dia tak akan bertemu lagi dengan elson sekarang. dia sudah sangat merindukannya, hatinya merasa tak nyaman terus gelisah setiap hari memikirkan ke adaan Elson.


"sabar saja. aku akan berusaha lagi untuk membawa elson ke padamu." Alpin merengkuh tubuh anisa yang kini semakin kurus. karena selama ini Anisa kurang memperhatikan kondisi tubuhnya, bahkan anisa pernah tak makan seharian karena terlalu memikirkan Elson.


di tambah dengan kejadian yang menimpanya 5 hari lalu, membuat Erick terluka karena menyelamatkan nya.