Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 53


Anisa memeluk tubuh Erick yang kini menggigil, demamnya semakin tinggi. rasa paniknya dengan cepat muncul saat Erick tak juga membuka mata nya.


"non, bawa saja kerumah sakit." saran riska.


Anisa nampak berpikir, jika sekarang membawa Erick kerumah sakit maka Alpin pasti akan melihat nya. jika tidak, bagaimana dengan nasib Erick sekarang.


"uh.. jangan tinggalkan aku." igau nya sambil memegang jemari Anisa. Anisa menghela nafas melihat Erick begitu mengkhawatirkan.


"baiklah. aku akan membawa Erick ke rumah sakit. bibi jaga Elson baik-baik ya."


Anisa berlari keluar kamar untuk meminta bantuan sopir pribadi Erick. dia tak bisa mengangkat tubuh besar itu sendirian.


sementara itu Alpin pun terlihat sibuk karena bayi yang baru di lahirkan Aina sedikit mengalami masalah. bayi itu memiliki masalah dengan pernapasan nya, mungkin di akibatkan karena benturan yang cukup keras saat di dalam perut.


dilan menyandarkan tubuhnya di tembok, menunggu Reza yang kini tengah menjalani operasi karena lukanya yang serius akibat pukulan benda tumpul dan tajam di sekujur tubuhnya. untung saja Tuhan masih memberikan anugerah nya ke pada nya, jika tidak mungkin dia sudah mati karena kondisi nya begitu banyak kehilangan darah.


"Alpin, bagaimana dengan bayinya?" tanya dilan saat melihat Alpin berjalan ke arahnya.


"sudah di tangani."


Alpin terlihat muram, bukan karena masalah bayi atau apapun. dia baru saja melihat Anisa dan Erick ada di ruang IGD saat kembali dari ruangan bayi reza.


"ada apa dengan wajah mu?"


"huh.. tidak. ku lihat Erick ada igd." ujarnya memberi tahukan dilan.


"apa? haih.. kenapa kita berkumpul lagi dalam ke adaan buruk seperti ini. Reza saja sudah hampir mati. sekarang ada apa lagi dengan Erick."


"kenapa menarikku.?" pekik Alpin, dia sengaja tak melihat mereka tadi karena terlalu sakit bagi nya melihat Anisa yang begitu sedih karena Erick.


"kita kan teman.."


Alpin melepaskan tangannya dengan cepat.


"sejak kapan?" tanya Alpin dingin.


dilan mendesah. dia tahu kalau Alpin menyukai anisa tapi dia juga tahu kalau Anisa adalah istri Erick. sungguh cinta yang rumit, itulah sebabnya dilan lebih memilih untuk hidup sendiri.


"ck.. ya sudah.kalian orang dewasa yang seperti anak kecil."


Alpin hanya diam mendengarkan ungkapan dilan. sebut saja dia lelaki egois karena mengharap kan istri seseorang.


"kabari aku jika operasi Reza sudah selesai."


dilan berjalan meninggalkan Alpin yang masih berdiri mematung di tempatnya. apa keputusan nya untuk menghindari Erick dan Anisa adalah hal yang benar atau salah.


Alpin melihat tangan dilan yang terluka belum mendapatkan pengobatan. darah masih merembes keluar melalui bajunya.


"bodoh. dirinya terluka malah memperdulikan orang lain." Alpin sedikit terenyuh oleh dilan yang begitu setia kawan.


dengan berat Alpin mengikuti langkah dilan. dia akan menggunakan luka dilan sebagai alasan mengikuti nya ke IGD. sejujurnya hati kecilnya sama sekali tak mau melihat ke dekatan Erick dan anisa. tapi Alpin juga berpikir, dia hanya lah lelaki yang bukan siapa-siapanya Anisa. Erick memang berhak atas perhatian Anisa sekarang. Alpin akan mencoba bersikap se gentle mungkin jika nanti di IGD melihat betapa cintanya Anisa pada Erick.


mata Alpin tertuju pada kaki dilan, rupanya dia juga tak berjalan dengan benar. seperti nya kaki kanannya pun terluka.