
"tidur di kamar mu." ucap Erick dengan wajah datar. dia melanjutkan langkahnya tapi tiba-tiba tangan nya di tarik Sasa.
"kak, ada apa denganmu. kenapa sejak dari pulang kantor tadi begitu cuek padaku." Sasa merasa ada yang salah dengan sikap Erick sekarang. biasa Lelaki itu selalu memperlakukan nya dengan lembut meskipun lelah sekali pun.
Erick hampir lupa dengan rencananya. dia menangkup wajah Sasa lalu tersenyum sedikit di paksakan.
"aku hanya lelah dan sedikit memikirkan Elson."
"kau merindukannya atau merindukan Anisa.?"
Erick melepaskan tangannya dari wajah Sasa. dia berjalan menuju kamarnya lalu menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
Sasa berdiri dengan tangan mengepal. dengan sikap erick yang seperti itu membuatnya berfikir kalau Erick juga merindukan anisa sekarang.
Sasa berjalan menuju kamarnya dengan kesal.
drt..drt...
ponselnya berdering membuat Sasa menghentikan langkahnya. segera mengangkat telpon dengan suara berbisik karena takut Erick mendengar nya.
Sasa: jangan menelpon di malam hari..
penelpon: kenapa? kau takut Erick mengetahui nya.?
Sasa: Alpin.. jangan hubungi aku lagi. jika ingin bertemu.. tunggu aku di cafetaria milik bibiku besok.
penelpon: oke..jam 3 sore.
Tut..Tut..
telpon terputus. Sasa menengok kebelakang. dia bernapas lega karena pintu kamar Erick masih tertutup rapat. dia melanjutkan jalannya ke kamar.
Erick menyeringai saat sebentar lagi mangsanya akan tertangkap. dia merasa puas dengan pekerjaan anak buahnya.
"kau..terus hubungi dia. jangan sampai semuanya terbongkar." Erick menutup telponnya.
"ku bereskan satu persatu. setelah kau.. baru target yang lain. tunggulah "
Sasa merebahkan tubuhnya di kasur. dia masih bingung dengan Alpin yang tiba-tiba menghubungi nya. Bahkan Alpin terkesan mengejarnya. Sasa tersenyum tipis, dia senang karena kini Alpin mungkin kembali mencintai nya dan ingin merebut nya dari Erick. Sasa merasa menjadi gadis paling beruntung di cintai dua lelaki kaya sekaligus.
"tuan Alpin?" seorang lelaki bertopi coklat menghampirinya. Alpin memperhatikan wajah itu.
"kau tak ingat aku?" ujar orang itu seraya membuka topinya. Alpin terkejut, saat melihat wajah itu. dia masih ingat dengan wajah ini, gigi gingsulnya dan juga mata sipitnya.
"dilan? itu kau?"
"ya.. siapa lagi yang mempunyai wajah tampan seperti ku."
"haa.. kemana saja kau."
Alpin dan dilan memilih masuk kesebuah cafe untuk mengobrol. dilan adalah teman lama Alpin. mereka satu ekskul saat SMP.
mengobrol banyak soal perjalanan mereka sampai sekarang. dilan rupanya sekarang bekerja di sebuah stasiun TV swasta. dia
bekerja sebagai wartawan berita.
setelah cukup lama berbincang akhirnya mereka memilih untuk pulang. saling bertukar no ponsel juga kartu nama.
dilan mengeluarkan ponselnya saat melihat Alpin sudah pergi jauh darinya.
"bos.." ucapnya saat panggilan nya terjawab.
"target sudah ada di tangan. apa yang harus aku lakukan sekarang.?"
senyumnya tersungging saat mendengar jawaban di sebrang telpon. dia memasukan kembali ponselnya. berjalan dengan cepat menuju motornya di parkir.
drt..drt...
ponselnya kembali bergetar. ada pesan masuk.
from. Reza
dilan, jangan sakiti Alpin. tetap awasi dia. dan jangan lupa besok kau datang ke cafe cempaka. jam 3 sore.
dilan menghela napasnya. dia juga bukan orang jahat yang akan melukai temannya sendiri. dia hanya ingin ikut bermain dalam drama ini.