Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 38


"Elson..aku merindukan nya. apa dia baik-baik saja." Rahma semakin lemah dengan kondisinya. kini dia tengah di rawat di rumah sakit. penyakitnya semakin parah. kanker serviks yang di deritanya sudah tak bisa di obati.


Anisa hanya diam, airmatanya ikut menetes begitu melihat kondisi Rahma juga mengingat Elson putranya.


"aku keluar sebentar." ijin Anisa. dia tak mau melihat Rahma dalam kondisi ini. hatinya terpukul, dia menyesal karena dulu dengan mudahnya terpikat oleh Erick. mungkin jika dulu anisa tak mengenalnya hidupnya sekarang tak akan seperti ini.


Alpin yang melihat Anisa berjalan menyusuri lorong rumah sakit segera menghampiri nya. mengajak masuk keruangan nya. Alpin memiliki ruangan pribadi di rumah sakit ini karena pemilik rumah sakit adalah kakek nya.


dengan segera Alpin memeluk anisa begitu sampai di ruangannya. Alpin memeluknya dari belakang dan kemudian mencium pipinya. Anisa tak menolak, tetap diam dengan posisinya yang berdiri di depan jendela.


meski Alpin tahu anisa masih belum bisa menerima cintanya tapi dia akan tetap menunggu dan terus mencintainya. tetap berada di sampingnya sampai anisa sadar kalau dia begitu mencintai nya.


"aku sudah mengirim nyonya riska, dia akan membantu kita. tenang saja." bisik Alpin.


Anisa memutar tubuhnya lalu membalas pelukan Alpin. airmatanya yang tadi di bendungnya kini tumpah kembali. dengan kasar anisa menghampusnya, mencoba untuk tidak menangis lagi.


"tidak apa-apa, menangis lah jika itu membuatmu lebih baik."


"Alpin..." mata Anisa kembali berkaca-kaca.


"aku bersedia menampung semau bebanmu. jika kau menangis aku akan cepat menghapus air matamu. aku ijinkan kau menangisi Elson dan ibumu. tapi jika kau menangis untuk Erick, ku pastikan dia tak akan akan bahagia seumur hidupnya." sambung Alpin sebelum Anisa kembali menangis. Alpin begitu baik juga lembut memperlakukan nya, hati Anisa sedikit tersentuh olehnya.


Alpin melepaskan pelukannya lalu merangkul pundak Anisa memapahnya ke kursi.


"duduklah. jika kau butuh sesuatu katakan pada ku."


Anisa mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk, melihat Alpin yang menatapnya dengan lembut.


"istirahat lah. aku akan keluar sebentar." ujar Alpin lalu bergegas pergi.


"tunggu." Anisa menarik lengan baju Alpin dengan cepat sebelum benar-benar keluar dari ruangan.


"ada apa?"


"terimakasih." Anisa kembali memeluk Alpin. membuat Alpin tersenyum di buatnya.


Alpin mengangkat dagu Anisa, lalu mengecup bibir nya sebentar. membuat Anisa terdiam atas apa yang di lakukan nya.


"i love u." bisik Alpin. "aku tahu kau masih belum bisa menerima ku sepenuhnya. tapi, aku yakin kau akan memilih ku nanti." bisik Alpin.


Alpin keluar setelah mengucapkan kalimat itu. Anisa menyentuh bibir nya. ada rasa yang begitu sulit di artikan. apa dia sudah membuat Alpin menunggunya selama ini.


_________&&&_______


Erick memperhatikan kedua lelaki yang kini duduk di hadapan nya. berkat kerjasamanya kini Erick dapat mengetahui siapa Sasa.


"kali ini apa yang kau inginkan?" tanya Reza.


"Alpin. aku ingin kau buntuti dia. apa hubungannya dengan Anisa."


"bagaimana. aku bayar kalian 2 kali lipat dari yang kemarin."


"setuju." dilan sangat antusias. dia begitu tergiur dengan tawaran Erick.


Reza menyikutnya, dia tak mengerti dengan jalan pikiran dilan.


"tenang, hanya membuntuti saja bukan. itu hal mudah." tentu saja sebagai seorang wartawan bukanlah hal sulit baginya, ini hanya sebuah lelucon baginya.


"aku tidak ikut campur. bagaimana pun juga Alpin adalah temanku." tolak Reza.


Erick tersenyum sinis. tak di sangka Reza begitu setia kawan rupanya.


"baiklah. kau boleh pergi." usir Erick.


Reza segera pergi.


Erick dan dilan segera menyusun rencana. kali ini Erick menginginkan Anisa kembali. jika kecurigaan nya benar bahwa Alpin lah yang di panggil papah oleh Elson, maka erick tak akan membiarkan nya hidup begitu saja.


Reza menghentikan langkahnya saat melihat Sasa berjalan ke arahnya.


"heuh.. kau butuh uangkan?" tanya Sasa tanpa basa-basi. "aku tahu, istri sedang hamil sekarang.."


reza memang sangat membutuhkan uang untuk biaya persalinan istrinya. pekerjaan nya yang hanya sebagai buruh cuma mendapatkan gaji yang kecil. tapi Reza masih memiliki uang dari Erick jadi dia tak butuh lagi sekarang, meskipun uang itu jumlah nya tak besar tapi jika berhemat mungkin akan cukup sampai istri nya melahirkan anaknya.


"hei.. aku bertemu istri mu tadi.. dia terlihat tidak sehat."


Reza tersentak. " apa yang kau katakan?"


"aku cuma mengatakan fakta.. bahwa kau mendapatkan uang dengan cara yang hina. memfitnahku seenaknya."


"kurang ajar. apa yang kau lakukan pada istri ku." Reza takut, karena istrinya memiliki jantung yang lemah. Sasa tersenyum sinis.


"hanya membuatnya masuk ke ruang ICU." kekeh Sasa.


Reza ambruk ke tanah seketika, selama ini dia berbohong pada istri nya bahwa dia mendapat kan uang yang begitu banyak dari hasil meminjam pada bosnya. tapi jika Sasa mengatakan yang sebenarnya, pasti akan membuat nya sangat terkejut.


"asal kau membantuku untuk membunuh Anisa, maka semua biaya istrimu aku jamin." bisik Sasa.


Reza mendongak. dia menolak tawaran Erick karena itu menyangkut Alpin temannya. tapi jika menyangkut Anisa, Reza tak begitu kenal dekat dengan nya.


"baiklah. tapi kau harus berjanji akan menyelamatkan istri ku."


"tentu saja." Sasa tersenyum senang lalu melempar selembar cek yang berjumlah 10 juta. "dia di rumah sakit harapan bunda."


tanpa pikir panjang Reza langsung bangkit dan berlari menuju motor nya. dia tak ingin terjadi apa-apa pada istri nya dan juga bayi yang ada dalam kandungan nya.


"bagus. lihat saja. Anisa akan mati di tangan ku." Sasa tertawa senang. perlakuan Erick Minggu lalu membuatnya semakin ingin melenyapkan Anisa.