Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 36


Alpin memasuki gerbang rumahnya. dia melihat seorang wanita tua duduk di depan pintu.


"apa nyonya riska menunggu lama?" tanya nya dengan sopan. wanita itu bangkit dari duduknya, lalu meraih tangan Alpin.


"jangan terlalu sungkan. aku hanya lah bekas pembantu di rumah nyonya Rahma." ujarnya.


"mm.. masuklah. ada yang ingin aku sampaikan."


Riska mengikuti Alpin masuk. duduk di ruang tamu dengan sedikit ragu.


"apa yang ingin harus saya lakukan.?"


"aku ingin nyonya kembali ke kediaman nyonya Rahma."


"apa.. itu tidak mungkin. menantunya sudah mengusirku."


dulu riska memang bekerja di rumah Anisa sebagai asisten rumah tangga. tapi setelah Erick memegang kendali keluarga itu, semua pembantu di berhentikannya dengan cara yang tak manusiawi. mereka di usir begitu saja tanpa di berikan gaji terakhir mereka.


"sekarang aku jamin menantunya tak akan mengusir nyonya. karena dia butuh seseorang untuk menjaga anaknya."


"maksud pak Alpin?"


Alpin mulai menceritakan semuanya. termasuk rencananya yang membutuhkan keterlibatan Riska sekarang. karena hanya Riska yang bisa membantu nya membawa elson keluar dari rumah Erick.


"tapi,. apa tidak akan apa-apa?" Riska sedikit ragu, takut kalau rencana Alpin tidak akan berhasil.


"tenang saja. pasti berhasil. kita buat seolah-olah Elson di culik."


setelah cukup lama meyakinkan Riska, akhirnya mereka pun sepakat. Riska tak meminta imbalan yang besar, dia hanya ingin membantu Rahma karena kebaikannya yang dulu terhadap dirinya.


_________&&&________


Sasa menelan ludahnya begitu dilan memutar rekamannya. terdengar dengan jelas suara Sasa dan dilan yang sedang mengobrol.


tubuhnya semakin menegang begitu rekaman berakhir. melihat Erick dengan takut.


"ka..ka..?"


Erick menarik tangan Sasa dengan keras hingga tersungkur ke lantai. setengah jongkok karena Sasa yang masih terbaring di lantai. menjambak rambutnya untuk menarik nya bangun.


"aahh.. sakit kak." teriak Sasa. Erick tak menggubris nya, hati nya sudah gelap karena emosi. rasa cintanya lenyap begitu saja.


Reza dan dilan yang melihat itu hanya saling memandang lalu memilih untuk pergi dari ruangan.


Erick hanya meliriknya sekilas lalu kembali menarik rambut sasa dengan keras.


"lepaskan kak,.." Sasa meraih tangan Erick yang mencengkram rambutnya.


"kau iblis tak punya hati. semau karenamu aku jadi seperti ini." desis Erick. melepaskan cengkraman nya lalu menampar wajah Sasa hingga kembali tersungkur ke lantai.


Sasa meringis kesakitan. sudut bibirnya mengeluarkan darah. wajah Erick begitu bengis menatapnya. Sasa tak pernah di perlakukan seperti ini sebelumnya.


"kakak, maaf kan aku.."Sasa merangkak menyentuh kaki Erick. tapi dengan kejamnya Erick menendang Sasa hingga terjungkal.


"maafkan.. semudah itu kah? kau sudah menghancurkan segala nya."


"aku mencintai mu. sungguh... aku melakukan nya karena cinta ku padamu."


Erick terkekeh mendengar nya.


"sekarang aku tak mencintai mu. aku hanya mencintai Anisa, di hatiku hanya ada dia."


"tapi kau telah menyakiti nya, dan dia juga telah pergi dari mu... "


"diam kau gadis sialan." Erick kembali menarik rambut sasa supaya berdiri. "itu terjadi karena kau."


"aku? hhaaaa.." Sasa tergelak. "itu terjadi kau bodoh. percaya pada ku dan begitu buta sampai tak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah."


plak..


Erick menampar Sasa untuk kedua kalinya. dia semakin murka sekarang.


"aku mengutuk mu, kau tak akan pernah bisa bersatu dengannya. jika terjadi pun kau akan mati." umpat Sasa


Erick menendang perut Sasa tanpa belas kasihan.


"hentikan.. cukup. kau bisa membunuhnya."


untung reza kembali tepat waktu. dia menarik erick dengan cepat. membawanya keluar ruangan, meninggal kan Sasa yang terbaring setengah sadar. tubuh nya di penuh lebam. bahkan kedua pipi nya membengkak.


sasa bangun dengan susah payah.


"tunggu pembalasan ku."