Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 35


"uh..sakit." keluh anisa saat Alpin mengoleskan obat merah di siku nya yang lecet.


kini mereka sudah pulang kerumah anisa. Alpin segera mengobati luka Anisa begitu sampai.


Rahma masih menangis di kamar nya. dia khawatir dengan ke adaan Elson sekarang. begitu mendengar cerita Anisa, Rahma langsung berlari ke kamarnya. karena tak mau menangis di depan anisa.


"ibu pasti sangat terpukul." gumam Anisa. alpin bangkit dari duduknya.


"biarkan saja. jangan ganggu dulu. kau istirahat lah.. aku akan pulang." Alpin mengambil jaket yang di simpan nya di atas sofa lalu memakai nya.


"besok aku akan kerumah Erick.."


"tidak.. Erick pasti akan marah padamu."


Alpin tersenyum melihat raut wajah Anisa yang mengkhawatirkan dirinya. tangannya meraih tangan kedua tangan Anisa lalu mencium punggung tangannya dengan lembut. Anisa sedikit tersentak, tubuhnya menjadi kaku. rona merah pun muncul di kedua pipi. Anisa sangat tenang dan nyaman atas perlakuan Alpin.


"tidak, aku bisa mengatasi nya. " Alpin menarik lengan Anisa , memeluknya lalu mencium kening Anisa.


Anisa tak tahu apa yang terjadi dengannya, perlakuan Alpin yang lembutnya membuat nya semakin tak mau berontak. dia menyukainya setiap sentuhan yang Alpin berikan.


"mm..i..iya.." Anisa menunduk dalam. begitu malu.


Alpin melepaskan pelukannya. lalu berjalan keluar rumah. Anisa masih menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


hatinya menjadi hangat seketika. perlakuan Erick dan Alpin jauh berbeda. anisa merasa semakin nyaman saat di dekat Alpin sementar jika bersama Erick, hanya melihat nya saja Anisa sudah merasakan sakit yang mendalam. mungkin karena apa yang telah Erick lalukan selama ini padanya.


Alpin membuka pintu mobilnya lalu masuk. mengemudi dengan kecepatan tinggi. sebenarnya malam ini dia punya janji dengan seseorang. orang yang akan membantu nya merebut elson kembali dari Erick.


_______________________


Erick membuka keciljendela kamarnya. matanya mengawasi Sasa yang berjalan masuk kedalam mobil. senyum Erick seketika melebar saat melihat Sasa telah menghilang dari pandangan nya.


to; Reza


bongkar semuanya sekarang. aku tak ingin menunggu nya sampai bulan.


ponsel hitam itu di pegang dengan sangat erat. saat pesan yang dia kirim telah di terima.


Erick berjalan perlahan menuju tempat tidur Elson. mencium keningnya dengan lembut.


Sasa tak menyadari Erick terus mengawasi gerak-gerik nya. dengan perasaan yang begitu senang membuat sasa lupa dengan sikap erick yang akhir-akhir ini berubah.


Sasa tak sabar ingin bertemu dengan Alpin. dia ingin sekali melihat wajah itu sekarang. bagaimana juga Alpin pernah mengisi hatinya, ada kerinduan terhadapnya meski hanya sedikit.


di sebuah restoran China mereka bertemu. begitu sampai Sasa langsung berlari tak sabar menuju ke dalam.


"dimana dia?" Sasa mengedarkan pandangannya. Alpin memberi tahukan nya kalau dia sudah sampai dan menunggunya di dalam.


"eoh.. nyonya sasa." seorang pelayan lelaki menghampiri nya. Sasa melihat nya dengan ragu.


"iya.." Jawannya kemudian.


"mari silahkan. tuan alpin sudah menunggu anda di dalam."


"luar biasa. kakak saja tak pernah membawa ku kesini."


"silahkan masuk."


pintu itu terbuka menunjukan isi ruangan yang begitu mewah. hanya ada 2 kursi dengan meja bulat yang besar.


Sasa melangkah dengan cepat. matanya tak henti melirik semau barang yang ada diruangan, banyak berbagai macam bunga menghiasi dinding. membuat kesan romantis.


senyum Sasa semakin lebar saat melihat lelaki yang duduk membelakangi pintu.


"maaf.. aku sedikit terlambat." ujar sasa. tak ada jawaban.


sasa berjalan menghampiri.


"Alpin, kau marah?" tanya nya seraya berjalan melewati nya, duduk di kursi satunya lagi.


"Al.. ka..kak.." Elsa terkejut begitu mengangkat wajahnya, bukan alpin yang duduk di sana tapi Erick.


Sasa mematung, dia tak mengerti kenapa Erick yang ada disini. apa dia benar-benar sudah tahu kalau dirinya akan bertemu alpin di restoran ini, jadi dia bertindak lebih cepat.


"kau terkejut?" Erick menyeringai. Sasa menelan ludahnya. tak tahu harus berkata apa. suasana menjadi sangat tegang baginya.


"kakak, dengar dulu.. ini pasti ulah anisa.. ya..aku mendapat pesan dari no yang tak dikenal, dia mengancam ku..jika aku tak datang maka.. dia akan melukai kakak.." sasa mencoba apapun yang bisa membuat Erick percaya padanya.


Erick menopang dagunya sedikit memiringkan wajahnya mendengar Sasa begitu lancar mengatakan kalau ini semua rencana anisa. jelas-jelas ini rencana Erick.


Sasa semakin gugup melihat reaksi Erick yang terlihat seperti tak percaya.


"seharusnya kau menjadi seorang aktris." gumam Erick membuat Sasa mengerutkan keningnya.


"akting mu sangat bagus. sampai-sampai aku ingin bertepuk tangan untuk mu."


Sasa semakin bingung dengan sikap Erick.


"ini rencana ku sejak awal. bagaimana bisa jadi rencana anisa. apa dia mencuri skenario ku." Erick bangkit dari duduknya, berjalan menuju sasa yang terlihat begitu bingung.


"apa maksud kakak?"


"mm.. maksudku.. aahh.. kau tahu jelas apa maksud perkataan ku." Erick menepuk tangan nya dua kali, lalu pintu terbuka dan masuklah Reza juga dilan. semakin membuat Sasa bingung.


"selamat malam, Sasa.. "Reza membukukan badannya sebentar lalu tersenyum. " ingat suara ku?"


deg..


Sasa merasa kaku. suara itu yang selalu menelpon nya. dan juga mengaku sebagai Alpin. bagaimana bisa dia begitu bodoh tak mengingat suara Alpin dengan jelas. Tubuh sasa bergetar. kini dia paham apa yang di maksud Erick dengan rencana nya.


dilan mengeluarkan ponselnya, lalu menyimpannya di atas meja.


"ah.. ini hanya percakapan kita berdua di cafe cempaka." ujar dilan menjawab rasa bingung Sasa yang terlihat jelas di wajah nya.


Sasa semakin takut sekarang. dia sudah terjebak di kandang harimau dan tak mungkin bisa kabur. Erick menatapnya dengan tajam begitu menusuk. sementara kedua lelaki di depannya tersenyum menyebalkan.