
5 tahun berlalu, semua nampak berbeda dengan tampilannya masing-masing. Anisa terlihat lebih cantik dengan rambut yang di sanggul. baju kebaya yang dia kenakan begitu pas membalut tubuhnya yang sekarang lebih terlihat gemuk.
"ibu, mana papah?" Anisa melihat Elson yang sudah rapi dengan jas hitamnya. bocah berumur 6 tahun itu tumbuh semakin tampan dengan wajah yang begitu mirip sang ayah.
"ayah di ruang kerja nya. cepat panggil." Anisa menyelesaikan polesan terakhir diwajahnya lalu beranjak dari duduknya. "ini sudah siang."
hari ini mereka akan mengunjungi perjamuan para pengusaha di seluruh Indonesia. sebagai pengusaha sukses, Erick mendapatkan undangan untuk hadir.
"papah, ibu bilang cepat lah." teriak Elson tak sabar.
mereka pun masuk kedalam mobil dengan senyuman yang tak pernah luntur dari wajah mereka.
Anisa menyandarkan kepalanya di bahu erick. Elson melirik nya dari kursi depan, dia tersenyum. kedua orang tuanya duduk di kursi belakang, saat ini sopir pribadi Erick yang membawa mobil. melihat orangtuanya begitu dekat hatinya hangat.
Alpin merapikan jasnya. "kau sudah siap?" tanyanya pada wanita yang duduk di kursi samping kemudi. wanita tersenyum manis.
merasa sangat bahagia, tuhan telah memberikan kesempatan kedua untuknya. dia tak akan menyia-nyiakan lagi kesempatan ini. Alpin sudah menerima nya kembali dengan senang hati. meskipun dia merasa tak pantas, tapi hatinya tetap saja menerima kehadiran Alpin kembali di hidupnya.
"Sasa, kau melamun?"
"ah.. tidak. aku siap." ujarnya mantap.
wanita itu memang Sasa. dia sudah terbebas dari jerat belenggu masa hitamnya.
rencana tuhan memang tak bisa di tebak. kita hanya bisa pasrah dan mencoba sekuat tenaga untuk menjalankannya.
"apa anisa dan Erick akan memaafkan ku?" lirih sasa sangat mengingat kejahatannya selama ini pada mereka.
"tenang saja. yakinlah." Alpin meraih tangan kanan Sasa, menggenggam nya selama perjalanan menuju rumah Erick.
Elson menarik napas dalam saat tiba-tiba gelanyar tak enak mengisi relung hatinya. matanya kembali melirik kedua orangtuanya yang kini terlihat sedang bercanda di belakang sana. entah kenapa rasanya dia ingin sekali menatap keduanya dengan waktu yang cukup lama seolah tak akan pernah melihat nya lagi.
"ada apa Elson?" ujar Anisa saat merasa Elson terus memperhatikan nya.
"ah.. tidak." jawab elson cepat.
Anisa tersenyum lalu kembali berbicara pada Erick. Elson tak paham dengan apa yang mereka bicarakan, yang pasti itu soal perusahaan mereka.
elson lagi-lagi meremas dadanya yang kini kembali berdebar. seperti sebuah firasat buruk melintas di pikirannya. dengan cepat dia menepisnya.
"kenapa paman sam..?" tanya Elson.
"den.. rem nya tak berfungsi...ini..gawat." Sam terlihat panik. mukanya begitu pucat.
"ada apa Sam?"
"anu.. pakk.. rem...rem..."
"rem apa?" Erick menjadi takut, pikirannya langsung negatif. "jangan bilang remnya blong..." sambung Erick membuat Anisa terkejut.
"saya tak bohong pak.."
"ayah.. "
"Erick..."
Erick mencengkram tangan Anisa mencoba menenangkan. sementara tangan kirinya mencoba menggapai Elson.
Elson membalik badannya ke belakang. "ayah..aku takut."
"pak.. bagaimana ini.... ya .tuhan..."
semuanya panik. terlebih lagi sam. dengan susah payah mengendalikan laju mobilnya yang semakin kencang. remny sama sekali tak berfungsi.
*** hai..hai...cerita masih berlanjut. selanjutnya akan mengisahkan bagaimana jalan kehidupan Elson...
author ganti judulnya yang asalnya dia suami dan anakku kini jadi semesta cinta...
karena permintaan pihak mangatoon...😄😄
kuharap kalian ga pusing ya jadi nya...
mau tahukan bagaimana kehidupan Elson, tetap setia menunggu... oke...*****
kalian bisa kasih masukan.. mau seperti apa jalan hidup Elson kedepan.. mendapatkan cinta yang tulus atau malah sebaliknya...*****
terimakasih...