Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 52


"Reza.." dilan terpekik melihat tubuh yang tergeletak di bawah ke empat orang berbadan besar itu. matanya bergerak cepat mencari tempat untuk sembunyi, sangat tak mungkin baginya melawan ke empat monster itu.


"aish.. dimana para polisi itu. benar-benar seperti sinetron saja. mereka muncul ketika pemeran utama sudah babak belur." umpat dilan. " seperti nya aku harus melakukan nya sendiri."


dilan memantapkan hatinya, jika Reza tak di tolong bisa lebih buruk lagi. untung saja dia memiliki ke ahlian martial art meskipun tak begitu hebat. tangannya mematahkan ranting yang ada di dekatnya.


"hei.. kalian.." teriaknya begitu sudah berada dekat. ke empat orang itu menoleh ke arahnya, tubuhnya sangat tinggi dengan otot-otot yang terlihat di balik baju ketatnya.


dilan menelan ludahnya. kakinya sedikit gemetar, membuatnya nyalinya sedikit ciut.


"hahaha.. bagus. kau kemari untuk menyelamatkan nya?" Sasa muncul dari balik punggung lelaki yang tubuhnya lebih besar lagi dari yang lain.


"kau.." dugaannya benar. Sasa di balik semuanya. "lepaskan Reza. jika..tidak..."


"apa? kau mau apa?" Sasa menatap dilan dengan pandangan meremehkan. melihat tangan dilan yang memegang ranting gemetaran membuat Sasa terkekeh.


"karena kau sudah melihat wajah ku.. maka.." mata Sasa melihat ke empat orang yang di bayarnya itu. "bunuh dia."


"hei..hei.. tunggu dulu." dilan mundur. "aih.. kemana polisi keparat. apa aku harus mati dulu baru kalian datang. apa Alpin berbohong soal pengepungan ini."


"hahahaha...." gelak tawa begitu terdengar menusuk di telinga dilan. ke empat orang itu kini telah mengelilingi tubuh nya. Sasa melihatnya seperti sedang menonton film favorit nya.


bugh..


satu pukulan di layangkan ke wajah dilan tapi dengan sigap dilan menepis nya. senyumnya terlihat menakutkan, ekspresi wajahnya berubah seketika.membuat semua yang melihat nya sedikit merinding ketika wajah bodoh itu kini telah tergantikan oleh wajah yang datar tanpa ekspresi di tambah sorot matanya seperti mata elang yang sedang memperhatikan mangsanya.


bugh..


Duak..


pertarungan sengit pun tak terelakkan lagi. ranting yang di tangannya bergerak dengan kecepatan penuh, memukul dan menepis setiap pukulan yang melayang ke arahnya.


"cih.. keparat."


penampilannya yang rapi kini telah berubah 100 persen menjadi sangat berantakan.


Sasa memundurkan langkahnya saat melihat ketiga orang yang tersisa kini terlihat sudah tak berdaya lagi.


"sialan. aku harus kabur." rutuknya.


dilan tak memperhatikan Sasa, dia langsung berlari kearah tubuh Reza tergeletak.


"hei.. bangunlah. ******** seperti mu tak boleh mati."


guncangan yang di berikan dilan pada tubuh Reza tak ada efeknya sama sekali. Reza sudah kehilangan kesadaran nya.


"jangan bergerak.." beberapa polisi datang dengan pistol di tangannya. dilan mencembik kan bibirnya.


"selalu datang setelah pahlawan terluka." dilan melihat tangan nya yang sedikit tergores dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"ah..Sasa." dilan baru teringat. " pak.. satu tersangka kabur."


polisi lain datang dengan membawa seorang perempuan yang telah di borgol.


"heuh.. ternyata kerja kalian bagus juga." decih dilan entah memuji atau menyindir.


polisi-polisi itu segera menangkap ke empat orang itu, dan membawa tubuh Reza untuk segera di larikan ke rumah sakit.


Sasa melihat dilan dengan nyalang. dia begitu membenci dilan karena keterlibatan nya.


Sasa memang sempat kabur tapi sial bagi nya saat semua jalan telah di blokir oleh polisi. saat akan memutar langkah nya salah satu dari mereka melihat keberadaan nya.


para polisi sudah mengetahui wajahnya dari Alpin. Alpin sempat memberikan foto saat sebelum berangkat.


dilan mendesah lega saat Alpin menghubungi nya dan mengatakan kalau istri Reza kini sudah di rumah sakit di tangani para dokter.