Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 58


sudah seminggu lebih Anisa tinggal di rumah Erick. selama itu pun Erick tak pernah mendekati nya, hanya berpapasan saat makan atau jika kebetulan bertemu di ruang keluarga. Anisa merasa sedikit tak enak, saat lagi-lagi Erick berangkat kerja tanpa ketahuan olehnya.


"bi, aku mau keluar sebentar ya. ngajak Elson jalan-jalan." Anisa menggendong anak Reza yang sampai sekarang masih belum diberikan nama. biarkan Reza dan Aina nanti yang memberikan nya nama.


"iya non."


elson memegang tangan Anisa erat. berjalan di samping Anisa dengan senyum lebarnya.


"kita ke taman Nasional ya, biar Elson bisa main perosotan nanti."


"Acik.. iya ipuh."


Anisa menyetop taksi lalu segera naik. sebenarnya dia bisa membawa mobil sendiri karena Erick sudah menyediakannya jika Anisa ingin bepergian. tapi Anisa pikir akan lebih repot kalau harus menyetir dengan ke adaan mengendong seperti ini.


Alpin duduk di kursi nya dengan gusar. sudah lama Anisa tak bisa di hubungi. ponsel nya selalu tak aktif. Alpin pikir mungkin anisa sekarang sudah menentukan pilihan nya. ya, bagaimana juga Anisa mencintai erick, sementara dirinya hanya lah seorang teman yang mungkin akan tetap menjadi teman sampai kapanpun.


tok...tok..


ketukan pintu yang kencang membuat Alpin tersadar dari lamunannya.


"ya.. masuk."


"dokter..." seorang perawat terlihat gugup memasuki ruangannya.


"ada apa?"


"pasien dikamar pelangi dengan nama saka mengalami kejang."


"apa? kita kesana."


Alpin segera berlari ke ruangan yang di maksud perawat tadi. sebenarnya ini bukan lah kasus pertama yang dia tangani tapi Alpin tetap saja selalu tak bisa tenang jika pasien yang di tanganinya dalam masalah.


"tolong.. anakku.. kumohon dokter." wanita paruh baya itu terduduk di lantai.


anak lelaki yang usianya 6 tahun itu, kejang dengan ke adaan tubuh yang panas tinggi. Alpin segera melakukan pertolongan pertama. sebagai dokter dia harus bisa mengatasi ini semua, tapi pikiran nya tetap tak bisa konsentrasi. di kepalanya selalu melintas bayangan Anisa.


"hah.. ku mohon. bertahanlah." Alpin sudah sangat susah payah. keringatnya bercucuran dari dahi hingga jatuh di dagu nya.


"kumohon..." Alpin menekan dadanya saat anak itu kini diam tak ada respon apapun.


Alpin segera menekan tombol hijau untuk meminta bantuan perawat.


"ada apa dok.?"


"bawa anak ini k ICU." perintah nya cepat begitu seorang perawat telah tiba.


"dan minta dokter Hanz untuk mengganti kan ku sebentar." sambungnya membuat perawat itu mengerutkan keningnya merasa aneh, biasa Alpin tak pernah menyerah kan pekerjaan nya seperti ini. dia selalu melakukan nya dengan profesional.


"kenapa diam, cepat lalukan." bentaknya saat melihat perawa itu malah diam tak bergeming.


"i..iya..dok."


"haaah....." Alpin menghembuskan napas nya. ini pertama kali baginya tak bisa menyelesaikan pekerjaan nya seperti ini. dia memilih untuk pulang saja dari pada nanti harus membuat pasiennya dalam bahaya karena ke lalainya dalam memeriksa mereka.


mobil merah itu melaju dengan cepat. Alpin hanya ingin menenangkan pikiran nya sekarang. mungkin dengan pergi ke suatu tempat yang sepi akan membuat pikiran nya sedikit berkurang.


diperjalanan alpin terus menerus melihat ke sekelilingnya, mencoba mencari tempat yang cocok untuknya menyendiri.


"Anisa..?" Alpin menepi kan mobilnya saat melihat Anisa tengah bermain bersama Elson. dengan segera Alpin turun, cepat-cepat menghampiri nya.


"papah." teriak Elson begitu melihat Alpin berlari ke arahnya. anisa memutar tubuhnya dan sedikit bergeming saat melihat wajah Alpin.


"Alpin."


"Elson.. kemarilah" Alpin jongkok dengan kedua tangan yang merentang.