Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 50


anisa memperhatikan Erick dengan takut. tatapan tajam dan dingin, wajar datar tak bisa di tebak.


"katakan pada ku apa kau mencintainya? jika iya,aku tak akan menggangumu dan Alpin. tapi berikan Elson padaku." Erick mendekati Anisa dengan perlahan. "aku tak rela jika Alpin mengambil semuanya dari ku."


tubuh anisa tersentak akibat tarikan tiba-tiba yang dilakukan Erick pada pinggangnya, membuat nya berhimpitan dengan tubuh Erick. Anisa dapat merasakan suhu tubuh Erick yang panas akibat demam.


"maaf kan aku." ucap Erick tepat di depan wajah Anisa.


Anisa memalingkan wajahnya karena merasa panas dan gugup. Erick begitu erat memeluk nya, membuat Anisa terkungkung oleh tubuhnya yang dua kali lebih besar darinya.


"aku tak yakin dengan apa yang aku dengar. aku tak mau tertipu untuk kedua kalinya." sindir Anisa.


Erick tersenyum miring mendengar jawaban Anisa yang begitu jelas menyindirnya. apapun yang dia lakukan sekarang mungkin tak ada artinya di mata anisa. tapi Erick tetap lelaki yang memiliki keras kepala dan ego yang besar. Dia tak mau anisa meninggal kan nya lagi, apalagi sampai jatuh ke dalam pelukan Alpin.


"lihat mataku, aku tulus mencintai mu." bisik Erick, refleks Anisa menatap kedua mata Erick mencoba mencari ke bohongan di sana. tapi yang Anisa dapat kan hanyalah tatapan sedih Erick yang penuh dengan luka.


anisa mencoba melepaskan pelukan Erick saat merasakan dadanya kembali berdebar hanya dengan menatap wajahnya sedekat ini.


jemari Erick yang panas menelusuri wajah Anisa, dari mata kepipi lalu turun ke hidung mancungnya. Anisa menahan napas nya saat merasakan jemari Erick semakin turun perlahan menyentuh bibirnya dengan lembut.


secara ilmiah Anisa menyukai sentuhan ini, meskipun hatinya berontak tapi tubuhnya begitu menikmati apa yang Erick lakukan.


Erick semakin mendekat kan wajahnya sehingga hidung mereka bersentuhan. mata Anisa yang terpejam membuat Erick sedikit merasa tertantang untuk melakukan lebih. dia ingin sekali menyesap rasa manis dari bibir Anisa.


cup...


Erick menyatukan bibirnya dengan lembut, matanya terpejam menikmati sentuhan yang begitu lembut dari bibir Anisa.


tangan kanan Erick perlahan naik mengelus punggung anisa. sementara tangan kirinya dengan cepat berpindah pada pantat pantat milik Anisa. Anisa ingin berontak tapi reaksi yang di berikan tubuh nya sangat bertolak belakang dengan hatinya. dia begitu menyukainya dan menginginkan lebih. ini kedua kalinya Erick menyentuh tubuhnya setelah bertahun-tahun. saat malam pertama Anisa tak pernah merasakan kelembutan seperti ini dari Erick, tapi sentuhan Erick yang sekarang begitu membuat nya terbuai hingga melupakan semau kebenciannya.


anisa mencengkram lengan Erick saat ciuman Erick berpindah tempat. dengan perlahan Erick menyusuri rahang Anisa lalu turun hingga keleher. Erick menjilat leher anisa lalu menyedotnya membuat bercak merah sebagai tanda kepemilikannya.


"aahh..." Anisa melenguh membuat libido Erick semakin meningkat. suhu tubuhnya yang panas semakin panas, tapi dia tak peduli. tenggorokan Anisa tercekat dan wajahnya sudah sangat merah. matanya begitu sendu di penuhi nafsu.


hembusan napas Erick begitu terasa hangat di lehernya membuat Anisa kembali memejamkan matanya.


tanpa sadar tangan Anisa bergerak mendekap leher Erick seolah tak ingin cumbuannya terlepas. kakinya begitu lemas karena nafsu yang sudah semakin membuncah.


dengan cepat Erick mendorong tubuh Anisa kesofa membuatnya terhimpit antara sofa dan tubuhnya.


"aahh.. Erick."


bibir Erick mengecup dan menggigit leher anisa saat namanya di teriakan dengan begitu rendah oleh Anisa.


tangan Erick perlahan menarik baju Anisa tapi dengan cepat Anisa menahannya.


"hentikan Erick." desis Anisa. meskipun dia menikmati semua perlakuan Erick padanya tapi anisa masih waras. tak mungkin melakukan itu sekarang.


Erick menarik tubuhnya lalu berdiri dengan napas tersengal-sengal. pandangan matanya sedikit buram di tambah kepalanya yang semakin berdenyut.


Anisa baru saja akan bangkit saat tiba-tiba tubuh Erick ambruk menimpa tubuh kecilnya.


"Erick.. " anisa begitu terkejut melihat Erick tak sadarkan diri.