Semesta Cinta

Semesta Cinta
part 18


Alpin meninggal kan ruangan nya dengan cepat. ia tak sabar ingin segera bertemu dengan anisa. rasanya sakit saat melihat anisa terus saja di perlakukan buruk oleh Erick. Alpin bertekad akan membawa Anisa pergi jauh meninggalkan kota ini. dia yakin untuk menerima anisa jika nanti Erick benar-benar menceraikannya.


rasa cintanya terhadap Anisa tumbuh semakin dalam saat mengenal gadis itu semakin dekat.


hari ini dia berniat mengunjungi Anisa kerumahnya. sudah sebulan ini dia tak bertemu hanya sekedar chat atau telpon saja yang ia lakukan.


"nah.. paman Alpin sudah datang.." Anisa tampak senang saat melihat mobil Alpin memasuki gerbang rumahnya. dia berlari sambil menggendong elson.


Sasa mengintip di balik jendela. diam-diam mengambil foto mereka yang terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. lalu mengirim nya kepada Erick. dia tersenyum saat membayangkan saat nantu Anisa terkena marah.


"aku ambilkan minum dulu."


"mm.. kemarikan, biar aku yang gendong." Alpin merentangkan tangannya.


"ah.. baiklah."


Alpin terlihat persis seperti ayah muda. dia begitu lugai menggendong elson. Anisa tersenyum lalu segera kedapur untuk mengambil minum.


Sasa buru-buru keluar dari kamarnya. ia ingin sekali melihat wajah Alpin dari dekat bagaimana pun hatinya merasa rindu dengan wajah itu. apalagi sekarang Alpin terlihat begitu lebih tampan di banding dulu. Sasa mengintip di balik pintu.


"apa yang kau lakukan?" tegur Anisa.


"huh.. aku hanya mau lihat bagaimana seorang istri menghianati suaminya." Sasa mengatakan itu dengan maksud menyindir. tapi anisa tak peduli. dia tak seperti yang di tuduhkan Sasa.


"oh... kau mau bilang aku selingkuh?"


"kau memang jalang, selingkuh di rumah sendiri." Sasa melenggang pergi. Anisa tersenyum geli mendengarnya.


"lalu kau apa?" ucap anisa sambil masuk ke ruang tamu.


Anisa ingin tertawa rasanya. Sasa berkata seperti itu seorang gadis yang bersih saja. jelas dia sendiri tinggal di rumah selingkuhannya dan terang-terangan bermesraan di hadapan istrinya.


"aku pikir hanya bercanda saat bilang ingin bertemu denganku." Anisa meletakkan cangkir kopi itu. lalu mengambil Elson untuk digendong nya lagi.


"maksudmu?"


"aku tahu ini tidak pantas.. tapi.. aku merasa mulai jatuh cinta padamu." Alpin mengatakan nya dengan tenang. tatapannya matanya begitu lembut. Anisa tak percaya atas apa yang di dengar nya.


"Alpin.. kau..?"


"aku hanya mengutarakan isi hatiku. jangan terlalu di pikirkan."


Anisa menjadi canggung. Alpin begitu baik selama ini. dia selalu ada di saat Anisa sedang membutuhkan nya. apalagi Anisa mulai ingat saat dulu Alpin selalu saja melindungi nya.


Anisa menyentuh kalung liontin yang selalu di pakainya itu. ia ingat sekarang Alpin memberi nya padanya. Anisa tak pernah melepaskan nya karena sangat menyukai nya. Alpin melirik Anisa yang terus menyentuh kalung itu.


"kau terus memakainya, aku cukup senang." ujar Alpin.


suasana menjadi semakin bertambah canggung. Anisa bingung harus berkata apa lagi. dia tak ada maksud lain dengan terus memakainya.


"mmaaaa....aaaa.." Elson menarik rambut Anisa sambil terus berceloteh. membuat Anisa dan Alpin teralihkan olehnya.


"mmm... kau lucu sekali." Anisa menciumi pipi Elson.


Alpin ikut menggoda Elson. mereka tertawa bersama. persis seperti pasangan muda. tawa mereka terdengar oleh sasa yang saat tengah duduk di kursi belakang rumah.


"lihat saja, tawa kalian akan segera lenyap." ujarnya. Sasa merasa tak rela melihat Anisa begitu dekat dengan Alpin. Sasa memang egois, ia tak mau jika mantan nya itu kini lebih dekat dengan Anisa.


"Alpin, apa kau benar-benar sudah melupakanku?"


Sasa ingat saat Alpin memutuskan nya dulu. dia begitu marah sampai akan menamparnya. dulu sasa memang lebih memilih Erick, karena dia pikir Erick lebih pintar dan sedikit tampan meskipun memakai kacamata. sementara Alpin, rambutnya yang di belah tengah dan cara berpakaian yang kuno.


Sasa terus bertahan di samping Erick selama ini karena merasa nyaman dengan sikap Erick yang selalu memanjakan nya. dia tak pernah tahu jika sekarang akan bertemu lagi dengan Alpin. dia merasa ingin mengulang masa sekolah nya dulu, jika saja dia tahu akan menjadi sehebat ini seorang Alpin maka Sasa tak akan mengkhianati nya dan terus di samping nya.