
Anisa sungguh khawatir. sudah sebulan ini Rahma tak menghubungi nya dan sulit sekali untuk di hubungi. anisa terus menelpon Rahma dengan gusar. panggilannya tak ada yang dijawab satupun.
"ibu, ada apa denganmu? kenapa kau tak mengangkatnya," kini anisa benar-benar khawatir.
"aku harus melihat nya." Anisa mengambil jaketnya dan segera menggendong elson.
untung saja pagi ini Sasa tak ada di rumah karena ikut Erick ke kantor. jadi anisa bisa pergi tanpa harus beradu argumen dulu dengan gadis itu.
Dengan cepat anisa memesan taxi online. tak ada lagi yang dia inginkan sekarang. dia hanya ingin bertemu dengan Rahma ibunya. Erick tak mengijinkan Rahma tinggal di rumah. anisa sangat khawatir sekarang, Rahma sakit parah dan harus hidup sendiri. meskipun setiap bulan selalu di kirim uang dan keperluan lainnya tetap saja anisa merasa gagal menjadi orang anak. kenapa dia memilih Erick dari pada ibunya.
kini Anisa telah sampai. dia berdiri di depan rumah yang begitu kecil dan kumuh. dadanya berdebar saat mengingat Rahma sangat suka kebersihan dan hidup mewah. tapi sekarang, dia harus menempati tempat kotor dan bau seperti ini.
"ibu..?" anisa mengetuk pintu berulang kali tapi ada jawaban. dengan gusar ia membukanya.
"tidak di kunci." gumam nya.
dengan cepat Anisa masuk. ruangan itu sangat kotor dan bau. banyak sekali sampah di ruangan itu. Anisa masuk keruangan satunya lagi yang merupakan kamar Rahma.
"ibu...." jerit Anisa saat melihat tubuh rahma tergelak di lantai. wajahnya sangat pucat dan tubuhnya begitu dingin.
"bangun Bu. ku mohon.." Isak Anisa saat Rahma tak merespon panggilannya. Anisa memeluk tubuh rahma, tubuh itu sangat kurus hingga menyerupai tulang.
Anisa tak tahu harus apa. dia harus menghubungi seseorang. hanya ada Alpin di pikirannya sekarang.
dengan ragu dia menghubungi Alpin.
2 jam kemudian Alpin datang dengan beberapa orang rumah sakit. mereka dengan cepat membawa Rahma ke dalam ambulance dan memberikan pertolongan pertama sebelum sampai ke rumah sakit.
Anisa menangis di pelukan Alpin. Alpin ikut iba melihat nya. seburuk inikah nasib yang harus Anisa jalani. Alpin melirik Elson di gendongan anisa, bocah itu tersenyum. berceloteh tak jelas. Alpin mengelus kepala Elson.
"ibumu menangis seperti ini. kau begitu senang heuh.." ujarnya sambil mencium pipinya.
"tenang saja para perawat itu sudah menanganinya. ayo..kita segera kerumah sakit." Alpin memapah Anisa memasuki mobilnya.
_________________
Erick menghempaskan tubuhnya di sofa. hari ini begitu melelahkan karena banyak sekali masalah di kantor. Sasa masuk kekamar nya.
"Anisa, aku minta air." teriak Erick.
hening. Erick membuka matanya yang terpejam melihat sekitar. tak ada tanda-tanda Anisa atau pun Elson di rumah ini.
"kak, Anisa kayaknya kabur.." Sasa menerjuni tangga dengan tergesa. "di kamarnya tak ada."
Erick bangkit dan segera berteriak memanggil Anisa tapi ada jawaban sama sekali.
"ponselnya pun tak aktif." ujar Sasa saat mencoba menghubungi anisa.
"sial kemana dia pergi. Anisa kau berani membawa elson bersama mu." geram Erick murka.
sementara itu di rumah sakit. Anisa tengah duduk termenung di ruang tunggu. sudah hampir 1 jam Rahma di ruang ICU tapi belum ada satu pun perawat yang keluar. hatinya semakin gusar.
kini Elson tengah tertidur di ruangan Alpin. Alpin menjaganya seperti anak sendiri. dia memeluk Elson dengan hangat sampai bocah itu terlelap. setelah di rasa tidurnya nyenyak Alpin segera beranjak.
"istirahat lah. kau pasti lelah." Alpin membuka tutup botol air mineral kemasan itu lalu memberikan nya pada Anisa.
"aku tak haus." tolak Anisa. Alpin mengerti dengan apa yang di rasakan Anisa. dia duduk di samping Anisa, merangkul tubuhnya.
anisa tak menolak perlakuan Alpin. dia menyandarkan kepalanya di dada Alpin. terasa nyaman dan hangat membuat Anisa tanpa sadar memejamkan matanya.
Alpin mengelus pipi Anisa lembut. hatinya ikut berdenyut sakit melihat anisa yang seperti ini. Alpin berjanji dalam hatinya, akan selalu ada untuk menjaganya.