Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 60


Erick menghentikan langkahnya saat lagi-lagi ingat kalau anisa belum memberikannya izin untuk ikut campur dalam masalah sebelum dia siap kembali padanya. langkahnya kembali di putar, lebih untuk tidak menghampiri. tapi baru saja ingin melangkah pergi Alpin memanggil nya.


"mau kemana Erick?"


Erick terhenti lalu kembali berjalan ke arah Anisa dan Alpin duduk. matanya beradu dengan Anisa membuat nya menjadi bingung harus berkata apa.


"kau.. sejak kapan keluar?" akhirnya pertanyaan itu terlontar juga. lalu matanya melirik Alpin.


"aku tak sengaja bertemu dengan Anisa. jangan salah paham, aku tak seburuk yang kau pikirkan." timpal Alpin. Anisa tersenyum, dia pikir salah satu dari mereka akan menggunakan emosi seperti sebelumnya jika bertemu. tapi rupanya hari ini Erick maupun alpin terlihat lebih tenang.


"papa, aa agi..." Elson menarik dari Alpin meminta perhatian. Alpin segera menyuapi Elson kembali.


"Erick..." gumam Anisa. saat melihat tatapan Erick yang begitu sedih melihat kedekatan Elson dan Alpin.


seharusnya aku. bukan dia. rintih Erick. hatinya sakit saat putra nya lebih akrab dengan orang lain ketimbang dirinya.


meskipun seorang lelaki tetap saja dia tak bisa membendung air matanya. Erick mengerjapkan matanya berulang-ulang untuk menahan cairan yang akan menerobos ke luar. Anisa tahu itu, tapi dia sendiri tak tahu harus berbuat apa.


"om.. ini enak. mau.." Elson memberikan setusuk baso kecil yang di bakar ke arah Erick.


"oh.. iya." Erick menerimanya dengan tangan bergetar. perhatikan kecil dari Elson membuat nya hampir ke hilangan akal. hanya menawarinya sedikit makanan saja membuat hatinya senang. apalagi jika Elson memanggil papah, Erick pasti akan pinsan saking senangnya.


"i..ini.. enak." Erick menunduk dalam, menggigit baso itu dengan airmata yang kini menetes. untuk menghindari dari tatapan Anisa atau pun Alpin, Erick cepat berdiri.


"aku harus segera kembali." ucapnya tanpa melihat ke arah siapapun. dengan cepat dia kabur dari sana.


"Anisa, ikuti dia."


Alpin sadar siapa dirinya. melihat tatapan Anisa yang sekarang menyadari bahwa tak ada dirinya dalam hati Anisa.


"tidak. biarkan saja."


"eum.. nah.. elson mau makan lagi?" Alpin mengalihkan perhatian nya dengan kembali fokus pada Elson.


Erick masuk kedalam mobilnya. kepalanya di telungkup kan pada setir mobil. menangis sejadinya, menumpahkan semua yang ada di hati. dia tak pernah merasa sesakit ini, saat tahu Anisa dekat dengan Alpin pun Erick tak sesedih ini. hanya menetes airmata lalu semuanya kembali membaik. tapi hari ini, hatinya terasa di cabik-cabik. perih dan sakit, dadanya terasa begitu sesak. apalagi saat suara elson yang terus terngiang.


"papah..papah..papah..."


"aaaahh....." jerit Erick keras seraya menutup telinganya, dia tak mau mendengar kata itu. itu sangat menyakiti nya.


"ah.. elson, ini papah.. "


"Elson..."


bugh..bugh..


Erick memukul dadanya yang terasa semakin sesak. ternyata begini rasanya jika orang yang sangat di cintai sama sekali tak melihat nya. mungkin Elson memang belum mengerti tapi tetap saja hati seorang ayahnya terluka.


Erick merasa putus asa. melihat kedekatan mereka membuatnya emosi. dia melajukan mobilnya dengan sangat kencang, tak peduli dengan jalanan yang begitu padat. dia terus menyalip mobil-mobil itu dengan cepat. bahkan mendapat umpatan dari pengemudi lain karena mobilnya yang melaju ugal-ugalan.