
Anisa masih memikirkan apa yang di katakan Sasa saat Senin kemarin. kenapa anisa merasa kalau yang di katakan Sasa berkaitan dengan kejadian di masa kecilnya. bocah lelaki berkacamata, Anisa merasa tidak asing dengan sebutan itu. sebenarnya siapa Erick dan Sasa menjadi sebuah pertanyaan yang tak kunjung ada jawaban nya di kepala Anisa.
"seperti nya hari ini suami mu tidak datang lagi?"
"ah.. dokter Alpin." Sasa segera mengubah posisinya menjadi setengah duduk. 4 hari sudah dia terbaring di ranjang rumah sakit. selama itu Alpin selalu datang mengunjungi nya di saat makan siang tiba.
"apa kau mau jalan-jalan keluar?"
"tidak perlu, dokter sangat sibuk bukan? lagipula ini bukan tugasmu mengurusi ku."
"haha.. kau benar. aku hanya merasa kau mirip seseorang yang ku kenal, jadi aku ingin berteman denganmu. itu saja."
"umm...siapa orang itu?"
"dia gadis kecil yang ku temui di belakang gedung olahraga. keadaannya sangat kacau waktu itu, seperti baru saja melihat hantu.. haha.. dia gadis bodoh yang lemah." Anisa menatap alpin. entah kenapa dia merasa kalau cerita itu tidak asing.
"kenapa menatap ku seperti itu? apa aku lebih tampan dari suami mu?"
"ah..ah.. maaf." Anisa gelagapan. dia tak sadar telah menatap alpin dengan tanpa berkedip.
"haha... ya sudah. kau istirahat lah. aku harus kembali keruangan ku."
"ah..iya. terimakasih."
Alpin melihat Anisa melalui ujung matanya. matanya tertuju pada liontin berbandul bintang di leher Anisa. senyuman langsung terukir begitu melihatnya.
"gadis bodoh." gumamnya.
Anisa terdiam. kenapa dia merasa kalau ucapan Sasa dan Alpin selalu membuat jantungnya berdebar dan merasa kalau dia ada hubungannya dengan cerita itu. lalu kenapa di saat dia mencoba mengingat masa kecilnya kepalanya berdenyut sakit.
"ibu, bagaimana kondisinya sekarang. aku merindukan mu Bu." Anisa menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"kak, bagaimana gadis jalang itu sekarang?"
Sasa melingkar kan tangannya di leher Erick lalu duduk di pahanya.
"aku tidak peduli. aku hanya ingin bayinya."
"um.. kak, aku rasa gadis bodoh itu melupakan semuanya tentang kita di masa lalu. apa kita biarkan saja dia.. balas dendam pun jika dia tidak tahu kesalahannya di masa lalu hanya akan percuma."
Erick mencium pipi Sasa lalu memeluk pinggangnya. gadis ini selalu mengerti isi hatinya.
"dengar.. aku tidak peduli dengan dia yang lupa dengan ku di masa itu. aku hanya ingin membalas semua yang telah dia lakukan hingga merenggut nyawa kedua orangtuaku."
Sasa mengeratkan pelukannya. Erick begitu membenci keluarga Anisa. kebenciannya semakin bertambah banyak saat Sasa ikut terseret kedalamnya.
Sasa mengingat kembali kejadian saat di bangku SMP itu. waktu itu tahun ajaran pertama. dia sebagai murid baru merasa canggung dengan teman barunya. hanya Erick temannya saat itu karena sama-sama dari panti asuhan.
saat itu Erick sangat penakut. kacamatanya yang tebal membuat semua teman sekelas nya membully Erick. diantara mereka ada gadis yang begitu cantik dengan rambut gelombang nya. dia membuka baju Erick secara paksa lalu menumpahkan segelas jus jeruk.
Sasa mendorong gadis itu hingga terluka. kepalanya terbentur meja.
sejak saat itu Sasa menjadi sasaran empuk nya. setiap hari selalu di ganggu. tidak tahu keberanian dari mana Erick tiba-tiba melawan semuanya. mengacak rambut gadis itu dengan brutal. menggunting rok dan bajunya di depan kelas.
seminggu kemudian, tersebar foto Erick yang tanpa celana menampakan kemaluannya. semua mencemooh. tidak tahu siapa yang menyebar kan itu semua. tapi karena rasa bencinya kepada Anisa membuat Sasa mengatakan kalau pelakunya adalah anisa.
"ada apa? kenapa melamun?" Erick mengusap pipi Sasa.
"aku hanya berpikir.. apa Alpin mengingat semua yang kita lakukan dulu."
Erick menurun kan Sasa dari pangkuannya. dia menjadi kesal mendengar nama itu. nama yang sama sekali tak mau di dengar nya.