
Erick mencoba untuk merilekskan pikiran nya dengan mendengarkan musik yang mengalun pelan. senyuman terukir tatkala melihat Elson yang tertidur pulas di pangkuannya.
"aku mau pergi keluar." Sasa mencium pipi Erick setelah mendapat ijin.
Erick memperhatikan pakaian yang di kenakan Sasa. matanya tertuju pada pergelangan kaki Sasa yang terdapat tanda hitam kecil tepat di mata kaki. Erick merasa pernah melihat itu, tapi dimana dia lupa.
matanya terpejam mencoba mengingat. tapi tak berhasil. Erick menarik napas lalu menghembuskannya kasar.
"kenangan yang penuh teka-teki. salah paham.. apa maksud nya." gumam Erick mengingat ucapan Anisa tempo hari.
Erick memejamkan matanya karena merasa mengantuk. dia tertidur dengan posisi duduk di kursi, Elson masih di pangkuannya.
samar-samar Erick mendengar isakan seorang gadis. ia berjalan mengikuti arah suara yang di dengar nya. langkah nya terhenti di belakang gedung bangunan yang tinggi.
"kenapa menangis?" seorang anak lelaki berambut cokelat duduk bersila di hadapan gadis itu.
"lihat.. bajuku.." isaknya. gadis itu terlihat buruk. bajunya robek juga roknya. rambutnya pun acak2an.
"siapa yang berbuat ini pada mu?"
"Erick.. dia mengira aku memukuli Sasa. padahal..aku..aku.. hanya ingin mengambil foto yang Sasa rebut dari ku." Erick mengerutkan keningnya, mendengar namanya dan Sasa di sebut.
"Sasa, dia keterlaluan. jadi benar sasa sudah selingkuh dengan bocah tengik itu."
selingkuh? Erick semakin bingung dengan apa yang di dengar nya. dia ingin melangkah mendekati mereka tapi kakinya sulit di gerakan suaranya pun susah keluar.
"oek..oek.."
"hanya mimpi." desahnya. tapi apa maksud dari mimpinya. apa dua orang tadi adalah Alpin dan Anisa. Erick semakin tak mengerti. dia harus menyelidiki semuanya. kejadian di masa lalunya harus di cari kebenarannya. hanya satu orang yang bisa dia pintai tolong.
Reza, ketua kelas mereka dulu. tapi dimana dia dan apa dia masih bisa mengenalinya.
"album sekolah." begitu mengingat album sekolah itu Erick merasa lega. disana tertera nama dan alamat mereka tinggal.
"oek..oek.."
"yah, kemari pintar." Anisa mengambil Elson dengan cepat. " kenapa malah bengong, Elson menangis seperti ini."
"ah.." Erick seperti orang linglung. membuat Anisa geram.
"ada apa dengannya.. kemana tampang dinginnya." gumam Anisa lalu segera membawa elson untuk di berikan asi.
Erick masih penasaran dengan mimpinya. kenapa dia bermimpi seperti itu, apa karena ucapan anisa atau karena rasa penasarannya pada kejadian masalalunya.
Erick memperhatikan punggung Anisa yang duduk membelakangi. tubuh itu terlihat hangat. dia terlihat seperti seorang malaikat yang melindungi Elson dengan kasih sayang.
sikapnya yang begitu lembut dan keibuan saat mengasuh Elson membuat Erick merasa jantungnya berdebar lebih banyak.
tidak tahu sejak kapan dia mulai merasa ada titik hangat setiap kali melihat Anisa. merasa sudah keterlaluan telah merebut semuanya. perusahaan ayahnya, rumahnya bahkan sekarang putranya pun akan dia ambil. tapi setiap pikiran itu mulai bergelayut semakin bertambah banyak akan dengan cepat di robohkan Sasa.
Sasa selalu mengingat kannya akan kejadian pahit nya di masa lalu. Erick tak menyadari itu. dia hanya terlalu di butakan oleh Sasa yang dia anggap seperti Dewi penolonnya.
Sasa memang selalu ada di setiap kali erick membutuhkan sandaran. setiap kali erick dalam masalah Sasa lah yang selalu berdiri di depan.