
setiap hari Alpin menjenguk Anisa. dia sudah terlihat sehat sekarang. gadis itu kembali terlihat ceria karena kemarin ibunya datang. Rahma memutuskan untuk berobat jalan dan tinggal bersama kerabatnya. Anisa hanya berdoa semoga saat pulang nanti anaknya sehat, dia begitu merindukan nya saat ini.
"apa aku perlu mengantarkan mu?"
"baiklah. aku tak bisa menolak."
hari ini Anisa di perbolehkan pulang. seminggu di rumah sakit membuatnya semakin dekat dengan Alpin dan beberapa kisahnya yang dulu mulai terkuak sedikit demi sedikit. apalagi saat rahma datang, dia menceritakan kenapa Anisa melupakan semuanya. mengatakan siapa alisya.
Anisa bertekad akan membalas perlakuan Sasa padanya. menyadarkan Erick dan merebutnya kembali kepelukan nya.
anisa pun tahu siapa Alpin sekarang. mereka ternyata adalah teman dekat dulu. Alpin selalu melindungi nya dari Sasa dan alisya.
hanya satu yang dia masih pertanyakan. kenapa alisya yang merupakan saudara kembar nya begitu membenci dirinya dan begitu dekat dengan Sasa. hanya Sasa yang mengetahui itu.
"yah.. aku lelah kak. anak ini setiap hari menangis terus.. aku jadi kurang tidur." rengek Sasa. Erick mengambil alih bayi gembul itu. tangisnya selalu sulit di redakan. jika dia lelah baru berhenti menangis.
Anisa bergegas masuk saat mendengar tangisan bayi yang begitu kencang.
"apa yang terjadi.?"
Erick berjalan menjauh seperti tak mau anisa mengambil nya.
"biarkan aku menggendong nya sekali saja." pinta anisa. Erick semakin tak ingin memberikan bayi itu apalagi saat melihat Alpin berdiri di belakang Anisa.
"anisa adalah ibunya. bayi dan ibunya memiliki ikatan yang kuat." ucap Alpin
Erick berpikir dengan ragu menyerahkan bayi itu karena tak kunjung berhenti menangis. anisa langsung memeluknya erat, menciumi wajah mungil itu. seperti terkena sihir. bayi itu langsung terdiam. menatap anisa.
Sasa berdecih. lalu pergi.
"dia butuh ASI" bisiknya. wajah anisa memerah, Alpin mengatakan itu dengan santai nya mungkin karena dia seorang dokter. Erick yang melihat itu langsung menarik Anisa menuju kamar nya.
"kau boleh pulang." usir nya .
"Alpin, terimakasih. lain kali aku akan mentraktir mu makan." teriak anisa. Alpin mengangkat jempol nya lalu pergi.
anisa duduk di tepi ranjang. matanya melirik Erick yang berdiri di hadapannya. anisa malu jika harus memberikan asi di depan Erick.
"kenapa? bukankah dokter sok pintar pacarmu itu menyuruh memberikan asi pada anakku" Erick lebih terlihat cemburu di banding benci.
"tapi.." Anisa menutupi dadanya dengan tangannya. "apa kau tak bisa meninggalkan kami berdua."
"cih, dia anakku. untuk apa aku meninggalkan nya."
"tuan Erick Thohir, bayi ini juga anakku." ucap anisa telak. Erick menghela napas panjang
bruk..
pintu kamar itu terbanting dengan keras. Anisa langsung menyusui anaknya. guratan di wajah nya menunjukkan betapa dia bahagia saat ini. dia pikir Erick akan benar-benar melarang nya untuk menyentuh bayi ini.
"kak, kau biarkan dia menggendong elson.?" Sasa menghampiri Erick yang duduk di ruang tamu.
"bagaimana pun dia ibunya. aku tak mau Elson sakit karena terus menangis."
Sasa tak suka dengan keputusan Erick. dia sudah berharap kalau Anisa tak lagi menginjakan kakinya di rumah ini. rencana yang di susunya akan berantakan jika Anisa tetap disini.
rencana pernikahan nya selalu di tunda karena Erick belum juga menceraikan Anisa. Sasa bingung kenapa Erick menjadi plin-plan akhir-akhir ini. bahkan kadang Sasa mendapati Erick tengah melamun menatap foto pernikahan nya. Sasa tak mau jika Erick benar-benar jatuh cinta pada Anisa. maka usaha nya selama ini akan menjadi sia-sia.