Semesta Cinta

Semesta Cinta
bab 33


Anisa duduk dengan sedikit tak tenang saat matanya menangkap sesosok gadis yang begitu ia kenal. caffe ini begitu ramai sehingga membuat Anisa sedikit lebih lega saat meja di depannya ada yang menempati, membuat nya terhalang.


"Elson, duduk yang benar sayang." anisa membenarkan posisi Elson yang sedikit miring. bocah itu begitu tak bisa diam.


"papah.. econ au papah.." teriaknya cukup keras membuat anisa terpaksa membekap mulutnya, dan tersenyum ke pada orang yang melihat ke arah mereka.


"ssuuutt.. Pelan kan sedikit suaranya, sayang. papah nanti datang oke.." anisa bingung harus bagaimana. Elson ingin bertemu Alpin sekarang, jam segini Alpin pasti sibuk.


dengan susah payah anisa membujuk Elson.


"Anisa?" Sasa terkejut begitu melihat Anisa. dia tak suka itu.


"aku harus segera keluar, kalau tidak mereka pasti bertemu." Sasa buru-buru bangkit.


"mau kemana?"


Sasa menggigit bibir bawahnya. dia terlambat karena Erick kini sudah tiba. Sasa buru-buru menarik Erick supaya keluar dari cafe, sebelum Erick anisa dan juga Elson.


"tunggu..." Erick menahan tangan Sasa.


"econ.. au papah. tekaang uga..."


"Elson, papah lagi kerja. sekarang Elson makan dulu ya sayang.."


Erick melepaskan tangannya dari genggaman Sasa. dia pasti tak akan salah mengenali suara siapa yang baru saja dia dengar.


"cih..." rutuk Sasa begitu melihat Erick berjalan mendekati Anisa.


"Elson...."


anisa memutar kepalanya melihat siapa yang memanggil nama Elson. mata Anisa terbelalak begitu melihat Erick.


"Elson..putraku." Erick memperhatikan Elson dengan tak percaya. Bayi yang dulu kecil dan cengeng itu kini telah tumbuh besar. matanya bulat dan hidungnya mancung di tambah pipi yang tembem.


anisa menarik Elson kedalam pelukan nya. dia takut erick akan merebut elson darinya.


"dia putraku. Elson.. ayo kita pergi."


anisa berdiri dan segera pergi. tapi dengan cepat Erick merebut elson dari pelukan anisa.


"ipuh.." tangis Elson pecah, dia tak kenal erick membuatnya menangis karena takut.


"Erick kembalikan Elson padaku." Anisa meraih tangan Elson tapi Sasa menepisnya dan mendorong tubuh Anisa hingga terjerembab ke lantai.


semua pengunjung cafe hanya diam menyaksikan. mereka tak mau ikut campur dengan masalah orang lain.


"papah..econ au papah. epacin econ.." Elson. berontak dari gendongan Erick.


"ini papah. papah akan membawamu pulang." Erick mengelus rambut Elson. lalu melirik anisa yang masih tersungkur di lantai.


tanpa bicara lagi Erick meninggal kan Anisa yang meraung menjerit memanggil Elson.


Sasa tersenyum sinis kearah. dia merasa lega karena Erick hanya membawa elson dan tak peduli dengan Anisa.


beberapa pengunjung caffe baru menghampiri Anisa saat Erick dan Sasa tak lagi terlihat di sana.


"kau tak apa-apa?" tanya salah seorang dari mereka.


"anakku.. mereka membawa anakku." Isak Anisa. semua berasumsi pasti ini masalah keluarga, jadi tak ada lagi yang melontarkan pertanyaan. mereka tak mau ikut campur masalah keluarga orang lain.


"nyonya, kau terluka?" pelayan caffe membantu Anisa bangun, memapah nya kekursi untuk duduk. tangan Anisa lecet karena terkena lantai juga kursi.


Anisa tak peduli itu. dia memikirkan elson sekarang. tangisnya kembali pecah membuat orang-orang di sana menatap iba ke arahnya.


setelah cukup lama menangis, Anisa lalu ingat seseorang yang akan bisa membantu nya. dengan cepat Anisa menghubungi nya.


"cepat lah.." suara anisa bergetar menahan tangisnya.